Sabtu, 17 Mei 2008
Biar Luka Terlukis di Embun Pagi
Taburan permata ketika perjalanan melewati bahagia
keceriaan mata sayu memenjarakan duka
sedangkan kesedihan
tak mampu kuterjang
ia melekat erat enggan melepaskan diri
merangkulku, hingga tak mengerti semua ini
bimbang,
sepanjang tak mengenal arti : cinta sejati
Kutemukan sosok diri di tengah sabana
diantara pohon-pohon dan ilang kering
menutupi pandangan mataku
Seluruhnya bersemi saat musim hujan menemani bumi
namun kini layu lagi dan mati
bak jiwa ini
terkurung luka tiada mampu berkata, bicara uraikan asa
Biarpun semangat patah terbelah
tetap kupegang daya tersisa
mewujudkan impian orang-orang tersayang
ayah, ibu dan kekasihku !
Kutup rapat mata ini
dan telinga kujauhkan dari suara
agar aku bernyali dan luka terlukis saja
di dinding embun pagi ini
ia bakal hilang sekejap ketika mentari menapaki
buana fana
Darussalam, 27 Juli 2003
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar