Jumat, 26 Desember 2008

Selamat Tahun Baru


Tanpa terasa, hari-hari yang kita lalui akan segera sampai dipenghujung tahun lagi. Tentu banyak hal yang telah kita lakukan. Deretan cita-cita kecil yang sudah kita capai dengan penuh makna. Namun tak sedikit pula, kita menemukan tantangan yang kemudian kita harus ikhlas untuk menerima kegagalan. Apa pun kegagalan itu. Hikmah besar kita petik juga. Dengan itu pula kita semakin dewasa, kian matang menjalani hidup ini.

Setahun sudah kita menyongsong hari, yang kadang bagaikan robot hidup yang terus berpikir, bekerja tanpa lelah. Bangun pagi dan malamnya kita rebahkan diri dalam kelelahan itu. Sepertinya tidur pun begitu cepat berlalu. Tanpa mimpi, meski ada mimpi pun kita tak tahu lagi mimpi itu ketika sinar mentari menyeruak lewat jendela yang terbuka.

Dan kini tahun baru kembali mengetuk pintu rumah kita. Jendela hati kita yang boleh jadi sukar untuk menangis. Kamar tidur kita yang hampa. Waktu seakan begitu cepat berlalu.
Dan kita seketika sadar bila saldo usia yang diberikan Allah SWT semakin menipis.

Menjelang tahun berganti, mari kita ambil waktu untuk memotret kembali perjalanan hidup dalam kurun waktu 8.760 jam! Waktu selama 525.600 menit! Sejauhmana kita telah sukses untuk dunia dan akhirak kelak, karena kehidupan tak berhenti di sini. Merenungi apa saja yang telah kita perbuat selama ini. Semoga air mata cinta jatuh dan kita akan memungut hati yang lebih jernih, lebih peka melihat realitas.

Sahabatku semua, izinkan saya mengucapkan selamat tahun baru Hijriah, 1 Muharram 1430 H yang jatuh pada tanggal 29 Desember 2008. Semoga di tahun mendatang kita menjadi lebih baik. Lebih mampu memberikan makna untuk kehidupan di bumi, dan terlebih lagi untuk dunia selanjutnya.

Tahun Baru 1430 H juga akan bersamaan dengan Tahun 2009 M. Semoga dua momentum ini semakin menyadarkan kita bahwa masih banyak hal yang harus kita lakukan dengan lebih baik lagi.

Hanya kepada Allah SWT kita mohon ampunan dan pertolongan. Kehidupan kita dalam genggaman-Nya! Semoga tahun baru ini membawa kita kepada kondisi yang lebih baik. Untuk semua orang-orang, dan mereka tercinta dalam hidup kita.
Na Tinta, 28 Desember 2008, 16:36 WIB

Lupakan Saja


"Bila mata bertemu dengan mata maka akan timbul rasa kasih, bila hati bertemu hati maka akan timbul rasa sayang, tapi bila dahi bertemu dengan ujung sajadah, maka akan timbul kenikmatan bersama Ilahi Rabbi"

Aku hanya bisa diam tak berkata-kata. Tadi malam adalah malam Jum’at. Aku tak bisa pejamkan mata. Aku tak mengira semua itu terjadi. Mengapa tak bicara jujur? Aku tahu bila aku tak akan bisa meraih itu semua! Aku orang biasa. Aku sadari siapa diri ini. Aku tak bisa menyakinkan semua orang, bila aku mampu. Mengapa mesti tersenyum bila itu terpaksa?

Mataku terpejam lama. Tiba-tiba, aku sadar dari lamunan. Untuk apa aku harus memikirkan semua itu? Bukankan itu hak orang? Dimana letak hak diri ini untuk ”menggugat” semua itu? Tidak ada, sekali lagi itu bukan hak diriku.

Selama ini aku yang keliru. Aku salah menduga. Aku salah. Selamat!

Pukul 04.30 dini hari aku terjaga. Aku wudhu lalu shalat tahajjud dua rakaat. Kemudian aku ngaji sebentar sambil menunggu azan shubuh. Aku menangis!

Ya Rabb..maafkan aku!

Na Tinta, 26 Desember 2008 : 17.32 WIB

Rabu, 03 Desember 2008

3 Desember 2004 - 3 Desember 2008 : Selamat Ulang Tahun Untuk GeRAK Aceh


Hari ini, tanggal 3 Desember 2008. Hari ulang tahun GeRAK Aceh yang ke-empat. Hari bahagia untuk kami di GeRAK Aceh. Tapi hari ini tidak yang istimewa. Tiada kue dengan hiasan dan tepukan tangan. Sama juga seperti sebelumnya. Malah diantara kami yang tidak sadar bila hari ini adalah hari jadinya lembaga bernama Gerakan Anti Korupsi (GeRAK) Aceh!

Bagi diri ini, aku hanya menjadikan momentum ini sebagai saat-saat untuk refleksi. Sejauhmana gerakan ini telah memberikan manfaat untuk Aceh? Apakah kehadiran gerakan ini menjadi pendobrak percepatan pemberantasan korupsi atau hanya sekedar mengusung nama yang tak punya nyali dan strategi?

Dua pertanyaan ini adalah catatan pribadi yang ingin kujawab sendiri.

Selamat Ulang Tahun yang Ke-4...! Semoga gerakan ini tetap berada di rel yang tepat. Menjadi gerakan anti korupsi yang menjunjung tinggi kejujuran dan amanah dengan kepercayaan publik yang telah diperoleh selama ini.

Durian 7, 3 Desember 2008 : 18.14 WIB

Na Tinta

Senin, 01 Desember 2008

Kupersembahkan Cinta ini untuk Orang-Orang Terbaik

Aku hanya ingin menorehkan kebahagian dalam hidupku. Untuk orang-orang terbaik, yang telah memberikan cinta nan tulus untuk diri ini. Untuk ayah dan ibu! Aku tak akan mampu membalas semua cintamu! Ayah dan ibu adalah nafas dalam hidup.

Dan dirimu juga adalah bagian dalam hidupku.., Abby!

Hujan kembali membasahi tanah di depan kantor. Aku di sini mengerjakan tugas yang belum selesai.

Durian 07
1 Desember 2008 : 16.14 WIB

Na Tinta

Kamis, 27 November 2008

Aktivis Anti Korupsi Bukan Politisi Toge...!

Untuk apa gerakan anti korupsi itu? Popularitas atau hanya kesenangan semu yang tak bedanya dengan para politisi? Politik yang telah dijadikan hobi oleh para politisi di republik ini. Akibatnya, kebijakan dan prilaku mereka bagaikan mainan yang tak punya tanggung jawab moral dan rasa malu lagi.

Ahmad Yulden Erwin (Koordinator KoAK Lampung) menegakan bahwa:

Kita hanya sebagai korban, untuk itu kita harus sadar akan hak-hak. Jangan hanya menjadi orang baik yang hanya bisa bungkam tak bersuara. Tujuan dari gerakan anti korupsi itu bukan untuk menghapuskan, mempenjarakan dan mengurangkan. Tapi tujuannya cuma satu yaitu menciptakan kader yang anti korupsi dengan perlawanan suara.

Buat kita ini adalah jalan hidup, bukan pekerjaan apalagi proyek. Kesadaran adalah matahari, kesabaran adalah bumi dan perjuangan itu adalah perwujudan kata-kata. Keadilan tak pernah ada kecuali diperjuangkan untuk menjadi ada.

(Terima kasih Bang Erwin. Kata-katamu itu adalah bagian dari semangat baru untuk diriku. Terus berjuang membangun gerakan anti korupsi di Lampung..!)

Na Tinta, dini hari menjemput Jum'at pagi.


Selasa, 25 November 2008

Dua Sore : Diskusi Anti Korupsi dan Anggaran

Dua hari lau, yaitu Sabtu dan Minggu (22 dan 23 November 2004) tetap tak menjadi hari-hari membuat pikiran ini berhenti berfikir. Dua hari, menjelang sore, aku mengisi dua materi di tempat yang berbeda dengan isu yang sama : anti korupsi dan anggaran. Tetapi, dua-duanya harus ”kudatangi” dalam hujan, membuat aku sedikit kebasahan.

Hari Sabtu itu, pukul 16.10 WIB, setelah aku sholat Ashar, aku menuju PEMA Unsyiah. Di sana aku diminta untuk berbicara tentang Memberattas Korupsi Birokrasi di Aceh. Pada saat itu, pihak Kejaksaan Tinggi Provinsi NAD yang ternyata juga diundang, membatalkan kehadirannya. Entah kenapa, aku tak mengeti. Mungkin ketika dikonfirmasi oleh panitia sambil menyebutkan juga perwakilan GeRAK Aceh juga ikut, sehingga kemudian pihak Kejaksaan Tinggi Provinsi NAD menyatakan ketidakhadirannya. Semoga ini bukan karena aku hadir dalam forum itu.

Diskusi di Aula PEMA Unsyiah tersebut berlangsung seru. Dimulai dai pukul 16.30 dan berakhir sekitar pukul 18.10 WIB. Peserta juga cukup banyak, mencapai 60 orang. Menurutku ini luar biasa, karena rata-rata adalah ”anak baru” yang berasal dari kelembagaan di Unsyiah dan IAIN Ar-Raniry berjalan ”seru”. Berbagai pertanyaan bertubi-tubi muncul sekitar pemberantaan korupsi di Aceh dan eksistensi GeRAK Aceh selama ini. Bahkan juga terhadap gerakan advokasi yang telah dimainkan selama ini.

Jujur, hampir setahun aku tak bertemu dengan ”mahasiswa”. Mahasiswa yang layak disebut mahasiswa! Selama ini aku hanya banyak bertemu dengan para pemegang Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) belaka, yang ternyata mereka kebanyakan bukan mahasiswa. Tetapi lebih patut disebut sebagai borjuis-borjuis baru yang mengatasnamakan mahasiswa.

Akhirnya, diskusi yang sebagian juga dihadiri oleh mahasis itu berkahir. Aku pamit dan pulang dengan motor milik kantor dalam gerimis. Hanya lima menit saja, aku telah tiba di rumah kembali.

Dan esok sorenya, minggu. Hujan deran mengguyur basah. Aku berpikir bahwa saat itu sulit bagiku untuk berangkat ke Permata Hati, dekat markas Serambi Indonesia. Di sana aku diminta oleh IMPACT untuk menjadi narasumber tentang Konsep Dasar Anggaran yang dikaitkan dengan Buruh. Jam sudah menunjukkan pukul 15.45 WIB. Tapi hujan tak kunjung berhenti. Akhirnya aku tetap berangkat dengan menggunakan sandal jepit, bukan sepatu. Sepatu yang biasa kupakai kumasukkan dalam bagasi motor. Nanti aja kupakai di sana, pikirku saat itu.

Aku terus memacu motorku, mampir dulu ke SPBU Lamnyoung. ”Bang, lima belas ribu aja ya?”, kataku pada seorang petugas di sana. Yup, selesai. Tancap gas aku segera menuju ke Permata Hati.

Ternyata, hujan kali ini benar-benar ”lokal”! Uch..aku berhenti dan melepaskan mantel yang kugunakan dari rumah setiba pas di depan Hotel Hermes Palace. Tak lama kemudian, aku tiba di tempat kegiatan dengan selamat. Alhamdulillah. Seketika aku ketemu panitia penyelenggara yaitu TUCC. Lembaga ini memang fokus pada isu advokasi buruh, yang kali ini mengundang para serikat buruh.

Sebelum acara dimulai, aku sholat Ashar secara berjamaah di sana. Kebetulan di TUCC ini ada salah seorang adik lettingku di kampus dulu, yang juga pernah menjadi stafku di BEM FE ketika aku berkiprah di sana tahun 2003 lalu. Satri namanya. Aku dipersilahkan menjadi iman olehnya dan beberapa anggota TUCC dan peserta training itu. Sholat usai. Alhamdulillah.

Aku mengisi training mulai pukul 16.30 sampai 18.00 WIB. Aku dihadapkan pada suasana yang tidak biasa. Ini bicara bagaimana menghubungkan antara anggaran dan hak-hak buruh (serikat pekerja)! Alhamduilllah, akhirnya aku dapat menyuguhkan informasi dan diskusi yang menurutku tidak begitu buruk. Tatapan bola mata mereka yang rata-rata memang jauh di atas usiaku, fokus pada ku yang memang masih cukup ”belia” untuk tampil di depan mereka semua. Aku berharap mereka dapat menjadikan materi yang kusampaikan menjadi bahan baru bagi lanjutan advoaksi serikat buruh se Aceh di masa yang akan datang.

Tak terasa, pas azan Magrib, alhamdulillah aku sudah tiba di rumah. Ya..Rabb, jadikanlah dua diskusi di ujung sore ini sebagai wujud tanggung jawabku dan menjadi amal sholeh bagi ku. Ampuni aku bila ada keegoan. Karena aku ingin jadi bak kupu-kupu!

Na Tinta, 23 November 2008

Kamarku Nan Sepi : 21.35 WIB

Sabtu, 15 November 2008

206 : Grand Nanggroe Hotel

Jangan bunuh aku dengan kata-kata, janji tanpa makna kejujuran di hati. Aku ingin hidup dengan jiwa nan tulus. Apa adanya.

Malam ini, aku sendiri di kamar 206. Besok pagi hingga tanggal 19 November 2008 mendatang, GeRAK Aceh menyelenggarakan training Advokasi Kasus Korupsi dan Refleksi Gerakan Anti Korupsi di Aceh. Sebagian teman-teman dari daerah sudah tiba, sebagiannya lagi masih dalam perjalanan menuju Banda Aceh.

