Selasa, 24 Juni 2008

20 Juni 2005 – 20 Juni 2008 : Tiga Tahun Sudah!

Merendahlah, engkau akan seperti bintang-gemintang... . Berkilau di pandang orang di atas riak air dan sang bintang nun jauh tinggi. Janganlah seperti asap yang mengangkat diri tinggi di langit, padahal dirinya rendah-hina" (Ust. Rahmat Abdullah)"

Tiga Tahun Sudah. Tak terasa, tiga tahun sudah aku di sini. Bersama teman-teman dari berbagai daerah di Aceh. Dengan latarbelakang aktivitas sebelumnya yang juga tak sama. Aku menempa diri. Belajar memahami persoalan korupsi, anggaran, kebijakan publik hingga berbagai persoalan rakyat di Aceh. Sejak mengabdi di sini pula, banyak kenangan indah yang telah kunikmati. Sekian daerah (lokal dan nasional) telah kujelajahi. Pengalaman-pengalaman itu sepertinya mengatakan bila inilah kehidupan untukmu, Na Tinta!

Tiga Tahun Sudah. Aku belajar menjadi pribadi yang mampu bekerja dalam “team”. Aku sadari, begitu banyak kendala pribadi yang kuhadapi tetapi lambat laun aku harus mampu berkata bila inilah ideologi kehidupan aktivis anti korupsi. Belajar dari kesederhaan banyak pribadi lain. Karena aku sadari benar bila “satu jari telunjuk kita arahkan untuk orang lain maka sisa jari kita yang lain sebenarnya menunjuk ke arah diriku”. Aku bicara anti korupsi, pasti semua orang akan melihat kehidupanku, keluargaku dan orang-orang terdekat dihatiku!

Tiga Tahun Sudah. Di Gerakan Anti Korupsi (GeRAK) Aceh aku ikrarkan diri bila inilah pilihan hidupku. Aku ingin buktikan dengan sekuat tenaga, tanpa alpa senantiasa berharap ridho-Mu ya Rabb, aku ingin menjadi aktivis anti korupsi sepanjang hayatku. Meski esok aku tak lagi di sini. Di lembaga yang saat ini adalah simbol perlawanan memberantas korupsi di negeri Syariat Islam : Aceh. Karena dalam berbagai forum, aku selalu berkata bila aku tak bangga disebut aktivis anti korupsi! Sama sekali tidak.

Sebutan itu lebih patut aku terima, atau siapan pun juga, ketika dia tidak lagi bekerja secara formal di lembaga anti korupsi. Julukan itu harus diuji sepuluh, dua puluh atau tiga puluh tahun ke depan. Masihkah aktivis anti korupsi benar-benar mampu bertahan dengan ideologi anti korupsi? Pertanyaan tajam ini yang selalu tertambat dalam jiwaku. Apakah aku sanggup, apakah keluargaku kelak adalah orang-orang yang juga punya tolerasi untuk tidak korupsi? Korupsi yang kumaksud di sini bukan hanya korupsi dalam versi undang-undangan produksi manusia, tetapi juga lebih didasari pada nilai-nilai kejujuran, amanah, tidak khianat, sederhana, qana’ah, dan mampu menjadi keteladanan bagi manusia sekitar? Itulah filososfi anti korupsi sesunggunhya!

Aktivis anti korupsi sebenarnya tak selamanya mereka yang bekerja di gerakan anti korupsi! Setiap orang yang menolak melakukan suap agar anaknya menjadi “orang” adalah aktivis anti korupsi. Setiap insan yang tidak mau harga dirinya dinjak-injak hanya karena suap, atau merubahan aturan baku yang berlaku, demi kepentingan materi, sesungguhnya dia juga aktivis anti korupsi.

Seorang petani yang tidak “mencuri” air dari sawah petani yang lain, yang ada di samping sawahnya, meski padinya akan mati bila tidak segera mendapatkan air, maka ialah tipikal aktivis anti korupsi. Seorang mahasiswa yang tidak melakukan penipuan nilai hanya untuk mendapatkan beasiswa jutaan rupiah, tidak nyontek saat ujian, meski IPK-nya tak kunjung membaik, adalah bagian tak terpisahkan dari nilai-nilai dari sosok aktivis anti korupsi. Semua kita punya peluang dan potensi, tinggal kita mau memilih yang mana : aktivis anti korupsi atau justeru menjadi orang-orang yang toleran dengan korupsi!

Tiga Tahun Sudah. Aku di sini berjibun dengan buku-buku. Dan esok aku tak tahu berada di mana. Hanya kepada-Mu ya Rabb, aku berserah diri. Semoga aku tetap menjadi hamba-Mu yang tidak toleran dengan semua bentuk prilaku yang menjurus korupsi. Dan lebih penting lagi, jangan Engkau tempatkan aku dalam dunia ini, di waktu dan tempat, jabatan dan karirku, yang di sana adalah potensi besar aku menjadi “pengkhiat” atas ideologi anti korupsiku saat ini. Jauhkanlah hamba dari semua itu, bila itu semua tak mampu buat aku bertahan! Tetapkanlah diri ini pada posisi yang hidup ada adanya jika itu lebih mampu aku hidup sederhana, lebih jujur dan dicintai oleh orang-orang yang selama ini terus mencintaiku. Amin ya Rabb.

Banda Aceh, 24 Juni 2008, 08:59

Selasa, 17 Juni 2008

Semoga Aku Mampu!

Hari demi hari kulewati dengan semangat baru, meski kadang aku terombang-ambing dalam kebimbangan. Tapi inilah kehidupan. Sebuah perjalanan merintis masa depan. Kadang jalannya berliku. Tak jarang posisi kita berada di bawah, terjal dan hampir jatuh...."Namun, kata teman saya, "meski kadang kita turun, naik dan jalannya itu berliku-liku, tetapi sebenarnya kita sedang menuju ke puncak!" Kata-kata itu menancam kuat, tak goyah, dalam relung hati ini. Aku renungkan begitu lama, dan akhirnya aku menilai bila kata-kata itu begitu bermakna. Benar dan membutuhkan daya tahan, kesabaran yang tak mengenal waktu.

Namun, aku juga manusia, termasuk Anda juga mungkin merasakan hal yang sama. Harapan tak seindah mimpi. Itu pasti. Keadaaan di sekitar kita sering juga tak seperti rencana-rencana di atas kertas. Dan kekuatan kita sebenarnya adalah sejauhmana kita mampu beradaptasi untuk mengatasi perubahan yang datang tiba-tiba? Sekuat apa kita mampu menahan hantaman dan gejolak lingkungan sekitar kita itu? Ketahuilah, ketangguhan itulah yang membedakan kita dengan orang lain!

Karena itu pula, saya ingin mengajak Anda untuk mencoba dna terus mencoba dalam hidup. Sepanjang itu tak melanggar aturan Allah SWT, mengapa kita mesti takut dengan kegagalan? Bahkan semangat hidup kita yang menoton, menerima keadaan yang sebenarnya kita mampu berbuat lebih banyak, telah merusak potensi keberhasilan yang sejatinya dapat kita raih. Semoga aku dan kita semua mampu.

Banda Aceh, 17 Juni 2008 : 17.52 WIB

Kamis, 12 Juni 2008

Aku Ingin Tetap "Menangis"!


Teman, seringkali malam-malam kita penuh kegelapan. Mata enggan terpejam sembari butiran air mata mengali tak terasa. Hati nurani yang tulus tak akan bisa tidur ketika dosa-dosa sepanjang hari kita anggap sebagai beban yang harus dipertanggungujawabkan kelak. Bila ini kita lupakan, maka sepanjang hidup kita tidak akan ada beban sama sekali. Kita akan terus tersenyum tanpa merasa bersalah. Seharusnya, sesekali kita harus menangis!

Kita semua sering membaca dan mendengarkan kata-kata menyejukkan ini. "Engkau dilahirkan ibumu dalam keadaan menangis. Sedangkan manusia di sekelilingmu tertawa bahagia. Maka berbuatlah sesuatu untuk satu hari di mana kematianmu datang, engkau meninggal dalam keadaan tersenyum bahagia dan sementara orang lain menangisi kepergianmu." (Ali bin Abi Thalib).
Dengan kata-kata ini, sejatinya kian menguatkan kita bahwa tujuan hidup ini tak sekedar berganti waktu melainkan juga ada impian masa depan yang harus kita jawab. Dan air mata yang didorong oleh kejujuarn batin adalah simbol ketulusan. Pertanyaannnya, apakah ketika kita mengakhiri hidup ini akan banyak orang yang menangis atau malah sebaliknya, justeru orang lain di dunia ini malah tertawa dan merasakan kesenangan yang luar biasa.

Suatu waktu menjelang fajar, renungilah jalan hidup ini. Duduk bersimpuh di atas sajadah. Doakalah dengan tulus untuk ibu dan ayah kita! Untuk orang-orang terbaik yang pernah memberikan inspirasi dalam hidup kita. Karena begitu, sepanjang waktu, setiap nafas yang kita hembuskan...adalah pertanda dan bagian dari membuat hidup kita benar-benar bermakna. Dari filosofi inilah, aku mencoba mengaruhi kerasnya kehidupan dunia. Ya, tanpa pertolongan Engkau, sungguh aku akan terhempas tak berdaya.

Ibu, dirimu yang bersusah payah melahirkan diriku. Berjuang antara hidup atau mati..! Semoga semua pengorbanan itu tak sia-sia. Aku menjadi anakmu yang setia.

Banda Aceh, 12 Juni 2008 : 16.05 WIB

Selasa, 10 Juni 2008

Aku Bukan Pemberontak!

Aku bukan pemberontak, bung!
Aku hanya ingin mengingatkan saja bahwa dunia ini sudah tua
Aku ingin sekedar berkata-kata
Bila kebenaran harus tetap tegak
Idealisme tidak bisa diperjualbelikan
Dengan isi rekening uang berjuta-juta
Dengan fasilitas negara atau apa pun namanya
Karena ketidakjujuran adalah musuh nurani
Atas nama kebenaran, aku nyatakan diri sebagai pemberontak!


Aku bukan pemberontak, bung!
Hanya ada impian besar dalam hidupku
Bertahan untuk mengabdikan diri
Menjalankan pesan-pesan Tuhan dengan tulus
Ketulusan hidup
Kesederhanaan
Apa adanya
Dalam semua itu aku butuh dukungan
Seseorang yang dapat meneguhkan sikap pemberontakan ini.

Aku pemberontak kepada nilai-nilai kemunafikan
Senyum peduli rakyat yang menipu!

Banda Aceh, 10 Juni 2008 Pukul 19:10


Lhokseumawe, Lawatan Mengurai "Pilihan-Pilihan" Untuk Hidup

Teman, sebagaimana cerita aku sebelumnya bahwa aku harus terus berpindah dari suatu waktu dengan tempat yang berbeda. Minggu pagi kemarin (8 Juni 2008), sekitar jam 09.10 WIB aku berangkat ke Lhokseumawe lagi. Sebelumnya aku hubungi dirinya. Aku pamit. Aku jelaskan bahwa agenda aku ke sana adalah menunaikan tugas. Besok, di Aula RRI Lhokseumawe, GeRAK Aceh mengadakan Konsultasi Publik Rancangan Qanun Kesehatan Aceh. Karena itu, aku berangkat hari minggu. Aku minta restu dan doanya.

Aku tiba di Lhokseumawe memang agak terlambat. Aku berangkat dengan teman kantor dengan mencarter satu unit mobil yang dibiayai oleh kantor. Beberapa tempat kami singgahi, mulai dari Rumah Makan Cek Ram di Trienggadeng (dan aku sholat di sini) hingga minum air tebu di Cot Geuleungkue. Subhanallah..! Ini kenikmatan yang Engkau suguhkan kepada hamba-hambu-Mu. Kemudian aku ingat ketika aku mengikuti sebuah kuliah agama bahwa “berjalanlah kamu di atas muka bumi…engaku pasti akan menyaksikan kekuasaan Allah yang luar biasa, dan itu niscaya akan menambah keyakinanmu kepada kekuasaan Rabbi.

Teman, tak terasa aku tiba di Lhokseumawe mendekati pukul 16.30 sore. Aku singgah di MaTA Aceh. Dan kemudian kawanku berangkat ke Wisma Selat Malaka dengan tujuan untuk mengurus penginapan bagi narasumber yang akan tiba dari Banda Aceh, nanti malam. Dan aku di MaTA Aceh terus menyiapakan keperluan yan berkenaan dengan agenda besok termasuk memastikan kesediaan Bapak Hamid Zein (Karo Hukum dan Humas Provinsi Aceh) untuk menjadi narasumber dalam talkshow malam besok di RRI Banda Aceh. ALhamdulillah, beliau bisa.

Dan malamnya aku mengorbankan "tidur" hingga pukul 04.45 WIB. Poses ini juga sambil sms-san dengannya. Sedangkan aku berdiskusi panjang lebar dengan “senior”ku di sana. Dari persoalan republik ini, nanggroe Aceh, korupsi, prediksi-prediksi “mengerikan” tentang Pemilu mendatang hingga aku banyak bertanya, menggali alternatif “pilihan-pilihan” hidupku kelak. Bersamanya aku banyak cerita, soal pribadi. Aku mendapatkan banyak masukan tentang arah masa depan hidupku, termasuk soal cinta.

Mataku baru terpejam menjelang pukul 04.45 WIB. Dan tak terasa, baru aku istirahat sebentar, suara azan menggema. Aku bangun dan sholat Shubuh. Dan kemudian aku keluar kamar. Kuberjalan beberapa langkah menuju ruang tamu. Dari jendela yang tak tertutup gorden, aku mengintip “Serambi Indonesia” telah jatuh di halaman rumah. Aku keluar dan mengambilnya. Aku membuka pelan-pelan. Beberapa berita cukup mengagetkanku. Dan aku kembali berputar-putar, mengelilingi meja rapat yang berbentuk persegi empat. Ide kembali muncul. Soal Dana Silpa yang triliunan itu harus aku buatkan dalam tulisan. Dalam 3 hari ini harus selesai. Batinku, meski tugas-tugas lain belum selesai. Entahlah.

Dan sekitar pukul 08.35 aku dan teman-teman yang lain berangkat ke tempat kegiatan. Aku membuka acara dan kemudian mempersilahkan Bapak Dr. Eddy Purnama, SH. M.Hum dan Bang TAF Haikal untuk tampil ke depan. Presentasi dimulai. Peserta tidak terlalu banyak tetapi aku yakin, banyak input yang akan diperoleh. Beberapa saat kemudian aku keluar dari ruang kegiatan. Ponselku kembali kuaktifkan. Aku harus menghubung teman-teman GeRAK Aceh di Banda Aceh. Aku ingin sharring tentang hasil Regular Meeting dengan Tim Advokasi KIBBLA Aceh Besar, rencana mau ketemu dengan Bupati Aceh Besar hingga agenda Talkshow di RRI Banda Aceh. Proses demikian adalah kebiasaanku sehingga advokasi ini dapat berlangsung dengan baik.

Konsultasi Publik berlangsung hingga pukul 12.15 WIB. Aku menutup kegiatan tersebut dengan menyampaikan terima kasih dan harapan dukungan seluruh pihak atas rancangan qanun ini. Kemudian, kegiatan diakhir dengan makan siang bersama. Acara selesai. Dan, yang tak kuduga adalah bahwa Pak Eddy mengajak aku ke Matangkuli. Ia ingin menjenguk ibunya yang sakit. Namun sebelum berangkat, aku singgah ke kantor MaTA Aceh sembari mengantarkan perlengkapan kegiatan.

Perjalanan ke rumah orang tua Pak Eddy membutuhkan waktu sekitar 35 menit dengan jarak, aku prediksikan mendekati 30 km. Pak Eddy banyak bercerita tentang eksplorasi gas yang berlangsung di sekitar Matangkuli. Cerita tragis yang berlangsung puluhan tahun. Dan baru kali ini aku menyaksikan tempat-tempat pengolahan gas secara lebih dekat. Gas yang dikeruk dari bumi Aceh ternyata tidak memberikan kesejahteraan untuk Aceh, dan tragisnya lagi untuk masyarakat sekitar. Aku terdiam. Aku tak bicara. Boleh jadi, dan mungkin saja ini tak terbantahkan, dan juga sudah menjadi rahasia umum di warung-warung kopi di seantero Aceh bahwa konflik dan perang bersenjata yang berlangsung puluhan tahun pun juga di mulai dari suasana yang kulihat ini. Tragis.

Lupakan soal pengerukaan gas itu, karena aku kini telah tiba di Kantor MaTA Aceh lagi. Dan sekitar jam 13.15 WIB aku berangkat pulang ke Banda Aceh. Namun demikian, sesampai di Kota Bireun kami singgah dulu di DPRD Bireun. Ada keperluan Pak Eddy untuk bertemu dengan para pihak di sana. Aku di sana hinga menjelang pukul 18.30 WIB. Acara selesai, kemudian kami pulang ke Banda Aceh. Bang Haikal tetap tinggal di Kota Bireun. Dan aku, bersama Hasmuni, Pak Eddy dan Bang Rida segera berangkat. Banda Aceh, aku hendak menuju ke sana.

Kami tiba di Banda Aceh sekitar jam 23.40 WIB. Segera ke sebuah kawasan di Banda Aceh. Ternyata lokasi yang kutuju tak jauh dari rumahnya. Aku hanya sebentar di sana. Segera aku dengan team yang ada, segera menyusuri jalan-jalan tanpa pengguna lagi. Toh sudah mau tenggelam dengan gelap malam. Alhamdullilah, aku tiba di rumah pukul 00.15 WIB. Hari telah berganti. Tanggal 8 Juni 2008 pun menjadi 9 Juni 2008. Aku sampaikan ke dia bahwa aku telah tiba di rumah. Aku ingat Engkau ya Rabb. Sholat Isya, aku harus segera berwudhu. Puji syukur kepada-Mu yang Rabbi. Selamat malam, cinta.

Pilihan-pilihan itu, dalam waktu dekat akan kusampaikan, dengan hatiku kepadamu.

Banda Aceh, 10 Juni 2008 : 16.01 WIB

Sabtu, 07 Juni 2008

Dua Hari di Calang

Terus terang, perjalanan ke Calang kali ini luar biasa. Lelah dan amat menantang. Aku berangkat ke sana dengan Tim HSP USAID dengan menggunakan Kijang Innova. Dari Banda Aceh bergerak hari Rabu, 4 Juni 2008, pukul 20.30 Wib. Sebelumnya, sore itu aku menerima sahabat dekatku di kantor. Beberapa informasi yang dapat aku bantu, kusampaikan kepada keduanya.

Selepas magrib, aku dijemput di kantorku, kawasan Lamgugob. Perjalanan kemudian menjemput teman yang lain sehingga praktis berangkat jam 20.30 malam. Gerimis datang, aku mencoba tenang. Aku berzikir, mengingat-Mu. Sembari itu aku juga sms-san dengannya. Aku mohon doa, termasuk aku menelpon keluargaku di Sigli. Ini kebiasaanku menjelang keberangkatan dalam menjalankan tugas kantor.

Dalam perjalanan, komunikasi via sms berjalan terus. "Aku bahagia bisa ketemu". Dua hati itu menyebutnya demikian. Aku dan kamu tentu. Dan tak terasa, aku tiba di Calang menjelang pukul 03.00 dinihari. Aku ke Calang dalam rangka membantu advokasi KIBBLA HSP-USAID. Dua hari aku menfasilitasi proses ini yang dibantu oleh Tim DTPS Dinkes Provinsi NAD dan Team HSP. Melelahkan, karena banyak warna-warni baru yang aku dapati.

Aku kembali ke Banda Aceh hari Jumat-nya, pukul 19.00 Wib. Malam itu hujan dan cukup "mengkhawatirkan". Dan ternyata menjelang tiba di penyebarangan Lamno, kami terjebak dengan lumpur besar. Jalan menjadi macet. Puluhan kendaraan berhenti. Mungkin pas kami tiba jam 23.30 malam di sana, deretan kendaraan itu sudah berhenti tidak kurang dari dua jam. Satu persatu kendaraan ditarik dengan truk sehingga mampu melewati lumpur besar itu. Dan alhamdulillah, kami menembus lumpur itu tanpa bantuan (tarikan) dari truk.

Aku tiba di rumah menjelang pukul 03.00 dinihari. Nafas panjang kuhela. Pintu rumah kuketuk pelan. Adik sepupuku bangun dan membukakan pintu dengan sempoyongan. Aku menjadi tidak "enak" saat itu. Membangunkan dia dari tidur lelap. Toh dia juga seharian cukup lelah dengan pekerjaaannya, batinku saat itu.

Aku memasukkan dua tas ku, yang penuh dengan buku dan pakaian. Aku bergegas ke kamar mandi. Aku sudah sholat tadi. Tapi aku kembali wudhu dan sikat gigi, membersihkan muka dan menggantikan pakaian untuk istirahat. Shubuh sebentar lagi akan datang. Aku berbaring dan sebelumnya aku sudah kabari dia, bahwa aku telah tiba di Banda Aceh dengan selamat. Aku sadar, dia juga telah tertidur lelap. Dia juga cukup lelah sekali. Tapi tak apalah, ketika dia terbangun, dia tahu bila aku telah kembali.

Dari Calang aku kembali, dan senin depan (16/6/2008) direncanakan aku akan kembali lagi ke sana. Tugas melanjutkan RTL yang belum selesai. Dan besok (minggu), aku berencana akan berangkat lagi ke Lhokseumawe. Agenda tentu untuk melaksanakan konsultasi publik Rancangan Qanun Kesehatan Aceh.

Banda Aceh 7 Juni 2008 :pukul 17.53

Rabu, 04 Juni 2008

Aku Lelah

Dalam kurun waktu sebulan terakhir, begitu sulit nafasku bernafas. Aku lelah. Bergerak dari satu bumi menuju tanah yang lain. Antar pulau, antar daratan. Banyak hal yang kusaksikan. Dari Puncak Bogor, Danau Toba hingga Sibolga. Esok malam, aku ke Calang lagi. Kota yang hancur luluh lantak karena bencana. Semua aktivitas ini adalah untuk menunaikan tugas-tugasku. Tanggung jawab moral untuk menjalankan sebuah amanah. Nafasku seperti berkata. Istirahat sejenak, bung! Tapi sabarlah dirimu, kata ku malam itu. Perjalanan ini hanya sebentar saja. Akhir bulan ini, aku akan bisa tidur malam lebih lelap. Kita bisa sms-san lagi. Sabar..sabarlah, temanku!

Aku tahu, dirimu mungkin sedikit lelah memahami aku, temanku. Tapi sadarilah bila aku telah hidup dalam dunia seperti ini. Aku tak bisa diam dan meninggalkan semua ini dengan tiba-tiba! Seringkali aku mencoba diam! Toh, semua itu butuh waktu. Karena itu pula, sabarlah ketika selularku tak tersambung oleh dirimu, temanku.

Aku percaya, semua ini menuju kedewasaan dan kematangan kita dalam mengarungi hidup ini. Hidup kita. Hidup keluarga kita. Karena itu pula, diri ini mengabdi dan mengambil peran dalam hidup ini. Untuk seorang ibu, yang kini terus menungguku. Aku pulang tanpa muka yang sedih lagi. Di Dayah Teungoh, desa kecil yang telah menempaku dari bocah hingga mampu berkata-kata. Hingga kini aku mampu "bicara" dan berteriak lantang. Mengenal dirimu dari waktu ke waktu. Namun aku percaya, dirimu sebagai sosok temanku mampu pahami seluruh gerakan hidupku.

Dalam raga hingga jiwaku! Aku percaya dirimu mampu, sobat! Sahabatku, mengertilah aku!

Banda Aceh, 3 Juni 2008 : 16.35

Hapuslah Air Matamu, Sobatku!

Tadi malam, mataku begitu lelah. Jujur aku tak mampu membaca lagi sekian buku-buku yang kubawa pulang dari Bekasi. Selepas shalat Magrib, makan malam hingga azan Isya tiba. Aku sholat Isya dan ngaji beberapa ayat Al-Qur'an. Ini kebiasaan ku menjelang tidur dan selepas Shubuh. Di atas meja, tumpukan buku baru itu justru menatapku bisu. Mungkin dia tersenyum, 13 buku baru hanya baru kubaca daftar isi saja.

Semalam, jiwaku merintih. Sebuah pesan yang masuk ke selulerku. Sebuah pesan darinya itu baru kubaca hampir 1 jam kemudian. Aku baru terjaga dan kubalas dengan singkat saja. Mata terpejam lagi karena memang baru tadi magrib aku ke dokter mata. Inderaku yang satu ini sakit, terasa perih dan berkedip-kedip terus. Yach, ini kesalahanku. Terlalu memaksa diri selama ini.

Paginya, jam 07.10 aku sudah berangkat, menuju Grand Nanggroe Hotel karena di sana ada Konsultasi Publik Rancangan Qanun Kesehatan Aceh. Kegiatan ini kerjasama GeRAK Aceh dengan HSP-USAID. Dalam kesempatan ini, aku curi waktu untuk sms-san lagi, dengannya. Ya, sambil menunggu peserta datang semua.

Ternyata, mimpiku yang begitu sedih dan bercampur bahagia...sedangkan di sana, dia menangis dan tak mampu pejamkan mata hingga menjelang shubuh! Aku terkejut dengan kabar itu. Aku hanya berharap dirimu tak apa-apa, semoga dirimu baik-baik saja. Aku minta dengan hati tulus. Simpanlah semua itu hingga suatu waktu kita akan bersatu. Hapuslah air matamu, temanku!

Dan sebentar lagi aku akan hubungi dirimu, sobat. Karena bada Magrib nanti, aku bersama Team HSP-USAID akan berangkat ke Calang lagi. Dan kemungkinan aku juga akan menjadi narasumber di Meulaboh juga. InsyaAllah, Sabtu ini aku akan kembali, di sini. Banda Aceh.

Temanku, aku mengerti makna air matamu!

Banda Aceh, 4 Juni 2008 : 15.55 WIB