Selasa, 24 Juni 2008

20 Juni 2005 – 20 Juni 2008 : Tiga Tahun Sudah!

Merendahlah, engkau akan seperti bintang-gemintang... . Berkilau di pandang orang di atas riak air dan sang bintang nun jauh tinggi. Janganlah seperti asap yang mengangkat diri tinggi di langit, padahal dirinya rendah-hina" (Ust. Rahmat Abdullah)"

Tiga Tahun Sudah. Tak terasa, tiga tahun sudah aku di sini. Bersama teman-teman dari berbagai daerah di Aceh. Dengan latarbelakang aktivitas sebelumnya yang juga tak sama. Aku menempa diri. Belajar memahami persoalan korupsi, anggaran, kebijakan publik hingga berbagai persoalan rakyat di Aceh. Sejak mengabdi di sini pula, banyak kenangan indah yang telah kunikmati. Sekian daerah (lokal dan nasional) telah kujelajahi. Pengalaman-pengalaman itu sepertinya mengatakan bila inilah kehidupan untukmu, Na Tinta!

Tiga Tahun Sudah. Aku belajar menjadi pribadi yang mampu bekerja dalam “team”. Aku sadari, begitu banyak kendala pribadi yang kuhadapi tetapi lambat laun aku harus mampu berkata bila inilah ideologi kehidupan aktivis anti korupsi. Belajar dari kesederhaan banyak pribadi lain. Karena aku sadari benar bila “satu jari telunjuk kita arahkan untuk orang lain maka sisa jari kita yang lain sebenarnya menunjuk ke arah diriku”. Aku bicara anti korupsi, pasti semua orang akan melihat kehidupanku, keluargaku dan orang-orang terdekat dihatiku!

Tiga Tahun Sudah. Di Gerakan Anti Korupsi (GeRAK) Aceh aku ikrarkan diri bila inilah pilihan hidupku. Aku ingin buktikan dengan sekuat tenaga, tanpa alpa senantiasa berharap ridho-Mu ya Rabb, aku ingin menjadi aktivis anti korupsi sepanjang hayatku. Meski esok aku tak lagi di sini. Di lembaga yang saat ini adalah simbol perlawanan memberantas korupsi di negeri Syariat Islam : Aceh. Karena dalam berbagai forum, aku selalu berkata bila aku tak bangga disebut aktivis anti korupsi! Sama sekali tidak.

Sebutan itu lebih patut aku terima, atau siapan pun juga, ketika dia tidak lagi bekerja secara formal di lembaga anti korupsi. Julukan itu harus diuji sepuluh, dua puluh atau tiga puluh tahun ke depan. Masihkah aktivis anti korupsi benar-benar mampu bertahan dengan ideologi anti korupsi? Pertanyaan tajam ini yang selalu tertambat dalam jiwaku. Apakah aku sanggup, apakah keluargaku kelak adalah orang-orang yang juga punya tolerasi untuk tidak korupsi? Korupsi yang kumaksud di sini bukan hanya korupsi dalam versi undang-undangan produksi manusia, tetapi juga lebih didasari pada nilai-nilai kejujuran, amanah, tidak khianat, sederhana, qana’ah, dan mampu menjadi keteladanan bagi manusia sekitar? Itulah filososfi anti korupsi sesunggunhya!

Aktivis anti korupsi sebenarnya tak selamanya mereka yang bekerja di gerakan anti korupsi! Setiap orang yang menolak melakukan suap agar anaknya menjadi “orang” adalah aktivis anti korupsi. Setiap insan yang tidak mau harga dirinya dinjak-injak hanya karena suap, atau merubahan aturan baku yang berlaku, demi kepentingan materi, sesungguhnya dia juga aktivis anti korupsi.

Seorang petani yang tidak “mencuri” air dari sawah petani yang lain, yang ada di samping sawahnya, meski padinya akan mati bila tidak segera mendapatkan air, maka ialah tipikal aktivis anti korupsi. Seorang mahasiswa yang tidak melakukan penipuan nilai hanya untuk mendapatkan beasiswa jutaan rupiah, tidak nyontek saat ujian, meski IPK-nya tak kunjung membaik, adalah bagian tak terpisahkan dari nilai-nilai dari sosok aktivis anti korupsi. Semua kita punya peluang dan potensi, tinggal kita mau memilih yang mana : aktivis anti korupsi atau justeru menjadi orang-orang yang toleran dengan korupsi!

Tiga Tahun Sudah. Aku di sini berjibun dengan buku-buku. Dan esok aku tak tahu berada di mana. Hanya kepada-Mu ya Rabb, aku berserah diri. Semoga aku tetap menjadi hamba-Mu yang tidak toleran dengan semua bentuk prilaku yang menjurus korupsi. Dan lebih penting lagi, jangan Engkau tempatkan aku dalam dunia ini, di waktu dan tempat, jabatan dan karirku, yang di sana adalah potensi besar aku menjadi “pengkhiat” atas ideologi anti korupsiku saat ini. Jauhkanlah hamba dari semua itu, bila itu semua tak mampu buat aku bertahan! Tetapkanlah diri ini pada posisi yang hidup ada adanya jika itu lebih mampu aku hidup sederhana, lebih jujur dan dicintai oleh orang-orang yang selama ini terus mencintaiku. Amin ya Rabb.

Banda Aceh, 24 Juni 2008, 08:59

1 komentar:

Alwin Khafidhoh mengatakan...

Amin Ya Allah...semoga istiqomah ya bang...