Sambilan kuperiksa kembali persiapan untuk training besok, beberapa sms darinya kuterima. Dan tiba-tiba handphone kehabisan baterai. Entah mengapa, tiba-tiba sukma ini membisikkan sesuatu, gelisah dan tanda tanya menyeruak dalam dinding naluri ini. Semoga aku yang salah dengan perasaan ku ini. Beberapa lama kemudian, aku kembali membalas smsnya...dan "tolong bangunkan aku bila dirimu terjaga jam 03.00 atau 04.00 dinihari nanti. Aku ingin berjumpa dengan Nya, melalui sujud-sujud panjang".

Senin hingga Jumat mendatang, aku memang mesti bergabung lagi dengan Pusat Studi Gender (PSG) Unsyiah untuk melakukan training di Dinas Kehutanan dan Perkebunan Provinsi NAD. Sebelumnya, dari Senin hingga Jumat kemarin, hal yang sama juga telah kami lakukan di Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan Provinsi NAD. Training ini dalam rangka Studi Pengarusutamaan Gender di Sektor Pertanian di Aceh. Aku diminta untuk terlibat dalam tim PSG Unsyiah, khusus bidang gender budgeting. Setelah dinas tersebut, masih ada dua dinas lagi yang harus kami lalui bersama. Tentu, aku harus berbagi waktu : antara tanggung jawab di lembaga dengan kerja-kerja pribadiku di PSG Unsyiah.

Karena itu pula, beban kerjaku membengkak. Antara kewajiban di kantor dengan kewajiban kerja-kerjaku di luar ”sana”.

Lelah, malam ini hatiku menangis, Abby!

Grand Nanggroe Hotel : 15 Nov 2008, 23:28 WIB

Jumat, 07 November 2008

Tantangan Semakin Bertubi-Tubi, Aku Mampu?

Terasa hari tiada tepi. Tugas terus menumpuk dalam agenda. Semuanya adalah kewajiban yang harus dituntaskan dengan baik. Selain tugas kantor, juga tugas lain, yang posisinya adalah kepercayaan ekternal, pihak luar, untuk aku dapat terlibat didalamnya. Dalam waktu dekat, semua itu semakin membuatku lelah. Aku jenuh, tetapi semua ini harus membuatku mampu. Meski kadang, aku hanya tidur 3 sampai empat jam dalam kurun 24 jam.

Tubuh terasa begitu lemah. Pikiran juga juga habis, keluh dan mengeluh. Lagi-lagi, aku mesti rebahkan diri untuk menerima semua ini dengan hati yang gembira. Karena inilah duniaku!

Aku berharap dirimu dapat memahami semua ini. Aku akui, bila seringkali aku disibukkan dengan semua tanggungjawab dan dunia kerja ku. Semoga, dalam ruang waktu yang tersisa, aku masih bisa berbuat, membantumu dengan baik. Aku berusaha begitu, meski..yach..dengan hasil yang tidak maksimal. Maafkan aku...!

Tadi malam, aku kehilangan harapan. Tiada mimpi dalam tidur 3,5 jam saja.

Na Tinta, 19.32 WIB

Minggu, 02 November 2008

Ke Mana?

Ke mana sesungguhnya aku berdiri, tegak dan tak tergoyahkan lagi?
Ke mana aku mesti rebahkan hati dalam luka?

Ke mana lilin-lilin kecil itu, aku tak mau tahu...!
Karena, saat ini, aku tak ingin hidup tanpa..."Tanpa Lilin"...!
Aku ingin restu-Mu ya Rabb...

Lorong Durian, 7
02 Nov. 2008 : 14. 36 WIB

Na Tinta

Jumat, 31 Oktober 2008

Pasrah

Sendiri. Hidup memang sepi, tetapi aku menikmati semua itu dengan cinta yang kupunya. Jiwa yang kupunya tentu mengeluh. Saban malam, hitungan menit bahkan jam sekalipun kian bergerak lamban. Aku terbangun..! Hampa tiada sesuatu yang dapat sejukkan hati, kecuali bersujud untuk-Mu ya Rabb!

Malam dan hari, Oktober segera berakhir. Aku kandas dalam banyak hal. Namun aku yakin aku masih punya harapan. Sekian harapan itu juga telah membuatkan tersenyum lega. Secuil prestasi kecil kuraih jua. Seperti embun pagi yang ingin saban hari menanti mentari, meski kemudian hilang karenanya. Suatu saat aku akan "hilang", setelah semuanya usai kuberikan, untuk..mu! Takdir-Mu ya Rabb akan menjawab semua misteri ini.

Aku yakin, mungkin itulah yang terbaik untuk seorang Abdullah Abdul Muthaleb.

Lorong Durian 7, 31 Oktober: 17.42 WIB


Na Tinta

Kamis, 30 Oktober 2008

TERUS “BERPUASA”TANPA RAMADHAN


Tanpa terasa, bulan suci Ramdhan telah pergi. Meninggalkan ummat Islam dengan kualitas rapor ketaqwaan yang berbeda. Sebab, tidak secara otomatis ketaqwaan telah teraih oleh setiap muslim yang berpuasa. Allah SWT berfirman, ”Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana yang telah diwajibkan kepada umat-umat sebelum kamu, semoga kamu bertaqwa” (Al -Baqarah : 183). Di ujung ayat ini Allah SWT menekankan bahwa tidak semua alumni Ramadhan akan menyandang gelar ketaqwaan itu. Namun, serendah apa pun rapor ketaqwaan yang kita peroleh, tantangan terbesar justeru pasca Ramadhan. Masihkah kita akan terus “berpuasa” tanpa Ramadhan? Melaksanakan seluruh nilai-nilai puasa biar pun tak lagi bersama Ramadhan?

Dua Keshalehan
Ramadhan adalah bulan latihan untuk membentuk kembali sosok muslim yang memiliki dua poros keshalehan. Dua keshalehan ini kemudian akan menentukan rapor ketaqwaan itu. Pertama, keshalehan secara vertikal kepada Allah SWT yang cenderung membangun keshalehan pribadi (individual). Implementasi wujud keshalehan ini melalui optimalisasi berbagai ibadah yang langsung dengan Rabbi, seperti sholat wajib dan terawih plus witir, zikir, membaca Al-Qur’an, tahajjud di tengah malam, hingga iktikaf di mesjid pada 10 Ramadhan terakhir.

Kedua, keshalehan secara horizontal yang membangun keshalehan sosial yang kita wujudkan dengan kepekaan, solidaritas dengan sesama manusia yang lain. Ibadah sosial ini juga melambung tinggi. Sedakah, meyantuni anak yatim, membantu kaum duafa hingga rentetan ibadah-ibadan sosial lainnya, menjadi trend yang marak kita temui di bulan suc. Berbagai lembaga (dari pemerintah hingga non pemerintah) pun berlomba-lomba berbuka puasa dengan anak yatim dan orang-orang miskin. Bahkan, momentum Ramadhan tidak terlepas dari lirikan para pemain politik untuk mengumpulan poin menjelang 2009. Ramadhan sebagai wahana keshalehan sosial ini menunjukkan betapa eratnya persaudaraan dalam kehidupan.

Dengan demikian, seorang muslim yang taat dalam Ramdhan akan mengakui dengan jujur bahwa bulan ini telah membentuk jiwa dan raganya yang baru. Dirinya berjuang menghindari seluruh hal yang dapat menyebabkan batal puasa sekaligus batalnya pahala dari puasa yang ia lakukan. Orang berpuasa ditantang kejujurannya dan mempunyai komitmen keimanan yang tinggi serta mematuhi rambu-rambu yang telah digariskan. Tiada pembangkangan atas aturan karena ia tidak rela cacatnya nilai puasa dalam pandangan Allah SWT. Ia ingin kembali fitrah pada 1 Syawal 1428 H.

“Puasa” Tanpa Ramadhan
Alkisah, Nasruddin Khoja sebagaimana dituliskan oleh Raja Juli Antoni (Kompas, 19 Oktober 2007) berlebaran ke rumah seorang tokoh sufi yang terkenal pada zamanya. Nasruddin bertanya, “Ramadhan telah usai dengan baik. Apa sebenarnya yang harus kulakukan sekarang?”. Sang sufi pun menjawab, “Ramadhan memang terlah berlalu, tetapi tetaplah berpuasa sampai Ramadhan berikutnya!”. Nasruddin pun bingung dengan perkataan sang sufi itu. Dengan seketika, sang sufi memberikan penjelasan bahwa “meskipun Ramadhan berakhir, ummat Islam tetap harus berpuasa tidak marah, mencuri, berbohong, bergungjing dan sifat tercela lainnya”.

Cerita singkat di atas sebenarnya sang sufi ingin mengajak ummat Islam agar terus “berpuasa” meskipun tanpa lagi Ramadhan. Ibarat anak sekolah, Ramadhan adalah bulan “training” sedangkan pelaksanaan dari apa yang dipelajari dalam masa training (latihan) akan diterapkan dalam 11 bulan selanjutnya. Apabila di bulan penerapan (implementasi) kita tidak serius atau gagal sama sekali maka sebenarnya puasa kita adalah puasa sekedar rutinitas belaka.

Bukankah Rasulullah mensinyalir ”begitu banyak orang yang berpuasa namun ia tidak mendapatkan pahala apa-apa, melainkan lapar dan dahaga saja?” Boleh jadi, bila kita berada dalam kategori Rasulullah tersebut, besar kemungkinan kita tidak mampu “berpuasa” lagi ketika Ramdahan telah usai.

Urgensi “Puasa” Untuk Aceh
Prestasi tertinggi dari puasa adalah ketaqwaan. Tinggi atau rendahya nilai ketaqwaan itu dapat dilihat apakah orang yang berpuasa akan terus “berpuasa” meskipun tanpa Ramadhan? Tanpa Ramadhan tetap menginternalisasikan atau mempertahankan nilai-nilai yang telah diajarkan? Apakah kejujuran dan kepedulian sesama manusia akan kita pertahankan? Apakah kerja keras dan solidaritas sosial akan tetap membumi? Sifat amanah, hidup dengan sederhana dan anti korupsi akan kita praktikkan meski tak lagi di bulan suci? Singkat kata, sanggupkan kita berjuang melanjutkan estafet keshalehan vertikal (habblumminallah) dan keshalehan sosial (habblumminannas) ketika hiruk-pikuk Ramadhan tak lagi menggema?

Alumni Ramadhan yang menjadi mayoritas penduduk Aceh memegang peranan penting dalam mengatasi problematikan Aceh hari ini. Bayangkan, begitu pentingnya semua pihak untuk menahan diri sehingga perdamaian dapat terus abadi. Perdamaian yang baru seumur jagung akan semakin kokoh apabila para alumni Ramadhan terus “berpuasa” menetralisir nafsu serakah dan mematikan niat merekayasa segala bentuk aktivitas yang dapat menggangu benih kedamaian ini. Apabila pelajaran dalam bulan suci mampu dilaksankana dengan baik maka akan membantu meredam segala niat untuk tidak sepakat Aceh terus damai. Akan mempercepat tercapainya proses reintegrasi yang sesungguhnya.

Ramadhan pula menjadi pelajaran berharga guna memperbaiki citra Aceh yang berjibun “umat Islam” tapi korup. Harapan kita semua, nilai kejujuran dan pelayanan yang santun di bulan Ramadhan tetap mampu dipertahankan oleh birokrasi di Aceh. Visi besar Irwandi-Nazar “terwujudnya perubahan yang fundamental di Aceh dalam segala sektor kehidupan masyarakat Aceh dan pemerintahan, yang menjunjung tinggi azas transparansi dan akuntabilitas bagi terbentuknya suatu pemerintahan Aceh yang bebas dari praktik korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan sehingga pada tahun 2015 Aceh akan tumbuh menjadi negeri yang makmur yang berkeadilan dan adil dalam kemakmuran” akan semakin mudah digapai apabila birokrasi pemerintahan tidak meninggalkan pelajaran Ramadhan dan terus “berpuasa”. Komitmen ini akan membangun perubahan fundamental, lahirnya transparansi dan akuntabillitas pemerintahan sebagai fondasi pengelolaan nanggroe yang anti korupsi.

Dalam upaya menanggulangi persoalan korupsi, dibutuhkan para alumni Ramadhan yang terus “berpuasa”. Maraknya kecurangan dalam pemerintahan dan lingkungan masyarakat menandakan prilaku yang tidak sehat, tidak jujur dan tidak amanah. Akankah dengan bekal satu bulan Ramadhan, kondisi ini akan dapat diperbaiki secara berlahan? Sebagai seorang muslim kita harus banyak instrospeksi diri. Terpaan tingginya korupsi dengan komposisi penganut agama Islam yang mayoritas, diperkuat lagi dengan pemberlakuan syariat Islam, semestinya menjadi modal religus-sosial dalam melawan kejahatan korupsi itu.

Lebih jauh dari itu, saya mengajak pembaca untuk melihat Aceh lebih dalam lagi. Bukankan konflik berkepanjangan telah menimbulkan gejolak ekonomi dan kesejahteraan bagi masyarakat sehingga angka kemiskinan melambung tinggi di Aceh? Kemiskinan juga sebagai akibat dari manajemen pengelolaan anggaran yang sarat penyimpangan dan korupsi. Jumlah penduduk Aceh sebanyak 4.031.589 jiwa sedangkan persentase penduduk miskin mencapai 1.927.099 jiwa (49,85%) dari total penduduk Aceh tersebut. (Lihat: RPJM Aceh 2007-20012, hal. 24) Jumlah desa tertinggal di Aceh mencapai 3.155 desa dari total desa 6.219 di Aceh. Artinya, sebesar 50,73% desa adalah tertinggal. (Serambi Indonesia, 24/4/2007). Mereka menjadi kantong-kantong kemiskinan di tengah negeri endatu yang kebanjiran uang.

Orang-orang yang terus ”berpuasa”, pasti akan menerapkan keshalehan sosial, empati yang tinggi dengan segenap sumber daya yang ia miliki dalam melihat problematika kemiskinan dan keterbelakangan yang menyelimuti Aceh. Bila ini mampu kita lakukan, membaca realitas sosial dengan keshalehan sosial, maka kita telah berada dalam koridor yang tepat sebagai alumni yang sukses di bulan Ramdahan kemarin. Alumi yang terus ”berpuasa” akan mampu mentranformasikan pelajaran ibadah puasa untuk menjawab problematika kehidupan di Aceh.

Inilah tanggung jawab seorang muslim untuk membuktikan bila Islam bukan agama yang hanya mementingkan keshalehan vertikal saja, melainkan pula menekankan pentingnya keshalehan sosial. Keshalehan ini untuk memperbaiki kondisi ummat dan bangsa, khususnya Aceh yang berkutat dengan persoalan-persoalan besar yang tak kunjung usai. Oleh sebab itu, mari kita tetap ”berpuasa” sehingga kita mampu membuktikan bahwa Islam, agama yang haq ini, tidak hanya diposisikan sebagai yang bergerak di ruang privat (pribadi) saja tetapi dapat memainkan peran yang lebih besar dalam ruang publik.

Agar ketaqwaan yang kita raih membekas dalam kehidupan, sekecil apa pun ketaqwan itu, mari kita terus ”berpuasa”. Tetap ”berpuasa” menjaga kejujuran, menjaga amanah, tidak khianat, mempertahankan kesederhaaan, dan meneguhkan sikap anti korupsi dalam kehidupan 11 bulan mendatang. Alumni Ramadhan ditantang membuktikan bila agama ini juga mampu mengobati luka-luka kehidupan yang belum terpecahkan dengan baik.

Terus ”berpuasa” tanpa Ramadhan adalah modal yang tak terkira untuk menyelamatkan Aceh. Membangun kembali Serambi Mekkah dalam bingkai Islam yang tak sekadar formalitas. Jangan sampai, fitrah itu (kembali bersih lahir dan batin) hanya kita nikmati di hari-hari lebaran Idul Fitri saja. Semoga Allah SWT memberikan kekuatan agar kita terus dan tetap ”berpuasa” sekaligus dipertemukan kembali dengan Ramadhan tahun mendatang. Amin.


Abdullah Abdul Muthaleb
Alumni Fakultas Ekonomi Unsyiah,
Kini Sebagai Manager Program Monitoring Parlemen Gerakan Anti Korupsi (GeRAK) Aceh

Jumat, 24 Oktober 2008

Hari-Hari Melelahkan...

Aku tak merasa ada duka di sini. Aku tak melihat ada gelisah dalam jiwaku. Semuanya berjalan seperti air mengalir di ujung sungai. Deras, tapi kadang kala juga tersendat, tertahan karena tersandung batu-batu gunung yan gelisah. Boleh jadoi, ia juga merasakan apa yang kini menghantam sukma ini.

Hari-hari ini memang melelahkan.Tetapi..aku masih di sini! Di bumi untuk selalu menatap mentari pagi bersama lirikan angin, dan dirimu.

Kamis, 09 Oktober 2008

Dari "Ungkapan" Itu, Menunggu Keseriusan

Lama rasanya aku tak menulis lagi di sini. Karena memang aku begitu lelah sekali. Lebaran kemarin hanya sebentar di kampung halaman. Lalu, tak sampai 4 hari, aku kembali larut dalam aktivitasku. Dalam waktu yang terus berlalu, aku telah ungkapkan segalanya. Inilah maksud semua ini. Beranikan diri sebutkan kata : "tanggung jawab". Dan deretan kata demi kata lain yang semua itu sebagia bukti aku serius. Aku tak bisa sebutkan deretan itu. Aku hanya menunggu keseriusan itu dalam kata pasti. Yach, aku benar-benar menunggu!


Darussalam, 9 Oktober 2008 : 16.58 wib

Na Tinta

Kamis, 11 September 2008

Berfikirlah, Temanku..


Mengapa? Karena kehidupan itu dimulai dari proses berpikir! Dengan berfikir, kita akan terus membaca. Ingatlah firman Allah SWT : Bacalah dengan menyembut nama Tuhan-mu! Bukankah itu sebuah perintah yang menunjukkan betapapentingnya berfikir yang dilandasi dengan membaca. Tak sekedar buku-buku uraikan kata-kata, melainkan bacalah segala fenomena alam sekitarnya. Boleh jadi itubernama bencana alam, dunia politik, kehidupan sosial atau apa pun namanya! Bacalah ayat-ayat Tuhan-mu meski hanya beberapa ayat menjelang tidurmu. Karena itulah pembersih hati yang saban hari tergores dengan prasangka dandosa-dosa.Ibarat cermin yang terkena debu, begitu pula hati kita dan prilaku yang selalu melewati hari demi hari. Tanpa berusaha berdoa mengharapampunan setiap waktu, maka "debu-debu" itu akan sulit terhapuskan lagi. Bukankah nyawa kita tak berada di tangan kita? Melainkan dalam genggaman Allah SWT?
Banda Aceh, 11 September 2008 : 14.38 WIB

Minggu, 07 September 2008

Keumala....!

Keumala, Keumala
Siapakah kiranya dirimu?
Yang sanggup menentukan rasa hati
Tidakkah engkau mengerti?
Memang cintalah yang telah melanda diri
Jangan kausangsikan itu
Dengan bersembunyi di balik kelambu
Cinta akan terus menembus
Walau seakan kau mampu bertumpu

(Dikutip dari Novel PEREMPUAN KEUMALA, Sebuah Epos Untuk Nanggroe, hal 52-53 karya Endang Moerdopo)

Banda Aceh, 8 Agustus 2008 : 11.14 WIB

Rabu, 03 September 2008

Kemunafikan Dalam Tubuhku

Bulan suci ini tiba. Mengetuk kebekuan jiwaku yang selama ini sulit berlari dari berbagai warna kehidupan. Aku sadari, bila aku masih "munafik". Aku belum mampu, benar-benar berkuasa, untuk membebaskan diri ini dari segala prilaku kemunafikan itu. Aku tak dapat bersembunyi dari itu semua. Kadang aku menangis meminta ampunan dosa pada-Mu, tapi di lain waktu aku kembali bersetubuh dengan dosa dan dosa! Aku malu pada Engkau.

Karena itu pula, aku ingin dengan Ramadhan tahun ini, aku kembali berjuang untuk mengikis kemunafikan yang ada. Meskipun karatan yang mampu kusingkirkan masih jauh dari harapanku. Aku hanya mampu berusaha, berdoa dan bertaqwakal atas jalan-jalan yang telah kulalui. Saban waktu menghantam naluri kemunafikan itu. Kepada-Mu yang Rabb..diri ini berserah diri!

Biarlah aku sendiri yang "mendeklarasikan diri ini bila aku belum bisa disebut sebagai pribadi yang bebas dari kemunafikan. Ya Allah, bantu aku untuk sembuhkan penyakit jiwa ini. Karena aku sadar, kemunafikan adalah teroris hati yang menjadi topeng, membuat kebohongan, kepalsuan, dusta-dusta, yang pada akhirnya mengumpulkan dosa-dosa, sebagai beban yang memeberatkanku di akhirat kelak. Aku mohon bimbingan-Mu ya Rabb. Bersama Ramadhan aku mencoba merintis diri, mengobati hati, jiwa dan raga dari kemelut kemunafikan ini.

Banda Aceh, 3 September 2008 : 15.58 WIB

Jumat, 22 Agustus 2008

Dulu dan Kini : Aku Tak Berbeda

Sebulan terakhir, aku sepertinya terjebak dengan rutinitas yang sulit aku keluar dari kukungan itu. Tiada kreativitas baru yang kulakukan. Tugas kantor yang saban hari menguji nyaliku. Bahkan, tugas lain sempat kuboyong ke Medan sambil mengikuti sebuah workhop monitoring parlemen di sana, pekan lalu. Tapi alhamdulillah aku dengan dukungan teman-teman yang lain mampu menuntaskan semua ini dengan hasil yang tidak mengecewakan. Meski aku kadang harus menghela nafas panjang!

Dan tak lama lagi, bulan suci akan tiba. Semoga di bulan suci tersebut aku menjadi lebih baik. Bantu aku ya Rabb..


Banda Aceh, 22 Agustus 2008 : 17.25 WIB


Minggu, 10 Agustus 2008

Di Ujung Sajadah Tua..!


Aku masih di sini, berjibaku dengan segala masalah. Segala kekakuan, keegoan dan entah apa lagi aku harus menyebutnya. Sering pula, kepenatan yang muncul, meradang dalam long term memory-ku! Serba salah jadinya. Aku berjalan tak seperti kesanggupanku tempo doloe. Aku samakin kaku? Entahlah, aku tak bisa memberimu jawaban lagi. Aku tak tahu harus jawab apa! Aku tak mengerti bagaimana pula agar mampu membaca semua ini. Semua keadaan yang datang dan menghampiriku tiba-tiba. Kemudian yang hadir hanyalah air mata. Saban malam, di ujung sajadah tua yang tak bisa bicara. Hanya aku yang selalu mengajaknya agar memahami suara kepedihan sukma ini. Tetapi, hanya Engkau yang tahu ya Rabb..kegelisahan hatiku, tentang segalanya, termasuk dirinya..!


Banda Aceh, 10 Agustus 2008 : 16.12 WIB


Na Tinta

Jumat, 08 Agustus 2008

Jika Waktu Masih Tersisa


Jika waktu masih tersisa
aku ingin ucapkan selamat kepada terjangan ombak di pantai
karena ia tak pernah putus asa mengikis batu karang

Jika waktu itu mau tahu
aku masih butuh kehadirannya
mempersiapkan segal kekuatan merajut hari esok merebut senyumannya

Waktu, aku menegejar bayangan tak bermakna
sia-sia terbuang percuma
Andai waktu masih ada
akan kutanya mengapa dunia begini jadinya
berjalan tanpa mengingat hari kemudian
ketika semua mahluk dibangkitkan

Masih tersisa
bukan waktu melainkan bekas kepedihan masa lalu
tak cukup waktu mengobatinya
sebab waktu tak lagi ada
merestui perjalanan hidup ini

(Darussalam, 3 September 2002)


Banda Aceh, 8 Agustus 2008 : 18.01 WB



Kamis, 31 Juli 2008

Aku Bahagia...Dirimu Sukses!

Aku bahagia, ketika senyum manismu terasa dalam pesan yang dirimu sampaikan untuk diriku. Pesan singkat yang menggambarkan ada detak kebahagiaan dalam deru nafasmu. Dan kali ini, prestasimu..alhamdulillah : luar biasa!

Usaha dan doa adalah pilar yang tak boleh kita lupakan. Dan aku sendiri hanya mampu membantumu dengan doa dalam sujud panjangku. Allah SWT yang sepenuhnya telah membantumu. Bersyukurlah kepada-Nya.

Aku hanya dapat berkata, selamat! Semoga ke depan prestasimu jauh lebih baik. Amin

Lamgugob, 31 Juli 2008 : 17.09 WIB

Dari : Na Tinta

Sabtu, 26 Juli 2008

Mestikah..


Mestikah aku harus terus terpaku?
berdiri dan berlari kecil
menghindari batu-batu cadas di jalanan
berlindung dari kata-kata di luar sana
bicarakan antara fakta dan tiada?

Tatap mataku dalam-dalam,
berikan aku sebuah samangat baru
menyeruak dalam bara dan tantangan itu
mengalahkan serbuan ”teror” tanpa tanda pengenal
karena aku yakin untuk hidup denganmu...!

Mestikah aku harus terus terpaku, diam membisu
berikan aku cahaya, mu
aku yakin, kita mampu menunjukkan pada dunia
inilah kita, bukan kata-kata

Without Wax..

Banda Aceh, 27 Juni 2008 : 13.40 WIB

Jumat, 25 Juli 2008

Cinta Sejati Itu...!

Cinta sejati adalah wujud pengabdian yang menempatkan sebuah cinta nan tulus, bukan hanya karena mampu menyayangi orang yang sempurna. Tetapi justeru lebih mampu menyayangi orang yang tak sempurna dengan cara yang lebih sempurna dengan jiwa setia! Dengan cinta itu, aku ingin bersamamu sepanjang hidupku.

Cinta sejati memang sulit dipahami dengan kata, tetapi ia hanya mampu diresapi dengan sukma yang bening. Karena di sanalah cinta sejati bersemi indah. Aku sadari, semua ini butuh waktu, dan aku akan menunggu hingga kutemukan cinta itu mendekap erat cintaku!

Banda Aceh, 27 Juni 2008 : 13.35 WIB

Kamis, 24 Juli 2008

WAKIL RAKYAT DAN KURSI 2009

Tulisan ini Telah Dipublikasikan di www.acehinstitute.org

WAKIL RAKYAT DAN KURSI 2009
(Ajang Pembuktian Idealisme Aktivis Muda)

Oleh:
Abdullah Abdul Muthaleb
Alumni Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala
Wakil rakyat, dua kata yang tak saja populer melainkan juga acapkali kontroversial. Populer karena kursi “empuk” dan kontroversial karena tingkah laku yang sering memprihatinkan. Namun, wakil rakyat tak selamanya jadi wakil rakyat. Setelah menjadi wakil rakyat, mereka akan kembali menjadi rakyat biasa. Wakil rakyat 2004-2009 pun bakal segera pensiun. Puaskah kita dengan kinerja mereka dan haruskah masa kerja tersisa sebagai upaya mengoptimalkan kinerja? Atau ramai-ramai menebalkan pundi untuk menghadapi Pemilu 2009? Satu per satu menjadi ”kutu loncat” politik? Sidang-sidang resmi di gedung dewan semakin banyak yang tertunda. Anggota dewan semakin malas hadiri sidang karena lebih fokus untuk tetap mendapatkan kursi 2009?

Lebih menarik lagi ketika aroma “pahlawan-pahlawan kesiangan” semakin bertaburan dalam pentas politik Aceh. Kutu loncat merebak. Metamarfosis diri, muka lama tapi topeng baru. Tulisan ini adalah keprihatian dari keawaman saya atas fenomena mengejar kursi 2009 yang cenderung mengabaikan tugas yang masih tersisa. Mengabaikan suara hati dan rasa malu. Perdebatan atau lebih tepat disebut debat kusir tentang fenomena Partai Nasional dan Partai Lokal pun semakin kehilangan esensialnya. Atau juga kegelisahan hati atas ulah politikus (busuk) yang membosankan. Lalu, dimana dan kemana aktivis muda berkiprah? Cukup sudah, rakyat juga dapat berkata begitu!

Dapat Kursi, Lupa Rakyat
Masih ingat dengan guyonan Almarhum Bagio? Sang pelawak senior itu pernah bicara tentang kursi istimewa yang apabila orang duduk di atasnya akan lupa diri. Kursinya empuk dan nyaman itu bukan saja menjadi lupa berdiri tetapi juga sampai tidur pulas. Akibatnya, banyak tugas-tugas tak terselesaikan. Itulah kursinya wakil rakyat. Karena begitu empuk membuat mereka lupa terdapat amanah rakyat yang harus diperjuangkan selama menduduki kursi itu. Kursi itu tentu begitu menggiurkan. Di level nasional, untuk tahun 2007 saja, guna mengisi kantong wakil rakyat 550 anggota DPR RI, uang negara yang harus dikeluarkan mencapai 1,85 triliun. Angka ini tak sebanding dengan alokasi anggaran kemiskinan yang hanya Rp 51 triliun untuk 39,8 juta jiwa! (Arfanda Siregar, Harian Waspada). Bagaimana dengan kursi-kursi di level provinsi dan kabupaten/kota di Aceh?

Saya yakin, angka yang menggiurkan juga akan didapati di Aceh ketika dibandingkan dengan alokasi anggaran untuk perut rakyat. Tidak hanya dengan uang tetap juga fasilitas yang diterima lebih dari cukup. Ada yang berlomba-lomba menaikkan besaran tunjangan sewa rumah hingga prilaku politik lainnya cenderung menguras uang negara. Pengesahan APBA/APBK tak pernah tepat waktu dan terus terlambat, tak jadi soal dan tak merasa malu kepada rakyat. Dan itu terus terjadi setiap tahun anggaran. Penyimpangan anggaran semakin tak terpantau. Korupsi tumbuh subur akibat penganggaran dan monitoring yang bermasalah. Pasti selalu ada alasan untuk berkilah tentang itu semua.

Ada juga wakil rakyat yang bermesum ria, pesta shabu-shabu, bertikai di gedung dewan hingga tingkah yang tidak terhormat lainnya. Dan dituding pula dari dalam, ada yang menjadi ”makelar anggaran”. Kata teman saya, ”Abdul jangan heran, karena boleh jadi mereka juga mewakili ”rakyat” yang suka dengan apa yang ia lakukan itu”. Tetapi, sebenarnya persoalannya bukan sekedar soal ”pendapatan” dan prilaku aneh semata melainkan bagaimana pertanggungjawab wakil rakyat kepada yang telah mengamanahkan kursi itu sehingga dapat diduduki hingga 5 tahun lamanya? Bagaimana dengan krisis kepercayaan rakyat? Wajar saja bila rakyat kemudian kecewa dan berkata ternyata rezim boleh terus berganti, namun muka-muka politik(us) tak pernah berubah! Partai boleh ganti bendera, tabiat politik(us) tak jauh berbeda! Bila politikus terus berprilaku seperti tikus, sampai kapan rakyat akan terkorbankan?

Menjelang kursi 2009, ada wakil rakyat yang siap-siap naik ”ring” lagi. ”Hijrah” ke partai lain dan ada pula yang buat partai sendiri meski kursi-nya di parlemen setahun lagi. Ini memang demokrasi, semua orang punya hak untuk bersikap dalam politik dan memilih kendaraan politiknya. Tetapi yang memprihatinkan adalah ketika kursi yang didudukinya masih dibayar oleh rakyat, tetapi perhatiannya tidak lagi kepada yang membayar kursi, maka itu adalah prilaku keserakahan politik. Tak lagi menunaikan kewajiban-kewajibannya sebagai wakil rakyat, meski masih menerima gaji dan fasilitas dari rakyat. Bahkan ada yang ”bersikeras” dengan partai untuk mempertahankan kursi itu. Gugat-menggugat ke pengadilan kemudian muncul. Aneh tetapi inilah dunia politik yang kehilangan nurani dan rasa malu.

Audit ”Kursi” Rakyat
Rakyat sadar betul dengan fungsi-fungsi parlemen yaitu fungsi legislasi, penganggaran (budgeting) dan monitoring (pengawasan). Apakah ketiga fungsi ini sudah berjalan dengan baik? Tidak mudah untuk menjawabnya dan tulisan ini tidak bergerak atas pertanyaan itu. Sekilas, tampilan kursi 2004-2009 lebih baik dari wajah kursi 1999-2004! Masih ada wakil rakyat yang cukup serius dan berjuang menjaga amanah rakyat. Rakyatlah yang bisa melihat siapa saja mereka. Tetapi, pada umumnya kursi tahun 2004-2009 masih bermerek ”kursi kekuasaan”. Sebelum periode 2004-2009 berakhir, maka rakyat berhak bersuara lagi. Rakyat jangan hanya terjebak dengan kinerja eksekutif tetapi juga harus mengarahkan ”senter” ke parlemen. Konon lagi bagi mereka terlibat aktif, menjadi ”kutu loncat” politik, untuk berjuang merebut kursi 2009. Untuk menjawab hal ini, ada dua tanggungjawab moral para pengguna kursi empuk kepada publik.

Pertama, pertanggungjawab kinerja. Rakyat harus menangih kembali janji-janji masa kampanye Pemilu 2004. Bagi mereka yang menandatangi kontrak politik, tagih kembali komiten dalam kontrak politiknya. Sudahkah dijalankan dengan sempurna? Konon lagi, Pemilu 2004 yang menggunakan daftar terbuka, maka semakin ”terbuka” pula peluang rakyat untuk menagih janji mereka selama di parlemen. Bukankah pada Pemilu 2004 Anda tak sekedar pilih logo partai, tetapi sudah secara lebih khusus menusuk gambar wakil rakyat yang Anda percaya dari partai tersebut? Karena itu, secara pro aktif para wakil rakyat harus mempertanggungjawabkan kepada rakyat di Daerah Pemilihan-nya (DP) atas kiprahnya di parlemen.

Kedua, pertanggungjawaban kekayaan. Sudah menjadi rahasia umum apabila para anggota dewan banyak mengeluarkan anggaran untuk mendapatkan kursi. Kata mereka ongkos politik! Meski kadang terjerambah dalam politik uang (menggunakan uang untuk tujuan politik) atau uang politik (menggunakan uang atau fasilitas negara untuk kepentingan politik). Politik memang membutuhkan biaya, yaitu biaya politik. Namun rakyat ingin agar biaya-biaya itu dalam kerangka wajar, bukan perdagangan politik-ekonomi yang penuh intrik dan koruptif. Karena begitu besar biaya yang dikeluarkan (mulai dari puluhan juta hingga milyaran rupiah) maka sudah sepatutnya rakyat menerepong kembali kekayaan wakil rakyat setelah 5 tahun menduduki kursi empuk.

Elegan sekali bila ada wakil rakyat di Aceh kemudian (konon lagi apabila partai menginisiasinya) mengumumkan kekayaan mereka setelah diaudit oleh auditor independen. Kemudian rakyat diberikan hak untuk ”bertanya”. Inilah tanggungjawab moral yang luar biasa dari wakil rakyat. Bahkan yang nyaris dilupakan publik adalah persoalan pertanggungjawaban ”kewajiban” mengembalikan uang akibat pemberlakuan PP Nomor 37 tahun 2006! Dimana ada uang rakyat yang telah diambil yang harus dikembalikan ke kas negara dengan batas waktu berakhirnya masa parlemen periode 2004-2009. Ditengarai, masih begitu banyak wakil rakyat di Aceh (baik level Provinsi maupun Kabupaten/Kota) yang belum mengembalikan uang itu. Partai mana yang akan menjadi pelopor di Aceh? Rakyat menunggu nyali dari gedung wakil rakyat, termasuk menuntaskan seluruh rekomendasi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI yang berkenaan langsung dengan parlemen, bila itu masih ada!

Menuju Kursi 2009
Kursi 2009 akan semakin menggiurkan. Aceh mengelola banyak uang dengan dinamika politik yang cukup kompetitif. Ada partai lokal dengan aneka platform-nya. Hal demikian tak otomatis akan menarik bagi rakyat. Karena itu, 2009 bukan sekedar pertarungan politik tetapi juga pertempuran antara kepentingan merebut kursi dan harapan rakyat melihat Aceh yang lebih baik! Oleh sebab itu, saya ingin menitip pesan kepada para pihak yang terlibat dengan perebutan kursi tahun 2009.

Pertama, perbaikilah mekanisme rekrutmen kandidat wakil rakyat yang akan dijagokan partai. Lakukan uji publik secara transparan dan akuntabel. Bukan hanya sekedar pasang spanduk “lowongan kerja” bagi masyarakat yang ingin mencalonkan diri menjadi anggota parlemen! Jangan lagi bohongi rakyat dengan kontrak politik yang telah menjadi trend dagelan politik! Berikan kesempatan awal kepada rakyat untuk memberikan penilaian atas kandidat yang diusung partai. Atau biarkan rakyat juga mengajukan calon wakilnya kepada partai. Jadilah mereka wakil rakyat sejati, bukan seperti hari ini yang mayoritas wakil rakyat tanpa rakyat yang sesunguhnya!

Kedua, pastikanlah bahwa calon wakil rakyat benar-benar memiliki kapasistas dan trackrecord yang baik. Mempunyai moralitas, kecakapan untuk menjalankan fungsi dewan sehingga tidak lagi banjir studi banding dewan dengan dalih ”peningkatan kapasitas!”. Tidak lagi bermental korup dan ”bermaksiat” dalam menyusun anggaran dan perumusan legislasi yang tak menguntungkan rakyat. Tetapi persoalan integritas menjadi begitu klise dibicarakan. Program kalangan NGO/LSM dengan tracking kandidat calon wakil rakyat misanya, dengan arah penjajakan calon anggota parleman yang ”busuk”, menurut saya sudah kehilangan makna. Mengapa? Hal ini dikarenakan dunia politik dan aktornya (politikus) saat ini, mayoritas bermental korup, bukan bersih dan bermoral baik! Karenanya, lebih tepat bila dalam Pemilu 2009 di Aceh yang dilakukan adalah sebaliknya. Tracking kandidat calon wakil rakyat yang layak dipilih dipertimbangkan oleh rakyat karena jauh dari kategori politisi busuk!

Ketiga, rakyat sebenarnya semakin bosan dengan Pemilu tanpa ada perbaikan untuk kehidupan mereka. Oleh karena itu, momentum 2009 harus ditempatkan pada posisi yang amat penting untuk Aceh. Melanggengkan benih perdamaian, mewujudkan kesejahteraan. Bukan sekedar Pemilu dan Pemilu lagi. Singkat kata, saya mengajak seluruh pihak yang akan memperebutkan kursi di tahun 2009 untuk benar-benar siap dengan tugas dan kewajiban wakil rakyat. Yang namanya wakil rakyat maka sebenarnya dia adalah lebih ”rendah” dari rakyat. Namanya saja ”mewakili rakyat”! Harus siap bekerja optimal hingga lima tahun full, dengan fasilitas yang mampu disediakan oleh rakyat.

Keempat, Pemilu 2009 memang sangat spesial untuk Aceh dimana bukan hanya Partai Nasional yang akan merebut kursi melainkan juga Partai Lokal akan juga ikut bertempur. Kehadiran Partai Lokal memang angin segar, dan dalam berbagai forum disebut-sebut bakal menjadi darah baru demokrasi, khususnya di Aceh. Partai Lokal juga diharapkan akan ”menggantikan” buruknya kinerja Partai Nasional yang selama ini berkuasa di parlemen. Singkat cerita, Partai Lokal bagaikan sebuah kendaraan yang sarat dengan impian dan cita-cita perubahan. Sebagai sesuatu yang baru tentu akan banyak harapan baru juga, sama halnya ketika reformasi bergulir awal tahun 1998. Cita-cita tegaknya demokrasi dengan pemerintahan yang bersih dan pro rakyat, meskipun di usia 10 tahun reformasi belum juga menemukan titik terang.

Transisi politik nasional itu harus menjadi pelajaran berharga dalam membangun demokasi baru di Aceh. Bagaimana antara Partai Nasional dan Partai Lokal dapat mengubah pola pikir dari sekedar merebut kursi dengan paradigma baru yang menjadi ”kursi” sebagai pusat perubahan untuk Aceh! Artinya, saya melihat bahwa bukan pada “Lokal” dan “Nasional” yang harus dipertajam diskusinya melainkan pada pendidikan politik bagi rakyat, persoalan integritas dan kematangan politik yang harus dikupas lebih mendalam. Mempertentangan antara satu kubu (Partai Nasional) dengan kubu baru (Partai Lokal) justeru akan menyuburkan benih kebencian politik baru di Aceh! Ketegangan di level masyarakat yang akan menggelinding. Dan saya pikir gejala demikian tidak selaras dengan semangat membangun demokrasi yang cerdas dan damai di Aceh. Biarlah rakyat yang memilih! Bukankah demokrasi ada di tangan rakyat?

Partai Nasional Bukan Lawan Partai Lokal
Fondasi untuk membangun iklim Pemilu 2009 yang damai, tanpa intimidasi (baik antarpartai maupun initimidasi langsung/tidak langsung kapada rakyat sebagai pemilih) tetap berada di tangan partai politik dan jejaringnya. Pemilu 2009 adalah lompatan-lompatan sejarah baru untuk Aceh. Aceh butuh kedamaian dengan pilar demokrasi yang tumbuh sehat tanpa “perang”. Oleh sebab itu, orientasi politik harus dirubah. Jangan lagi berjuang hanya sekedar untuk mendapatkan kursi. Mungkin ini sebuah harapan utopis yang tak mungkin terjadi dalam dunia politik. Tetapi paling tidak tanamkanlah itikat politik yang baik bahwa kursi parlemen mendatang harus lebih ”mewakili rakyat”. Rakyat Aceh sudah cukup lelah dengan kehidupan selama ini, dihempas konflik puluhan tahun dan diterjang musibah tsunami. Bagaimana kursi 2009 menjadi bagian perawat bunga damai dan membangun kesejahteraan untuk Aceh? Jangan sampai, gara-gara berambsi merebut kursi dengan menghalalkan segala cara malah dapat merusak kembali kedamaian di Aceh. Sebuah keadaan yang harus kita cegah bersama. Rakyat harus bersuara lantang dan merekam jejak. Bukan hanya kepada penghuni kursi saat ini tetapi juga kepada mereka yang selama ini masih di luar parlemen, yang ingin rebut kursi 2009!

Saya berpendapat bahwa tidak ada jaminan pula ”orang baru” akan lebih baik dengan ”orang lama”. Di luar sistem tentu siapa saja bebas berteriak, termasuk saya pribadi. Tetapi sejarah membuktikan betapa banyak mereka yang dulu mengaku jujur, idealis, pro rakyat, anti ini atau anti itu, kemudian jargon-jargon itu tumbang di tiang kekuasaan. Artinya, sangat sedikit mereka yang bisa bertahan dengan idealisme itu. Bukankan pasca tsunami, idealisme itu banyak yang berguguran? Dalam hali ini, Pemilu 2009 bukan hanya ujian bagi Partai Nasional tetapi juga “peluang” sekaligus arena pembuktian bagi para pengusung perubahan yang sebagai besar berasal dari kalangan masyarakat sipil untuk menunjukkan daya tahan idealisme, pro rakyat atau apa pun namanya dalam kancah kekuasaan!

Pembuktian ini juga didahului dengan komitmen (aktivis) gerakan masyarakat sipil di Aceh saat ini. Mau bergerak di wilayah mana? Politik atau bukan : memilih garis perjuangan dan gerakan selanjutnya? Dan saya melihat justeru gejala “pembiasan” ini semakin mengemuka. Padahal dulu begitu “mensakralkan” nilai-nilai independensi, bebas dari tarikan dan kepentingan politik? Tapi hari ini sepertinya nilai-nilai itu “terjungkal” dengan segala justifikasi. Bagi saya pribadi, aktivis muda yang akan menggunakan seragam Partai Nasional maupun uniform Partai Lokal dalam Pemilu 2009 tetap punya tantangan yang sama. Partai Nasional di uji, Partai Lokal juga tak bebas tantangan, bila tidak ingin disebut lebih tinggi pertaruhan Partai Lokal dibandingkan Partai Nasional. Semua ini tidak terlepas dari ekspetasi publik terhadap kehadiran Partai Lokal di Aceh. Karena itu, pembuktian dalam kurun lima tahun ke depan akan tercatat dalam sejarah demokrasi Aceh. Semoga aktivis muda Aceh dapat membuktikan sejarah (perubahan) demokrasi yang lebih baik, bukan justeru menjadi bagian dari parlementaria yang tak pro rakyat dan bermental korup.

Penutup
Demi terwujudnya kedamaian yang langgeng sebagaimana impian kita semua, maka mari kita berkontribusi untuk mendorong lahirnya Pemilu yang bersih, dan damai di Aceh. Hendaknya perbedaan baju partai (Nasional maupun Lokal) jangan dilihat pada konteks yang sempit. Partai Nasional bukan lawan bagi Partai Lokal. Partai Lokal juga buka lawan bagi Partai Nasional! Keduanya punya peran dan tanggungjawab untuk terciptnya kelanggegangn politik yang dinamis, damai dan mampu mengoptimalkan segala potensi yang dimiliki untuk mensejahterakan rakyatnya. Kondisi demikian tidak serta merta ditentukan oleh ”bendera” mana yang berkuasa. Siapa pun yang berkuasa di parlemen kelak, nasib Aceh tetap akan muram bila parlemen tetap keasikan dengan kursi.

Tidak ada pilihan lain selain cerdasi rakyat untuk menentukan pilihannya sendiri. Bangun kesadaran mereka untuk memilih yang terbaik, tanpa tekanan apa pun. Biarlah rakyat sendiri yang memberikan ”stempel” tentang kinerja wakil rakyat hari ini. Atau juga kepada calon wakil rakyat baru yang akan bertarung dalam Pemilu 2009 mendatang. Kepada mereka yang saat ini sedang sibuk ”berkampanye” untuk merebut kursi. Akhir kata, selamat datang para kandidat wakil rakyat Pemilu 2009. Mari kita wujudkan pesta demokrasi damai di Aceh.***

Selasa, 24 Juni 2008

20 Juni 2005 – 20 Juni 2008 : Tiga Tahun Sudah!

Merendahlah, engkau akan seperti bintang-gemintang... . Berkilau di pandang orang di atas riak air dan sang bintang nun jauh tinggi. Janganlah seperti asap yang mengangkat diri tinggi di langit, padahal dirinya rendah-hina" (Ust. Rahmat Abdullah)"

Tiga Tahun Sudah. Tak terasa, tiga tahun sudah aku di sini. Bersama teman-teman dari berbagai daerah di Aceh. Dengan latarbelakang aktivitas sebelumnya yang juga tak sama. Aku menempa diri. Belajar memahami persoalan korupsi, anggaran, kebijakan publik hingga berbagai persoalan rakyat di Aceh. Sejak mengabdi di sini pula, banyak kenangan indah yang telah kunikmati. Sekian daerah (lokal dan nasional) telah kujelajahi. Pengalaman-pengalaman itu sepertinya mengatakan bila inilah kehidupan untukmu, Na Tinta!

Tiga Tahun Sudah. Aku belajar menjadi pribadi yang mampu bekerja dalam “team”. Aku sadari, begitu banyak kendala pribadi yang kuhadapi tetapi lambat laun aku harus mampu berkata bila inilah ideologi kehidupan aktivis anti korupsi. Belajar dari kesederhaan banyak pribadi lain. Karena aku sadari benar bila “satu jari telunjuk kita arahkan untuk orang lain maka sisa jari kita yang lain sebenarnya menunjuk ke arah diriku”. Aku bicara anti korupsi, pasti semua orang akan melihat kehidupanku, keluargaku dan orang-orang terdekat dihatiku!

Tiga Tahun Sudah. Di Gerakan Anti Korupsi (GeRAK) Aceh aku ikrarkan diri bila inilah pilihan hidupku. Aku ingin buktikan dengan sekuat tenaga, tanpa alpa senantiasa berharap ridho-Mu ya Rabb, aku ingin menjadi aktivis anti korupsi sepanjang hayatku. Meski esok aku tak lagi di sini. Di lembaga yang saat ini adalah simbol perlawanan memberantas korupsi di negeri Syariat Islam : Aceh. Karena dalam berbagai forum, aku selalu berkata bila aku tak bangga disebut aktivis anti korupsi! Sama sekali tidak.

Sebutan itu lebih patut aku terima, atau siapan pun juga, ketika dia tidak lagi bekerja secara formal di lembaga anti korupsi. Julukan itu harus diuji sepuluh, dua puluh atau tiga puluh tahun ke depan. Masihkah aktivis anti korupsi benar-benar mampu bertahan dengan ideologi anti korupsi? Pertanyaan tajam ini yang selalu tertambat dalam jiwaku. Apakah aku sanggup, apakah keluargaku kelak adalah orang-orang yang juga punya tolerasi untuk tidak korupsi? Korupsi yang kumaksud di sini bukan hanya korupsi dalam versi undang-undangan produksi manusia, tetapi juga lebih didasari pada nilai-nilai kejujuran, amanah, tidak khianat, sederhana, qana’ah, dan mampu menjadi keteladanan bagi manusia sekitar? Itulah filososfi anti korupsi sesunggunhya!

Aktivis anti korupsi sebenarnya tak selamanya mereka yang bekerja di gerakan anti korupsi! Setiap orang yang menolak melakukan suap agar anaknya menjadi “orang” adalah aktivis anti korupsi. Setiap insan yang tidak mau harga dirinya dinjak-injak hanya karena suap, atau merubahan aturan baku yang berlaku, demi kepentingan materi, sesungguhnya dia juga aktivis anti korupsi.

Seorang petani yang tidak “mencuri” air dari sawah petani yang lain, yang ada di samping sawahnya, meski padinya akan mati bila tidak segera mendapatkan air, maka ialah tipikal aktivis anti korupsi. Seorang mahasiswa yang tidak melakukan penipuan nilai hanya untuk mendapatkan beasiswa jutaan rupiah, tidak nyontek saat ujian, meski IPK-nya tak kunjung membaik, adalah bagian tak terpisahkan dari nilai-nilai dari sosok aktivis anti korupsi. Semua kita punya peluang dan potensi, tinggal kita mau memilih yang mana : aktivis anti korupsi atau justeru menjadi orang-orang yang toleran dengan korupsi!

Tiga Tahun Sudah. Aku di sini berjibun dengan buku-buku. Dan esok aku tak tahu berada di mana. Hanya kepada-Mu ya Rabb, aku berserah diri. Semoga aku tetap menjadi hamba-Mu yang tidak toleran dengan semua bentuk prilaku yang menjurus korupsi. Dan lebih penting lagi, jangan Engkau tempatkan aku dalam dunia ini, di waktu dan tempat, jabatan dan karirku, yang di sana adalah potensi besar aku menjadi “pengkhiat” atas ideologi anti korupsiku saat ini. Jauhkanlah hamba dari semua itu, bila itu semua tak mampu buat aku bertahan! Tetapkanlah diri ini pada posisi yang hidup ada adanya jika itu lebih mampu aku hidup sederhana, lebih jujur dan dicintai oleh orang-orang yang selama ini terus mencintaiku. Amin ya Rabb.

Banda Aceh, 24 Juni 2008, 08:59

Selasa, 17 Juni 2008

Semoga Aku Mampu!

Hari demi hari kulewati dengan semangat baru, meski kadang aku terombang-ambing dalam kebimbangan. Tapi inilah kehidupan. Sebuah perjalanan merintis masa depan. Kadang jalannya berliku. Tak jarang posisi kita berada di bawah, terjal dan hampir jatuh...."Namun, kata teman saya, "meski kadang kita turun, naik dan jalannya itu berliku-liku, tetapi sebenarnya kita sedang menuju ke puncak!" Kata-kata itu menancam kuat, tak goyah, dalam relung hati ini. Aku renungkan begitu lama, dan akhirnya aku menilai bila kata-kata itu begitu bermakna. Benar dan membutuhkan daya tahan, kesabaran yang tak mengenal waktu.

Namun, aku juga manusia, termasuk Anda juga mungkin merasakan hal yang sama. Harapan tak seindah mimpi. Itu pasti. Keadaaan di sekitar kita sering juga tak seperti rencana-rencana di atas kertas. Dan kekuatan kita sebenarnya adalah sejauhmana kita mampu beradaptasi untuk mengatasi perubahan yang datang tiba-tiba? Sekuat apa kita mampu menahan hantaman dan gejolak lingkungan sekitar kita itu? Ketahuilah, ketangguhan itulah yang membedakan kita dengan orang lain!

Karena itu pula, saya ingin mengajak Anda untuk mencoba dna terus mencoba dalam hidup. Sepanjang itu tak melanggar aturan Allah SWT, mengapa kita mesti takut dengan kegagalan? Bahkan semangat hidup kita yang menoton, menerima keadaan yang sebenarnya kita mampu berbuat lebih banyak, telah merusak potensi keberhasilan yang sejatinya dapat kita raih. Semoga aku dan kita semua mampu.

Banda Aceh, 17 Juni 2008 : 17.52 WIB

Kamis, 12 Juni 2008

Aku Ingin Tetap "Menangis"!


Teman, seringkali malam-malam kita penuh kegelapan. Mata enggan terpejam sembari butiran air mata mengali tak terasa. Hati nurani yang tulus tak akan bisa tidur ketika dosa-dosa sepanjang hari kita anggap sebagai beban yang harus dipertanggungujawabkan kelak. Bila ini kita lupakan, maka sepanjang hidup kita tidak akan ada beban sama sekali. Kita akan terus tersenyum tanpa merasa bersalah. Seharusnya, sesekali kita harus menangis!

Kita semua sering membaca dan mendengarkan kata-kata menyejukkan ini. "Engkau dilahirkan ibumu dalam keadaan menangis. Sedangkan manusia di sekelilingmu tertawa bahagia. Maka berbuatlah sesuatu untuk satu hari di mana kematianmu datang, engkau meninggal dalam keadaan tersenyum bahagia dan sementara orang lain menangisi kepergianmu." (Ali bin Abi Thalib).
Dengan kata-kata ini, sejatinya kian menguatkan kita bahwa tujuan hidup ini tak sekedar berganti waktu melainkan juga ada impian masa depan yang harus kita jawab. Dan air mata yang didorong oleh kejujuarn batin adalah simbol ketulusan. Pertanyaannnya, apakah ketika kita mengakhiri hidup ini akan banyak orang yang menangis atau malah sebaliknya, justeru orang lain di dunia ini malah tertawa dan merasakan kesenangan yang luar biasa.

Suatu waktu menjelang fajar, renungilah jalan hidup ini. Duduk bersimpuh di atas sajadah. Doakalah dengan tulus untuk ibu dan ayah kita! Untuk orang-orang terbaik yang pernah memberikan inspirasi dalam hidup kita. Karena begitu, sepanjang waktu, setiap nafas yang kita hembuskan...adalah pertanda dan bagian dari membuat hidup kita benar-benar bermakna. Dari filosofi inilah, aku mencoba mengaruhi kerasnya kehidupan dunia. Ya, tanpa pertolongan Engkau, sungguh aku akan terhempas tak berdaya.

Ibu, dirimu yang bersusah payah melahirkan diriku. Berjuang antara hidup atau mati..! Semoga semua pengorbanan itu tak sia-sia. Aku menjadi anakmu yang setia.

Banda Aceh, 12 Juni 2008 : 16.05 WIB

Selasa, 10 Juni 2008

Aku Bukan Pemberontak!

Aku bukan pemberontak, bung!
Aku hanya ingin mengingatkan saja bahwa dunia ini sudah tua
Aku ingin sekedar berkata-kata
Bila kebenaran harus tetap tegak
Idealisme tidak bisa diperjualbelikan
Dengan isi rekening uang berjuta-juta
Dengan fasilitas negara atau apa pun namanya
Karena ketidakjujuran adalah musuh nurani
Atas nama kebenaran, aku nyatakan diri sebagai pemberontak!


Aku bukan pemberontak, bung!
Hanya ada impian besar dalam hidupku
Bertahan untuk mengabdikan diri
Menjalankan pesan-pesan Tuhan dengan tulus
Ketulusan hidup
Kesederhanaan
Apa adanya
Dalam semua itu aku butuh dukungan
Seseorang yang dapat meneguhkan sikap pemberontakan ini.

Aku pemberontak kepada nilai-nilai kemunafikan
Senyum peduli rakyat yang menipu!

Banda Aceh, 10 Juni 2008 Pukul 19:10


Lhokseumawe, Lawatan Mengurai "Pilihan-Pilihan" Untuk Hidup

Teman, sebagaimana cerita aku sebelumnya bahwa aku harus terus berpindah dari suatu waktu dengan tempat yang berbeda. Minggu pagi kemarin (8 Juni 2008), sekitar jam 09.10 WIB aku berangkat ke Lhokseumawe lagi. Sebelumnya aku hubungi dirinya. Aku pamit. Aku jelaskan bahwa agenda aku ke sana adalah menunaikan tugas. Besok, di Aula RRI Lhokseumawe, GeRAK Aceh mengadakan Konsultasi Publik Rancangan Qanun Kesehatan Aceh. Karena itu, aku berangkat hari minggu. Aku minta restu dan doanya.

Aku tiba di Lhokseumawe memang agak terlambat. Aku berangkat dengan teman kantor dengan mencarter satu unit mobil yang dibiayai oleh kantor. Beberapa tempat kami singgahi, mulai dari Rumah Makan Cek Ram di Trienggadeng (dan aku sholat di sini) hingga minum air tebu di Cot Geuleungkue. Subhanallah..! Ini kenikmatan yang Engkau suguhkan kepada hamba-hambu-Mu. Kemudian aku ingat ketika aku mengikuti sebuah kuliah agama bahwa “berjalanlah kamu di atas muka bumi…engaku pasti akan menyaksikan kekuasaan Allah yang luar biasa, dan itu niscaya akan menambah keyakinanmu kepada kekuasaan Rabbi.

Teman, tak terasa aku tiba di Lhokseumawe mendekati pukul 16.30 sore. Aku singgah di MaTA Aceh. Dan kemudian kawanku berangkat ke Wisma Selat Malaka dengan tujuan untuk mengurus penginapan bagi narasumber yang akan tiba dari Banda Aceh, nanti malam. Dan aku di MaTA Aceh terus menyiapakan keperluan yan berkenaan dengan agenda besok termasuk memastikan kesediaan Bapak Hamid Zein (Karo Hukum dan Humas Provinsi Aceh) untuk menjadi narasumber dalam talkshow malam besok di RRI Banda Aceh. ALhamdulillah, beliau bisa.

Dan malamnya aku mengorbankan "tidur" hingga pukul 04.45 WIB. Poses ini juga sambil sms-san dengannya. Sedangkan aku berdiskusi panjang lebar dengan “senior”ku di sana. Dari persoalan republik ini, nanggroe Aceh, korupsi, prediksi-prediksi “mengerikan” tentang Pemilu mendatang hingga aku banyak bertanya, menggali alternatif “pilihan-pilihan” hidupku kelak. Bersamanya aku banyak cerita, soal pribadi. Aku mendapatkan banyak masukan tentang arah masa depan hidupku, termasuk soal cinta.

Mataku baru terpejam menjelang pukul 04.45 WIB. Dan tak terasa, baru aku istirahat sebentar, suara azan menggema. Aku bangun dan sholat Shubuh. Dan kemudian aku keluar kamar. Kuberjalan beberapa langkah menuju ruang tamu. Dari jendela yang tak tertutup gorden, aku mengintip “Serambi Indonesia” telah jatuh di halaman rumah. Aku keluar dan mengambilnya. Aku membuka pelan-pelan. Beberapa berita cukup mengagetkanku. Dan aku kembali berputar-putar, mengelilingi meja rapat yang berbentuk persegi empat. Ide kembali muncul. Soal Dana Silpa yang triliunan itu harus aku buatkan dalam tulisan. Dalam 3 hari ini harus selesai. Batinku, meski tugas-tugas lain belum selesai. Entahlah.

Dan sekitar pukul 08.35 aku dan teman-teman yang lain berangkat ke tempat kegiatan. Aku membuka acara dan kemudian mempersilahkan Bapak Dr. Eddy Purnama, SH. M.Hum dan Bang TAF Haikal untuk tampil ke depan. Presentasi dimulai. Peserta tidak terlalu banyak tetapi aku yakin, banyak input yang akan diperoleh. Beberapa saat kemudian aku keluar dari ruang kegiatan. Ponselku kembali kuaktifkan. Aku harus menghubung teman-teman GeRAK Aceh di Banda Aceh. Aku ingin sharring tentang hasil Regular Meeting dengan Tim Advokasi KIBBLA Aceh Besar, rencana mau ketemu dengan Bupati Aceh Besar hingga agenda Talkshow di RRI Banda Aceh. Proses demikian adalah kebiasaanku sehingga advokasi ini dapat berlangsung dengan baik.

Konsultasi Publik berlangsung hingga pukul 12.15 WIB. Aku menutup kegiatan tersebut dengan menyampaikan terima kasih dan harapan dukungan seluruh pihak atas rancangan qanun ini. Kemudian, kegiatan diakhir dengan makan siang bersama. Acara selesai. Dan, yang tak kuduga adalah bahwa Pak Eddy mengajak aku ke Matangkuli. Ia ingin menjenguk ibunya yang sakit. Namun sebelum berangkat, aku singgah ke kantor MaTA Aceh sembari mengantarkan perlengkapan kegiatan.

Perjalanan ke rumah orang tua Pak Eddy membutuhkan waktu sekitar 35 menit dengan jarak, aku prediksikan mendekati 30 km. Pak Eddy banyak bercerita tentang eksplorasi gas yang berlangsung di sekitar Matangkuli. Cerita tragis yang berlangsung puluhan tahun. Dan baru kali ini aku menyaksikan tempat-tempat pengolahan gas secara lebih dekat. Gas yang dikeruk dari bumi Aceh ternyata tidak memberikan kesejahteraan untuk Aceh, dan tragisnya lagi untuk masyarakat sekitar. Aku terdiam. Aku tak bicara. Boleh jadi, dan mungkin saja ini tak terbantahkan, dan juga sudah menjadi rahasia umum di warung-warung kopi di seantero Aceh bahwa konflik dan perang bersenjata yang berlangsung puluhan tahun pun juga di mulai dari suasana yang kulihat ini. Tragis.

Lupakan soal pengerukaan gas itu, karena aku kini telah tiba di Kantor MaTA Aceh lagi. Dan sekitar jam 13.15 WIB aku berangkat pulang ke Banda Aceh. Namun demikian, sesampai di Kota Bireun kami singgah dulu di DPRD Bireun. Ada keperluan Pak Eddy untuk bertemu dengan para pihak di sana. Aku di sana hinga menjelang pukul 18.30 WIB. Acara selesai, kemudian kami pulang ke Banda Aceh. Bang Haikal tetap tinggal di Kota Bireun. Dan aku, bersama Hasmuni, Pak Eddy dan Bang Rida segera berangkat. Banda Aceh, aku hendak menuju ke sana.

Kami tiba di Banda Aceh sekitar jam 23.40 WIB. Segera ke sebuah kawasan di Banda Aceh. Ternyata lokasi yang kutuju tak jauh dari rumahnya. Aku hanya sebentar di sana. Segera aku dengan team yang ada, segera menyusuri jalan-jalan tanpa pengguna lagi. Toh sudah mau tenggelam dengan gelap malam. Alhamdullilah, aku tiba di rumah pukul 00.15 WIB. Hari telah berganti. Tanggal 8 Juni 2008 pun menjadi 9 Juni 2008. Aku sampaikan ke dia bahwa aku telah tiba di rumah. Aku ingat Engkau ya Rabb. Sholat Isya, aku harus segera berwudhu. Puji syukur kepada-Mu yang Rabbi. Selamat malam, cinta.

Pilihan-pilihan itu, dalam waktu dekat akan kusampaikan, dengan hatiku kepadamu.

Banda Aceh, 10 Juni 2008 : 16.01 WIB

Sabtu, 07 Juni 2008

Dua Hari di Calang

Terus terang, perjalanan ke Calang kali ini luar biasa. Lelah dan amat menantang. Aku berangkat ke sana dengan Tim HSP USAID dengan menggunakan Kijang Innova. Dari Banda Aceh bergerak hari Rabu, 4 Juni 2008, pukul 20.30 Wib. Sebelumnya, sore itu aku menerima sahabat dekatku di kantor. Beberapa informasi yang dapat aku bantu, kusampaikan kepada keduanya.

Selepas magrib, aku dijemput di kantorku, kawasan Lamgugob. Perjalanan kemudian menjemput teman yang lain sehingga praktis berangkat jam 20.30 malam. Gerimis datang, aku mencoba tenang. Aku berzikir, mengingat-Mu. Sembari itu aku juga sms-san dengannya. Aku mohon doa, termasuk aku menelpon keluargaku di Sigli. Ini kebiasaanku menjelang keberangkatan dalam menjalankan tugas kantor.

Dalam perjalanan, komunikasi via sms berjalan terus. "Aku bahagia bisa ketemu". Dua hati itu menyebutnya demikian. Aku dan kamu tentu. Dan tak terasa, aku tiba di Calang menjelang pukul 03.00 dinihari. Aku ke Calang dalam rangka membantu advokasi KIBBLA HSP-USAID. Dua hari aku menfasilitasi proses ini yang dibantu oleh Tim DTPS Dinkes Provinsi NAD dan Team HSP. Melelahkan, karena banyak warna-warni baru yang aku dapati.

Aku kembali ke Banda Aceh hari Jumat-nya, pukul 19.00 Wib. Malam itu hujan dan cukup "mengkhawatirkan". Dan ternyata menjelang tiba di penyebarangan Lamno, kami terjebak dengan lumpur besar. Jalan menjadi macet. Puluhan kendaraan berhenti. Mungkin pas kami tiba jam 23.30 malam di sana, deretan kendaraan itu sudah berhenti tidak kurang dari dua jam. Satu persatu kendaraan ditarik dengan truk sehingga mampu melewati lumpur besar itu. Dan alhamdulillah, kami menembus lumpur itu tanpa bantuan (tarikan) dari truk.

Aku tiba di rumah menjelang pukul 03.00 dinihari. Nafas panjang kuhela. Pintu rumah kuketuk pelan. Adik sepupuku bangun dan membukakan pintu dengan sempoyongan. Aku menjadi tidak "enak" saat itu. Membangunkan dia dari tidur lelap. Toh dia juga seharian cukup lelah dengan pekerjaaannya, batinku saat itu.

Aku memasukkan dua tas ku, yang penuh dengan buku dan pakaian. Aku bergegas ke kamar mandi. Aku sudah sholat tadi. Tapi aku kembali wudhu dan sikat gigi, membersihkan muka dan menggantikan pakaian untuk istirahat. Shubuh sebentar lagi akan datang. Aku berbaring dan sebelumnya aku sudah kabari dia, bahwa aku telah tiba di Banda Aceh dengan selamat. Aku sadar, dia juga telah tertidur lelap. Dia juga cukup lelah sekali. Tapi tak apalah, ketika dia terbangun, dia tahu bila aku telah kembali.

Dari Calang aku kembali, dan senin depan (16/6/2008) direncanakan aku akan kembali lagi ke sana. Tugas melanjutkan RTL yang belum selesai. Dan besok (minggu), aku berencana akan berangkat lagi ke Lhokseumawe. Agenda tentu untuk melaksanakan konsultasi publik Rancangan Qanun Kesehatan Aceh.

Banda Aceh 7 Juni 2008 :pukul 17.53

Rabu, 04 Juni 2008

Aku Lelah

Dalam kurun waktu sebulan terakhir, begitu sulit nafasku bernafas. Aku lelah. Bergerak dari satu bumi menuju tanah yang lain. Antar pulau, antar daratan. Banyak hal yang kusaksikan. Dari Puncak Bogor, Danau Toba hingga Sibolga. Esok malam, aku ke Calang lagi. Kota yang hancur luluh lantak karena bencana. Semua aktivitas ini adalah untuk menunaikan tugas-tugasku. Tanggung jawab moral untuk menjalankan sebuah amanah. Nafasku seperti berkata. Istirahat sejenak, bung! Tapi sabarlah dirimu, kata ku malam itu. Perjalanan ini hanya sebentar saja. Akhir bulan ini, aku akan bisa tidur malam lebih lelap. Kita bisa sms-san lagi. Sabar..sabarlah, temanku!

Aku tahu, dirimu mungkin sedikit lelah memahami aku, temanku. Tapi sadarilah bila aku telah hidup dalam dunia seperti ini. Aku tak bisa diam dan meninggalkan semua ini dengan tiba-tiba! Seringkali aku mencoba diam! Toh, semua itu butuh waktu. Karena itu pula, sabarlah ketika selularku tak tersambung oleh dirimu, temanku.

Aku percaya, semua ini menuju kedewasaan dan kematangan kita dalam mengarungi hidup ini. Hidup kita. Hidup keluarga kita. Karena itu pula, diri ini mengabdi dan mengambil peran dalam hidup ini. Untuk seorang ibu, yang kini terus menungguku. Aku pulang tanpa muka yang sedih lagi. Di Dayah Teungoh, desa kecil yang telah menempaku dari bocah hingga mampu berkata-kata. Hingga kini aku mampu "bicara" dan berteriak lantang. Mengenal dirimu dari waktu ke waktu. Namun aku percaya, dirimu sebagai sosok temanku mampu pahami seluruh gerakan hidupku.

Dalam raga hingga jiwaku! Aku percaya dirimu mampu, sobat! Sahabatku, mengertilah aku!

Banda Aceh, 3 Juni 2008 : 16.35

Hapuslah Air Matamu, Sobatku!

Tadi malam, mataku begitu lelah. Jujur aku tak mampu membaca lagi sekian buku-buku yang kubawa pulang dari Bekasi. Selepas shalat Magrib, makan malam hingga azan Isya tiba. Aku sholat Isya dan ngaji beberapa ayat Al-Qur'an. Ini kebiasaan ku menjelang tidur dan selepas Shubuh. Di atas meja, tumpukan buku baru itu justru menatapku bisu. Mungkin dia tersenyum, 13 buku baru hanya baru kubaca daftar isi saja.

Semalam, jiwaku merintih. Sebuah pesan yang masuk ke selulerku. Sebuah pesan darinya itu baru kubaca hampir 1 jam kemudian. Aku baru terjaga dan kubalas dengan singkat saja. Mata terpejam lagi karena memang baru tadi magrib aku ke dokter mata. Inderaku yang satu ini sakit, terasa perih dan berkedip-kedip terus. Yach, ini kesalahanku. Terlalu memaksa diri selama ini.

Paginya, jam 07.10 aku sudah berangkat, menuju Grand Nanggroe Hotel karena di sana ada Konsultasi Publik Rancangan Qanun Kesehatan Aceh. Kegiatan ini kerjasama GeRAK Aceh dengan HSP-USAID. Dalam kesempatan ini, aku curi waktu untuk sms-san lagi, dengannya. Ya, sambil menunggu peserta datang semua.

Ternyata, mimpiku yang begitu sedih dan bercampur bahagia...sedangkan di sana, dia menangis dan tak mampu pejamkan mata hingga menjelang shubuh! Aku terkejut dengan kabar itu. Aku hanya berharap dirimu tak apa-apa, semoga dirimu baik-baik saja. Aku minta dengan hati tulus. Simpanlah semua itu hingga suatu waktu kita akan bersatu. Hapuslah air matamu, temanku!

Dan sebentar lagi aku akan hubungi dirimu, sobat. Karena bada Magrib nanti, aku bersama Team HSP-USAID akan berangkat ke Calang lagi. Dan kemungkinan aku juga akan menjadi narasumber di Meulaboh juga. InsyaAllah, Sabtu ini aku akan kembali, di sini. Banda Aceh.

Temanku, aku mengerti makna air matamu!

Banda Aceh, 4 Juni 2008 : 15.55 WIB

Jumat, 30 Mei 2008

Rapor Kejari dan Korupsi di Aceh


Oleh:
ABDULLAH ABDUL MUTHALEB
Alumni Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Unsyiah
Kini Sebagai Manager Program Monitoring Parlemen Gerakan Anti Korupsi (GeRAK) Aceh


Ada apa dengan Kejaksaan Negeri (Kejari) di Aceh? Pertanyaan itu sontak di batin saya ketika membaca headline Serambi Indonesia “10 Kejari Rapor Merah”. Sebenarnya, informasi 10 Kejari di Aceh dinilai memiliki rapor “merah” bukanlah sesuatu yang luar biasa. Tanpa diumumkan sekali pun, masyarakat sudah terlebih dahulu memiliki penilaian sendiri atas gebrakan Kejari tersebut dalam memberantas korupsi di wilayah tugasnya. Itulah potret dari kinerja Kejari di Aceh setahun terakhir.

Sebagaimana dilansir Serambi Indonesia (Rabu, 19/12/2007) dimana sebanyak 10 Kejari dari 17 Kejari di Aceh dinilai berkinerja buruk. Kinerja buruk ini dikarenakan gagal memberantas korupsi di wilayah kerjanya masing-masing. Bahkan, sepanjang tahun 2007 tak satu pun kasus korupsi yang berhasil diajukan ke pengadilan! Kesepuluh Kejari tersebut adalah Kejari Sigli (Pidie), Kejari Idi ( Aceh Timur), Kejari Jantho (Aceh Besar), Kejari Calang (Aceh Jaya), Kejari Meulaboh (Aceh Barat), Kejari Sinabang (Simeulue), Kejari Singkil (Aceh Singkil), Kejari Kutacane (Aceh Tenggara), Kejari Blangkejeren (Gayo Lues), dan Kejari Kuala Simpang (Aceh Tamiang).

Informasi di atas disampaikan oleh Kepala Kejasaksaan Tinggi (Kejati) Aceh, Abdul Djalil Mansur, SH. Boleh jadi sang Kejati Aceh kecewa berat sembari mengatakan bahwa, “kalau tidak bisa memperbaiki kinerja, maka kita minta Kajarinya mundur saja, dari pada nanti saya copot, kan lebih baik mundur”. Kejati menyebut pula bahwa pihaknya akan memangggil Kajari, Kasie Intel dan Kasie Pidsus dari tiap-tiap Kejaksaan Negeri yang rapornya merah.

Rapor merah itu berdasarkan kriteria yang ditetapkan oleh oleh Kejaksaan Agung (Kejagug) dimana setiap setiap Kejari harus mampu menyelesaikan 3 kasus korupsi sampai diajukan ke pengadilan hingga penuntutan. Nah, 10 Kejari di atas termasuk tidak mampu memenuhi target sang Kejagung! Tidak ada satu pun kasus korupsi yang penanganannya sampai pada penuntutan. Sedangkan kasus dalam penyelidikan dan penyidikan tidak dihitung.

Menyedihkan. Kata yang tepat mewakili mendungnya upaya penegakan hukum di Aceh dalam pemberantasan korupsi. Malah ada tiga Kejari di Aceh yang malah benar-benar jeblok benar, seperti yang diutarakan oleh Kejati Aceh. Dengan deskripsi seperti ini, masyarakat sangat mungkin berkata lagi, “jangan berharap banyak bila pelaku korupsi akan semakin antri diadili di muka pengadilan, bung!”.

Menyusun Action Baru
Mencermati bermasalahnya buruknya kinerja Kejari di Aceh (10 dari 17 Kejari) kian memperkuat sinyalir masyarakat bila upaya pemberantasan korupsi tersandung dengan komitmen penegakan hukum itu sendiri. Meskipun hal demikian tidak serta merta dapat dialamatkan kepada upaya penegakan hukum yang membabi buta.

Prof. Dr. Soejono Soekanto, SH, MA dalam bukunya “Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum” (2005) mengatakan bahwa penegakan hukum bukan semata-mata berarti penegakan perundang-undangan, walaupun di dalam kenyataanya di Indonesia kecenderungannya demikian, sehingga pengertian law enforcement begitu populer. Soejono menyebutkan bahwa banyak faktor yang mempengaruhi penegakan hukum itu sendiri, yang menurut saya juga bisa kita sandingkan dalam tulisan ini, mencari benang merah di balik kinerja Kejari yang masih bermasalah. Faktor-faktor tersebut mulai dari 1) faktor hukumnya sendiri, 2) faktor penegak hukum, 3) faktor saran atau fasilitas pendukung, 4) faktor masyarakat, dan 5) faktor kebudayaan.

Bercermin dari muka kusam kinerja Kejari di Aceh, kebijakan Kejati Aceh dengan mendesak para Kejari agar segera menyusun rencana aksi kegiatan pencapaian program yang ditargetkan secara riil dan melaporkan pelaksanaan kegiatan dimaksud setiap bulan kepada Kejati Aceh terhitung bulan Desember 2007 pada prinsipnya adalah kebijakan yang cukup baik. Pihak Kejati disebutkan pula akan melakukan evaluasi Triwulan I (Januari-Maret 2008) dimana jika dalam evaluasi tersebut bagi Kejari dan Kacabri tidak mampu memenuhi target dalam hal diperoleh fakta kegagalan disebabkan tidak serius melaksanakan targetnya maka akan diambil tindakan tegas dengan memberi sangsi.

Ungkapan sang Kejati Aceh dapat dinilai sebagai langkah tepat. Namun demikian, kebijakan ini hendaknya bukan lip service semata, yang dirancang sebagai “pemadam kebakaran” karena rapor 10 Kajari di Aceh yang “terbakar! Telah cukup bertumbuk janji demi janji aparatur penegak hukum untuk menegakkan hukum! Toh, kenyataannya hal demikian masih sekedar janji tanpa ada realisasi berarti. Kita berharap, Kejati Aceh serius dengan komitmennya. Selaras antara kata hari ini dengan kebijakan dikemudian hari.

Target dan Kualitas
Isu pemberantasan korupsi merupakan isu sentral yang terus menghangat. Nama besar Aceh sebagai salah satu provinsi yang paling korup di Indonesia menjadi “pukulan” telak jika upaya pemberantasan korupsi harus dilakukan secara serius dan terukur. Karenanya, saya melihat bahwa peran Kejaksaan di Aceh masih sangat menentukan. Oleh sebab itu, ada beberapa hal penting yang kiranya menjadi bahan kajian lanjutan bagi Kejati di Aceh dalam mendukung upaya pemberantasan korupsi di Tanah Rencong tercinta.

Pertama, dalam Rencana Aksi Nasional Pemberantasan Korupsi (RAN-PK) tahun 2004-2009 telah cukup tegas dan jelas bagaimana sinergisitas antar-pihak penegak hukum dalam pemberantasan korupsi di Indonesia, mulai dari pencegahan, penindakan hingga monitoring dan evaluasi. Sejauhmana Kejati bersama Kejari dan Kacabri di Aceh menjadikan RAN-PK (termasuk Inpres No. 5 tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasa Korupsi) telah secara taat diaplikasikan? Bagaimana aparatur kejaksaan di Aceh (mulai dari Kejati, Kejari hingga Kecabri) merumuskan ulang gebrakan strategis untuk mencapai terget dalam pemberantasan korupsi. Rapor tahun ini harus menjadi refleksi dari apa yang diimplementasikan selama. Tak perlu berkecil hati, apalagi berkilah dengan seribu jurus pembelaan diri. Yang dibutuhkan adalah grand strategy apa untuk perbaikan pada tahun 2008?

Kedua, dengan banyaknya kasus korupsi di Aceh, yang kemudian terbatasi dengan sumber daya kejaksaan sendiri, maka sangat rasional apabila action para Kejari dan Kacabri diarahkan kepada penangan kasus-kasus lama yang belum tuntas sampai hari ini. Ini bentuk keadilan hukum bagi para tersangka atau pelaku yang selama ini di mata publik “bermasalah”. Skala prioritas demikian penting untuk menjadi ritme kepercayaan publik kepada Kejaksaan di Aceh.

Ketiga, terhadap “ultimatum” kepada Kejari agar institusi ini harus mampu menyelesaikan 3 kasus korupsi sampai diajukan ke pengadilan hingga penuntutan, tidak sekedar dimaknai dengan upaya tebang pilih! Tidak juga kemudian diartikan hanya “kejar (jumlah) kasus” semata tanpa memperhatikan kualitas dalam penangannnya (terutama sisi penuntutan). Bagi saya, jumlah kasus dan kualitas penanganannya adalah sama pentingnya. Bayangkan, apabila dalam setahun masa kerja, 17 Kejari di Aceh mampu memenuhi target yan diembankan, maka minimal ada 51 kasus korupsi singgah ke pengadilan. Tentu ini rekor yang cukup lumayan dalam memberantas korupsi di Aceh.

Keempat, transparansi penanganan kasus korupsi di kejaksaan perlu dilakukan secara kontinu. Tentu dengan batas-batas tertentu sesuai dengan koridur hukum yang mengaturnya. Sebab, celah informasi kepada masyarakat dimaksudkan sebagai usaha membangun kepercayaan dan dukungan kepada pihak Kejaksaan sendiri. Masyarakat (terutama yang aktif mendukung pemberantasan korupsi) berharap kran informasi atas kasus-kasus yang ditangani oleh Kejaksaan di Aceh selalu terbuka sehingga “posisi kasus” dapat di up date oleh publik.

Akhir kata, aparatur Kejaksaan di Aceh harus segera berbenah diri. Mengusung dan menyusun ulang semangat waja memberantas korupsi. Rapor merah tahun 2007 harus dijadikan cemeti dan refleksi diri. Tulisan ini pun semoga tak diberikan label “berteriak senang” dengan ekspos rapor merah 10 Kejari Aceh. Melainkan inilah sebuah komitmen kita bersama.

Karena kami adalah bagian dari masyarakat yang konsisten melaporkan dan mendukung pemberantasan korupsi di Aceh. Atas dasar ini, kami harus berkata, mari pak Jaksa kita bersama lawan korupsi, menghadirkan koruptor-koruptor ke muka pengadilan dengan tuntutan yang “berkualitas”! Target 3 kasus per tahun di tiap Kejari mari kita wujudkan bersama. Semoga. ***

Senin, 19 Mei 2008

Suka Duka Melawan Korupsi Di Aceh (Laporan Moral Untuk Rakyat Aceh)


Gerakan Anti Korupsi (GeRAK) Aceh lahir sebagai bagian dari tanggung jawab moral untuk mendorong pemberantasan korupsi dan lahirnya tata kelola pemerintahan yang baik di Aceh. Lembaga ini terbentuk pada 3 November 2004 dan mulai aktif sejak Mei 2005. GeRAK Aceh telah melakukan proses monitoring, investigasi dan advokasi temuan indikasi korupsi di Aceh. Dengan dukungan personil 12 orang dan didukung oleh beberapa jaringan di daerah, lembaga ini telah melakukan rangkaian aktivitas di atas secara terpadu dan kontinu dengan melibatkan para pihak yang lain di Aceh. Gebrakan ini sebagai komitmen GeRAK Aceh untuk membumikan gerakan perlawanan memberantas korupsi di Serambi Mekkah.

Dalam kesempatan ini, saya ingin sekali saya menyebutkan bila teman-teman di GeRAK Aceh bukanlah penyambung lidah rakyat, tetapi kami akan terus berusaha agar rakyat “bisa bicara” dengan kekuatannya sendiri. Prinsip dasar ini yang menjadi filosofi gerakan sehingga pendidikan dan penyadaran rakyat untuk tahu akan hak dan kewajibannya sebagai warga negara menjadi tugas urgent untuk terus dibumikan. Artinya, regenerasi pergerakan adalah bagian penting untuk menjaga eksistensi perjuangan ini. Jika tidak, membuka “mata” dan membangun “keberanian” rakyat untuk bicara, membuka dan “menangkap” para penjarah uang negara hanya menjadi mimpi-mimpi saja. Dan itu adalah sebuah kebodohan sejarah yang amat menyedihkan.

Korupsi Dan Advokasi
Dari hasil audit BPK RI tentang Belanja Daerah membuktikan jika tingkat penyimpangan anggaran mulai dari salah peruntukan, tidak tepat sasaran, hingga tidak ada bukti pertanggungjawaban yang lengkap terus terjadi di Aceh. Riset GeRAK Aceh untuk tahun anggaran 2004 dengan cakupan wilayah 13 kabupaten/kota di Aceh (termasuk provinsi), tingkat penyimpangan anggaran mencapai Rp 749.882.185.938. Artinya, rata-rata di tiap wilayah menyimpang sebesar Rp 57.683.245.072. Sedangkan pada tahun anggaran 2005 dan 2006, tingkat penyimpangan anggaran pada 10 daerah mencapai Rp 378.322.496.261, dengan rata-rata sebesar Rp 37.832.249.626 per tahun/daerah.

Hasil monitoring GeRAK Aceh, terdapat 18 kasus lama yang hingga belum juga masuk ke Pengadilan serta tidak jelas prosesnya. Hal ini telah berlangsung lama sejak tahun 2001 hingga saat ini. Jika dikalkulasikan, potensi uang rakyat yang hilang adalah Rp 380.376.000.000. Bukan hanya itu, GeRAK Aceh telah melaporkan 19 kasus indikasi korupsi ke aparatur penegak hukum dengan potensi kerugian negara mencapai Rp 694.139.233.043 Dari laporan ini, ada beberapa kasus yang sedang ditangani secara hukum, dimana GeRAK Aceh mendapatkan akses informasi tentang hal tersebut. Namun, ada bebepa kasus yang tidak jelas penanganannya sehingga sampai saat ini tidak diketahui progres penegakan hukum atas indikasi penyimpangan dan korupsi anggaran itu.Terhadap pelaporan kasus di atas, GeRAK Aceh terus melakukan monitoring dan advokasi, termasuk dengan menyurati aparatur penegak hukum untuk menanyakan perkembangan tindak lanjut atas laporan kasus itu. Dan umumnya, tidak jelas posisi hukumnya atas kasus-kasus di atas.

Potret di atas menunjukkan jika advokasi kasus korupsi tidaklah mudah. Kegagalan dan keberhasilan dari rentetan advokasi menjadi romantisme gerakan. Dua hal ini yang acap kali memberikan warna terhadap upaya membangun sebuah gerakan yang massif dan kontinu di Aceh. Namun demikian, ketika kegagalan yang tuai, bukan berarti bebas dari petikan makna didalamnya melainkan tetap ada nilai perjuangan yang mendalam. Paling tidak, usaha dan keberanian serta tekad yang membaja telah membentuk dinding advokasi sehingga tidak terputus. Bukan sekedar itu, kegagalan atau pun keberhasilan dalam menempa advokasi tetap pada sebuah harapan untuk membangun kepercayaan masyarakat yang selama ini sudah sedemikian apatis akan perubahan nasib dan wajah kehidupan nanggroe. Hal inilah yang kemudian tetap meneguhkan komitmen teman-teman GeRAK Aceh.

Karena kami sadar bila kepercayaan masyarakat merupakan awal bangkitnya gerakan anti korupsi di negara mana pun. Karenanya, menghargai sebuah laporan, sekecil apa pun, menjadi amat penting untuk mengakarnya sebuah titik perjuangan yang melibatkan rakyat. Dengan jiwa lapang, GeRAK Aceh menyadari jika rapor advokasi ini belum mampu memuaskan banyak pihak, terutama masyarakat yang selama in telah memberikan kepercayaannya kepada lembaga ini. Kondisi ini tidak terlepas dari ketersediaan sumber daya (waktu, tenaga dan anggaran) dalam melakukan advokasi secara total itu. GeRAK Aceh hanya diperkuat oleh 12 staf saja yang harus menjangkau seluruh wilayah Aceh.

Dan, alhamdulillah, di beberapa daerah sudah ada jaringan antikorupsi sehingga jika ada pengaduan masyarakat tentang indikasi korupsi dapat meminta bantuan dari jaringan tersebut untuk menindaklanjutinya. Tetapi, bukan berati pula, keberadaan sumber daya ini menjadi harga mati sebuah keberhasilan atau kegagalan advokasi. Artinya, banyak persoalan lain (faktor-faktor eksternal) yang amat mempengaruhi catatan advokasi tersebut. Karenanya, hubungan dengan semua pihak, mulai dari mahasiswa, anggota Parlemen, aparatur penegak hukum, ulama, akademisi, termasuk teman-teman media, menjadi sebuah terobosan yang strategis.

Laporan Masyarakat
Sepanjang Januri 2006 hingga April 2007 GeRAK Aceh telah menerima 328 laporan atau pengaduan masyarakat, baik dalam konteks anggaran daerah dan rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh.
Angka ini menunjukkan bahwa setiap bulan rata-rata GeRAK Aceh menerima 20,5 laporan masyarakat. Dari jumlah laporan tersebut, sebanyak 77 kasus telah tertangani dengan baik dimana semuanya terbukti adanya kesalahan dan penyelewengan setelah diperkuat dengan hasil monitoring dan investigasi GeRAK Aceh. Kami juga telah menyelesaikan laporan sebanyak 64, sementara 13 kasus dalam tindak lanjut proses penanganan oleh aparatur penegak hukum.

Sedangkan sisa kasus yang dimediasi dan ditindak lanjuti dengan monitoring awal secara keseluruhan adalah berjumlah 251 kasus. Proses ini dilakukan karena laporan tersebut setelah ditelaah oleh tim GeRAK Aceh, diketahui tidak terbukti adanya indikasi penyimpangan dan korupsi. Sedangkan rata-rata kemampuan penanganan laporan secara sempurna sebanyak 77 laporan dari total 238 laporan yang masuk. Artinya, setiap bulan, GeRAK Aceh mampu menyelesaikan sebanyak 4,8 kasus. Atau GeRAK Aceh mampu menyelesaikan sebuah kasus dalam 5 hari kerja. GeRAK Aceh menerima laporan masyarakat melalui 3 cara, yakni dengan mengisi Form Pelaporan Kasus (FPM) sebanyak 238 laporan, melalui SMS dan Telepon sebanyak 53 laporan dan mendatangi langsung sekretariat GeRAK Aceh sebanyak 37 laporan dengan rata-rata sebanyak 8-1 orang saat melaporkan kasus

Seluruh pengaduan ditangani dalam proses advokasi baik secara litigasi maupun non-litigasi. Secara litigasi, advokasi yang dilakukan dengan cara melaporkan langsung kepada aparat penegah hukum hingga ke Satuan Anti Korupsi (SAK) BRR NAD-Nias. Sedangkan secara non litigasi, GeRAK Aceh melakukan jalur dialog (hearing) dengan pihak terkait hingga masalahnya selesai. Bahkan, GeRAK Aceh juga menangani pengaduan masyarakat tentang pembebasan tanah untuk beberapa proyek pemerintah/TNI/Polri di beberapa wilayah di Aceh. Dalam beberapa pengaduan, GeRAK Aceh melakukannya secara bersama-sama dengan LSM lainnya yang memiliki kaitan dengan laporan tersebut sehingga lebih efektif. Di samping itu, dalam setiap penanganan laporan pengaduan ini, GeRAK Aceh tetap menjamin dan melindungi para pelapor sehingga apabila ada persoalan hukum akibat pengaduan itu, GeRAK Aceh tetap melakukan pembelaan hukum bagi pelapor.

Lilin Kecil
Ya Allah, saksikanlah ketika kami berteriak dengan lantang, tangkap dan adili koruptor, mereka hanya tersenyum sumringan. Ketika kami terpaksa ”menghujat” dengan kata-kata, mereka hanya diam dan malah berbicara manis lagi. Ketika kami mulai lelah berterik dan berhenti ”menghujat”, mereka kembali dan bergegas menguasai lagi. Menjarah uang dan kekayaan negeri untuk kepentingan sendiri. Ya Allah, bantulah kami yang saban malam gelisah, merenungi negeri yang kian gundah. Bocah-bocah miskin yang diserang bungsu lapar dan gizi buruk di negeri yang kaya raya.

Mereka adalah korban dari gilanya prilaku dan watak seorang penjaran harta negara. Karena ulang maling bernama : koruptor! Ya Allah, lindungilah kami menanjaki jalan terjan ini. Menyusun batu bata, tiang-tiang pemerintahan yang peduli dengan nasib rakyatnya. Saban hari, kami berjibaku di tengah teror jiwa yang menyerbu semangat ini, berjihad memberantas korupsi di nanggroe Aceh tercinta. Tanpa bantuan-Mu, usaha kami pasti akan tak bermakna untuk bangsa!

Kami sadar bahwa korupsi adalah salah satu kejahatan sosial yang paling menyengsarakan manusia. Karenanya, pemberantasan korupsi bukanlah sebuah pilihan, melainkan telah menjadi kewajiban mutlak untuk membangun kehidupan manusia yang makmur dan bermartabat. Dengan segala keterbatasan yang ada, InsyaAllah kami akan terus berusaha membangun kesadaran bersama menuju Aceh yang lebih baik. Mendorong tata kelola pemerintahan yang membuka peluang dan memiliki political will untuk mensejahterakan rakyatnya sebagai pemegang saham negeri ini.

Dan salah satu pintu menuju ke arah tersebut adalah dengan menghidupkan lilin-lilin kecil yang tidak toleran dengan korupsi, di mana pun, kapan pun, dan oleh siapa pun? Tentu, dukungan media massa di Aceh telah begitu berjasa menghidupkan lilin-lilin kecil itu. Semoga kondisisi ini dapat terus kita lestarikan menuju Aceh Baru yang benar-benar tidak toleran dengan korupsi.

Kendala Dan Rekomendasi
Ada beberapa kendala penting dalam upaya percepatan pemberantasan korupsi di Aceh. Pertama, masih lemahnya penerapan prinsip good governance, bahkan sebatas political will saja masih jarang ditemukan sehingga upaya pemberantasan korupsi jalan di tempat. Kinerja lembaga pengawas pemerintah daerah pun seperti BPKP dan Bawasda belum mampu mendorong upaya efek jera bagi pelaku. Kehadiran para pemimpin baru di Aceh, baik level provinsi maupun kabupaten dan kota, belum menunjukan gebrakan nyata untuk pemberantasan korupsi.

Kedua, belum maksimalnya kinerja aparatur penegak hukum. Karena itu, GeRAK Aceh mendesak pihak aparatur penegak hukum baik Polisi, Jaksa dan Hakim untuk meneruskan proses hukum terhadap kasus-kasus korupsi, sehingga kasus tersebut memiliki keputusan hukum yang tetap (incracht).Ketiga,Peran kontrol legislatif (DPRD) di Aceh belum maksimal sehingga setiap tahun modus operandi yang sama terus terulang.

Sedangkan dalam konteks rehabilitasi dan rekonstruksi, kendala juga muncul. Pertama, BRR NAD-Nias yang pada awalnya mengikrarkan diri sebagai lembaga yang anti korupsi ternyata tidak mampu membuktikan komitmennya. Hal ini tergambar dari banyaknya temuan indikasi penyimpangan dan korupsi dalam rehabilitasi dan rekonstruski Aceh-Nias. Peran Satuan Anti Korupsi (SAK) pun belum maksimal. Perubahan posisi SAK yang kini telah bernaung di bawah Dewan Pengawas semoga menjadi warna baru mendorong pemberantsan korupsi di tubuh rehabilitrasi dan rekonstruksi kita.
Oleh: Abdullah Abdul Muthaleb
Alumi Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Unsyiah
Kini sebagai Manager Program Monitoring Parlemen GeRAK Aceh