Kamis, 12 Juni 2008

Aku Ingin Tetap "Menangis"!


Teman, seringkali malam-malam kita penuh kegelapan. Mata enggan terpejam sembari butiran air mata mengali tak terasa. Hati nurani yang tulus tak akan bisa tidur ketika dosa-dosa sepanjang hari kita anggap sebagai beban yang harus dipertanggungujawabkan kelak. Bila ini kita lupakan, maka sepanjang hidup kita tidak akan ada beban sama sekali. Kita akan terus tersenyum tanpa merasa bersalah. Seharusnya, sesekali kita harus menangis!

Kita semua sering membaca dan mendengarkan kata-kata menyejukkan ini. "Engkau dilahirkan ibumu dalam keadaan menangis. Sedangkan manusia di sekelilingmu tertawa bahagia. Maka berbuatlah sesuatu untuk satu hari di mana kematianmu datang, engkau meninggal dalam keadaan tersenyum bahagia dan sementara orang lain menangisi kepergianmu." (Ali bin Abi Thalib).
Dengan kata-kata ini, sejatinya kian menguatkan kita bahwa tujuan hidup ini tak sekedar berganti waktu melainkan juga ada impian masa depan yang harus kita jawab. Dan air mata yang didorong oleh kejujuarn batin adalah simbol ketulusan. Pertanyaannnya, apakah ketika kita mengakhiri hidup ini akan banyak orang yang menangis atau malah sebaliknya, justeru orang lain di dunia ini malah tertawa dan merasakan kesenangan yang luar biasa.

Suatu waktu menjelang fajar, renungilah jalan hidup ini. Duduk bersimpuh di atas sajadah. Doakalah dengan tulus untuk ibu dan ayah kita! Untuk orang-orang terbaik yang pernah memberikan inspirasi dalam hidup kita. Karena begitu, sepanjang waktu, setiap nafas yang kita hembuskan...adalah pertanda dan bagian dari membuat hidup kita benar-benar bermakna. Dari filosofi inilah, aku mencoba mengaruhi kerasnya kehidupan dunia. Ya, tanpa pertolongan Engkau, sungguh aku akan terhempas tak berdaya.

Ibu, dirimu yang bersusah payah melahirkan diriku. Berjuang antara hidup atau mati..! Semoga semua pengorbanan itu tak sia-sia. Aku menjadi anakmu yang setia.

Banda Aceh, 12 Juni 2008 : 16.05 WIB

Tidak ada komentar: