Tulisan ini adalah tulisan Bang Risman A Rachman. Seorang Staf BRR NAD-Nias. Beliau memberikan pandangannya yang cukup filosofis sekali terhadap tulisan saya di Serambi Indonesia yaitu Surat "Putus" Cinta Untuk BRR. Terima kasih Bang Risman. Tulisan Bang Risman ini dimuat di Serambi Indonesia, 26/5/2007.
..................................................................................
Terus terang, surat "putus cinta" yang kau tulis secara terbuka (Surat "Putus Cinta" Untuk BRR, Serambi Indonesia, 22/5) membuat batinku miris. Seketika saja, aku terlempar pada ingatan lalu, kala mahligai cinta yang kita bangun bersama (BRR NAD-NIAS) disambut haru biru, tidak hanya oleh mereka yang menunggu kiprah kita, melainkan pula mereka yang datang dari negeri seberang. Mereka, yang dulunya, kerap kita rindui, persis kala rumah kita tercabik-cabik oleh konflik. Sungguh, Abdul. Suratmu berkali-kali kubaca. Ku coba memahami detak jantungmu dengan kasih yang tak berkurang. Tapi yang ku dapat hanya kalimat amarah yang menggelora. Katakanlah daku bersalah, seperti kesaksian mereka yang kau jadikan bukti. Tapi, mengapa itu lalu membuatmu murka? Dan, yang takku mengerti mengapa juga sampai kau sebut kekecewaanmu mewakili mereka yang sama-sama kita jadikan tujuan dari kiprah kita, yang walau berbeda tapi juga bertujuan sama? Mengapa? Apakah jumlah pertemuanmu jauh lebih banyak dengan jumlah pertemuanku dengan mereka? Atau, apakah penglihatanmu jauh lebih tajam dari penglihatanku? Apakah detak jantungku sudah berbeda dengan detak jantungmu? Tidak Abdul. Rasa cintamu terhadap mereka yang sampai saat ini belum terangkat dari derita sama dengan rasa cintaku. Dan, begitu pula dengan yang lain. Dalam hal cinta, tidak pernah ada yang bisa menguranginya. Tidak juga oleh gajiku yang katamu lebih besar. Ku coba kembali untuk mengerti kalimat demi kalimat tapi yang kutemui, sekali lagi hanya amarah. Tapi, kenapa amarah itu kau dasarkan pada tafsir yang tak jelas sanad-nya? Baiklah, katakanlah kau benar. Tapi, mengapa kebenaranmu harus kau tukar dengan amarah? Ingat Abdul, dulu kebenaran yang kita tukar dengan amarah tidak malah pencerahan yang kita peroleh. Kuharap sekali kalimat ini masih melekat dihatimu karena konflik belum berlalu dari peta ingatan kita.
Abdul. Aku teringat seorang tua yang mengibaratkan kita yang gagal karena menebas pekatnya hitam di sudut kamar dengan pedang kekuatan. Kenapa? Karena hitam hanya bisa dikalahkan oleh cahaya lilin. Abdul, andai kau yakin dirimu benar maka jadilah lilin. Dan, aku bukanlah benteng yang tak bisa kau kalahkan. Aku ini adalah bahagian dari dirimu, dan tidak ada yang menghalangi kita untuk focus pada kiprah kita, untuk sebuah tujuan yang dulu sama-sama kita tancapkan di Nanggroe Indatu ini. Abdul. Tak ada yang tidak bisa kita perbaiki jika memang ada kesalahan. Dan, daku pun tidak menyimpan sehelai benang amarahpun untuk mu walau kutau luka hatimu sudah begitu mendalam. Yang paling sulit, kala amarah menjadi mata pikir dan cermin hati kita. Kala itu lah seluruh penglihatan kita akan menentukan kesimpulan kita. Ingatkah, kala dulu amarah masih mendera diri kita semua? Kita, masing-masing mengumpulkan angka-angka, saksi-saksi, bahkan kita, masing-masing berlomba berteriak akan derita? Tapi, begitu hati dan pikir kita tersentuh oleh cinta dan tersadar bahwa Aceh adalah rumah kita bersama maka dikala itu pula angka-angka dan saksi-saksi tersimpan dibilik data. Yang ada adalah, dengan cinta, kita semua bersepakat untuk mewujudkan damai di Aceh.
Duh Abdul. Semoga ingatan kasih sayang itu tidak sirna hanya karena kau mengemban tugas advokasi. Tidak selalu advokasi adalah sikap mengepung, menyerang, dan menikam lawan persis di jantungnya. Advokasi adalah seni mendorong perubahan, yang senantiasa disesuaikan dengan dinamika dan pengenalan karakteristik lawan. Ingat Abdul, kesaksian senantiasa menjelaskan bahwa dalam politik yang berseni lawan adalah kawan pada akhirnya. Dan, aku tentu bukanlah orang yang harus kau tempatkan sebagai lawan kan. Tak ada yang harus aku sembunyikan. Dan, siapa saja, termasuk dirimu terbuka mendatangiku. Dan, bila harus bukankah diriku bisa kau panggil untuk meminta pertanggungjawaban dan atau mengklarifikasi sebelum kau layangkan surat "putus cinta."
Abdul. dua tahun sudah aku berkerja. Sama sepertimu walau dengan cara dan focus yang berbeda. Dan, tentu tidak harus aku sebut lagi apa yang sudah aku capai karena amarahmu pasti menutup teligamu untuk menerima penjelasanku. Aku sadar, di lapangan kerjaku yang begitu luas dan rumit tidak mudah untuk segera mungkin menghasilkan apa yang diharapkan.
Abdul, sungguh tak pernah terbersit dihatiku untuk memperlambat membangun 128.000 rumah yang hancur di Minggu kelabu dua setengah tahun lalu. Ya, 128.000 rumah, Abdul! Dan, kukira kau juga paham, rumah hanya satu bagian. Di lain sisi, aku harus menjahit jembatan putus, jalan yang terkelupas, sekolah ambruk, jiwa yang labil, dan berbagai sarana lain, baik yang terlihat oleh mata maupun yang terbaca dengan hati. Kurasa kau belum lupa, saat itu ombak ganas menghancurkan 800 kilometer bibir pantai kita. Kota Banda Aceh dan Calang remuk redam. Di jalan-jalan, sampah menggunung. Orang-orang hanya bisa menatap dengan mata sayu. Waktu itu, hari seluruhnya gelap. Untuk membersihkan sampah dan mayat saja, kita butuh waktu tiga bulan. Seorang kawan malah tak menyangka Banda Aceh bisa dihuni kembali seperti yang kita saksikan hari ini. Itu adalah hasil kerja keras semua pihak.
Dan, itu semua orang tahu. Tapi, aku juga sadar bahwa ekspektasi mereka yang terkena bencana tidak pernah berkurang. Harapan untuk segera teratasi cukup aku mengerti dan pahami, persis sebagaimana yang kau mengerti. Tapi, kenapa amarahmu malah menutup mata mu untuk melihat sisi keberhasilan yang sudah dicapai? Anehnya, kenapa justru mereka yang dari jauh bisa menghargai apa yang sudah dicapai? Apakah karena mereka memiliki perbandingan dengan tempat-tempat yang juga melakukan hal yang sama namun tidak seperti apa yang telah dicapai disini? Abdul, ingin sekali aku ingatkan bahwa ini BRR kita. Masih ingatkah kau akan papan-papan nama yang ada di sejumlah tempat dan lokasi? BRR Kita Abdul. Dan, kuharap jangan sampai kau tambah BRR dan KITA.
Papan itu memang bisu Abdul. Tapi, percayalah, papan itu membisikkan ke kita semua bahwa ada tali ikatan terkandung dalam makna kata KITA. Dan, surat "putus cinta" yang kau tulis mengkuatirkan batinku pada penambahan "DAN". Aku kuatir bukan karena pesanmu bahwa BRR sudah harus diakhiri. Tidak. Ini tugas yang ditentukan waktunya dan tetap bisa dipersingkat jika diputuskan demikian adanya. Tapi percayalah, bahwa aku sudah berkomitmen bahwa masa kerja final pada 2009. Yang terpikir olehku justru bagaimana memastikan akhir kerja ini bisa berlangsung dengan sukses. Sukses dalam artian menyelesaikan tugas dan sukses dalam artian bisa dilanjutkan dengan baik oleh yang melanjutkan. Dan, itu juga telah mulai dijalankan secara terkoordinir. Abdul. aku memang tidak bisa memaksamu untuk menarik surat "putus cinta" itu. Dan, aku juga tidak bisa menjamin bahwa suratku bisa menyurutkan langkahmu untuk memutuskanku. Tapi, aku yakin selama ini, jiwa-jiwa mereka yang membutuhkan keberanian kita semua untuk saling berkerjasama dan menghentikan politik "tare aki" bisa membuatmu tersentuh.
Aku yakin, cintamu pada mereka mampu meredam amarahmu dan melihatku kembali dengan cinta. Sungguh Abdul, ini BRR KITA dan bukan BRR dan KITA. Percayalah, jika sampai BRR dan KITA itu nyata maka akulah orang pertama yang akan menarik diri dan aku berjanji akan menjadi serdadumu demi mereka yang dulu membuat kita mengepalkan tangan kiri dengan gagah perkasa. Salam cinta untuk mu, Abdul.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar