Teman, sebagaimana cerita aku sebelumnya bahwa aku harus terus berpindah dari suatu waktu dengan tempat yang berbeda. Minggu pagi kemarin (8 Juni 2008), sekitar jam 09.10 WIB aku berangkat ke Lhokseumawe lagi. Sebelumnya aku hubungi dirinya. Aku pamit. Aku jelaskan bahwa agenda aku ke sana adalah menunaikan tugas. Besok, di Aula RRI Lhokseumawe, GeRAK Aceh mengadakan Konsultasi Publik Rancangan Qanun Kesehatan Aceh. Karena itu, aku berangkat hari minggu. Aku minta restu dan doanya.
Aku tiba di Lhokseumawe memang agak terlambat. Aku berangkat dengan teman kantor dengan mencarter satu unit mobil yang dibiayai oleh kantor. Beberapa tempat kami singgahi, mulai dari Rumah Makan Cek Ram di Trienggadeng (dan aku sholat di sini) hingga minum air tebu di Cot Geuleungkue. Subhanallah..! Ini kenikmatan yang Engkau suguhkan kepada hamba-hambu-Mu. Kemudian aku ingat ketika aku mengikuti sebuah kuliah agama bahwa “berjalanlah kamu di atas muka bumi…engaku pasti akan menyaksikan kekuasaan Allah yang luar biasa, dan itu niscaya akan menambah keyakinanmu kepada kekuasaan Rabbi.
Teman, tak terasa aku tiba di Lhokseumawe mendekati pukul 16.30 sore. Aku singgah di MaTA Aceh. Dan kemudian kawanku berangkat ke Wisma Selat Malaka dengan tujuan untuk mengurus penginapan bagi narasumber yang akan tiba dari Banda Aceh, nanti malam. Dan aku di MaTA Aceh terus menyiapakan keperluan yan berkenaan dengan agenda besok termasuk memastikan kesediaan Bapak Hamid Zein (Karo Hukum dan Humas Provinsi Aceh) untuk menjadi narasumber dalam talkshow malam besok di RRI Banda Aceh. ALhamdulillah, beliau bisa.
Dan malamnya aku mengorbankan "tidur" hingga pukul 04.45 WIB. Poses ini juga sambil sms-san dengannya. Sedangkan aku berdiskusi panjang lebar dengan “senior”ku di sana. Dari persoalan republik ini, nanggroe Aceh, korupsi, prediksi-prediksi “mengerikan” tentang Pemilu mendatang hingga aku banyak bertanya, menggali alternatif “pilihan-pilihan” hidupku kelak. Bersamanya aku banyak cerita, soal pribadi. Aku mendapatkan banyak masukan tentang arah masa depan hidupku, termasuk soal cinta.
Mataku baru terpejam menjelang pukul 04.45 WIB. Dan tak terasa, baru aku istirahat sebentar, suara azan menggema. Aku bangun dan sholat Shubuh. Dan kemudian aku keluar kamar. Kuberjalan beberapa langkah menuju ruang tamu. Dari jendela yang tak tertutup gorden, aku mengintip “Serambi Indonesia” telah jatuh di halaman rumah. Aku keluar dan mengambilnya. Aku membuka pelan-pelan. Beberapa berita cukup mengagetkanku. Dan aku kembali berputar-putar, mengelilingi meja rapat yang berbentuk persegi empat. Ide kembali muncul. Soal Dana Silpa yang triliunan itu harus aku buatkan dalam tulisan. Dalam 3 hari ini harus selesai. Batinku, meski tugas-tugas lain belum selesai. Entahlah.
Dan sekitar pukul 08.35 aku dan teman-teman yang lain berangkat ke tempat kegiatan. Aku membuka acara dan kemudian mempersilahkan Bapak Dr. Eddy Purnama, SH. M.Hum dan Bang TAF Haikal untuk tampil ke depan. Presentasi dimulai. Peserta tidak terlalu banyak tetapi aku yakin, banyak input yang akan diperoleh. Beberapa saat kemudian aku keluar dari ruang kegiatan. Ponselku kembali kuaktifkan. Aku harus menghubung teman-teman GeRAK Aceh di Banda Aceh. Aku ingin sharring tentang hasil Regular Meeting dengan Tim Advokasi KIBBLA Aceh Besar, rencana mau ketemu dengan Bupati Aceh Besar hingga agenda Talkshow di RRI Banda Aceh. Proses demikian adalah kebiasaanku sehingga advokasi ini dapat berlangsung dengan baik.
Konsultasi Publik berlangsung hingga pukul 12.15 WIB. Aku menutup kegiatan tersebut dengan menyampaikan terima kasih dan harapan dukungan seluruh pihak atas rancangan qanun ini. Kemudian, kegiatan diakhir dengan makan siang bersama. Acara selesai. Dan, yang tak kuduga adalah bahwa Pak Eddy mengajak aku ke Matangkuli. Ia ingin menjenguk ibunya yang sakit. Namun sebelum berangkat, aku singgah ke kantor MaTA Aceh sembari mengantarkan perlengkapan kegiatan.
Perjalanan ke rumah orang tua Pak Eddy membutuhkan waktu sekitar 35 menit dengan jarak, aku prediksikan mendekati 30 km. Pak Eddy banyak bercerita tentang eksplorasi gas yang berlangsung di sekitar Matangkuli. Cerita tragis yang berlangsung puluhan tahun. Dan baru kali ini aku menyaksikan tempat-tempat pengolahan gas secara lebih dekat. Gas yang dikeruk dari bumi Aceh ternyata tidak memberikan kesejahteraan untuk Aceh, dan tragisnya lagi untuk masyarakat sekitar. Aku terdiam. Aku tak bicara. Boleh jadi, dan mungkin saja ini tak terbantahkan, dan juga sudah menjadi rahasia umum di warung-warung kopi di seantero Aceh bahwa konflik dan perang bersenjata yang berlangsung puluhan tahun pun juga di mulai dari suasana yang kulihat ini. Tragis.
Lupakan soal pengerukaan gas itu, karena aku kini telah tiba di Kantor MaTA Aceh lagi. Dan sekitar jam 13.15 WIB aku berangkat pulang ke Banda Aceh. Namun demikian, sesampai di Kota Bireun kami singgah dulu di DPRD Bireun. Ada keperluan Pak Eddy untuk bertemu dengan para pihak di sana. Aku di sana hinga menjelang pukul 18.30 WIB. Acara selesai, kemudian kami pulang ke Banda Aceh. Bang Haikal tetap tinggal di Kota Bireun. Dan aku, bersama Hasmuni, Pak Eddy dan Bang Rida segera berangkat. Banda Aceh, aku hendak menuju ke sana.
Kami tiba di Banda Aceh sekitar jam 23.40 WIB. Segera ke sebuah kawasan di Banda Aceh. Ternyata lokasi yang kutuju tak jauh dari rumahnya. Aku hanya sebentar di sana. Segera aku dengan team yang ada, segera menyusuri jalan-jalan tanpa pengguna lagi. Toh sudah mau tenggelam dengan gelap malam. Alhamdullilah, aku tiba di rumah pukul 00.15 WIB. Hari telah berganti. Tanggal 8 Juni 2008 pun menjadi 9 Juni 2008. Aku sampaikan ke dia bahwa aku telah tiba di rumah. Aku ingat Engkau ya Rabb. Sholat Isya, aku harus segera berwudhu. Puji syukur kepada-Mu yang Rabbi. Selamat malam, cinta.
Pilihan-pilihan itu, dalam waktu dekat akan kusampaikan, dengan hatiku kepadamu.
Banda Aceh, 10 Juni 2008 : 16.01 WIB
Aku tiba di Lhokseumawe memang agak terlambat. Aku berangkat dengan teman kantor dengan mencarter satu unit mobil yang dibiayai oleh kantor. Beberapa tempat kami singgahi, mulai dari Rumah Makan Cek Ram di Trienggadeng (dan aku sholat di sini) hingga minum air tebu di Cot Geuleungkue. Subhanallah..! Ini kenikmatan yang Engkau suguhkan kepada hamba-hambu-Mu. Kemudian aku ingat ketika aku mengikuti sebuah kuliah agama bahwa “berjalanlah kamu di atas muka bumi…engaku pasti akan menyaksikan kekuasaan Allah yang luar biasa, dan itu niscaya akan menambah keyakinanmu kepada kekuasaan Rabbi.
Teman, tak terasa aku tiba di Lhokseumawe mendekati pukul 16.30 sore. Aku singgah di MaTA Aceh. Dan kemudian kawanku berangkat ke Wisma Selat Malaka dengan tujuan untuk mengurus penginapan bagi narasumber yang akan tiba dari Banda Aceh, nanti malam. Dan aku di MaTA Aceh terus menyiapakan keperluan yan berkenaan dengan agenda besok termasuk memastikan kesediaan Bapak Hamid Zein (Karo Hukum dan Humas Provinsi Aceh) untuk menjadi narasumber dalam talkshow malam besok di RRI Banda Aceh. ALhamdulillah, beliau bisa.
Dan malamnya aku mengorbankan "tidur" hingga pukul 04.45 WIB. Poses ini juga sambil sms-san dengannya. Sedangkan aku berdiskusi panjang lebar dengan “senior”ku di sana. Dari persoalan republik ini, nanggroe Aceh, korupsi, prediksi-prediksi “mengerikan” tentang Pemilu mendatang hingga aku banyak bertanya, menggali alternatif “pilihan-pilihan” hidupku kelak. Bersamanya aku banyak cerita, soal pribadi. Aku mendapatkan banyak masukan tentang arah masa depan hidupku, termasuk soal cinta.
Mataku baru terpejam menjelang pukul 04.45 WIB. Dan tak terasa, baru aku istirahat sebentar, suara azan menggema. Aku bangun dan sholat Shubuh. Dan kemudian aku keluar kamar. Kuberjalan beberapa langkah menuju ruang tamu. Dari jendela yang tak tertutup gorden, aku mengintip “Serambi Indonesia” telah jatuh di halaman rumah. Aku keluar dan mengambilnya. Aku membuka pelan-pelan. Beberapa berita cukup mengagetkanku. Dan aku kembali berputar-putar, mengelilingi meja rapat yang berbentuk persegi empat. Ide kembali muncul. Soal Dana Silpa yang triliunan itu harus aku buatkan dalam tulisan. Dalam 3 hari ini harus selesai. Batinku, meski tugas-tugas lain belum selesai. Entahlah.
Dan sekitar pukul 08.35 aku dan teman-teman yang lain berangkat ke tempat kegiatan. Aku membuka acara dan kemudian mempersilahkan Bapak Dr. Eddy Purnama, SH. M.Hum dan Bang TAF Haikal untuk tampil ke depan. Presentasi dimulai. Peserta tidak terlalu banyak tetapi aku yakin, banyak input yang akan diperoleh. Beberapa saat kemudian aku keluar dari ruang kegiatan. Ponselku kembali kuaktifkan. Aku harus menghubung teman-teman GeRAK Aceh di Banda Aceh. Aku ingin sharring tentang hasil Regular Meeting dengan Tim Advokasi KIBBLA Aceh Besar, rencana mau ketemu dengan Bupati Aceh Besar hingga agenda Talkshow di RRI Banda Aceh. Proses demikian adalah kebiasaanku sehingga advokasi ini dapat berlangsung dengan baik.
Konsultasi Publik berlangsung hingga pukul 12.15 WIB. Aku menutup kegiatan tersebut dengan menyampaikan terima kasih dan harapan dukungan seluruh pihak atas rancangan qanun ini. Kemudian, kegiatan diakhir dengan makan siang bersama. Acara selesai. Dan, yang tak kuduga adalah bahwa Pak Eddy mengajak aku ke Matangkuli. Ia ingin menjenguk ibunya yang sakit. Namun sebelum berangkat, aku singgah ke kantor MaTA Aceh sembari mengantarkan perlengkapan kegiatan.
Perjalanan ke rumah orang tua Pak Eddy membutuhkan waktu sekitar 35 menit dengan jarak, aku prediksikan mendekati 30 km. Pak Eddy banyak bercerita tentang eksplorasi gas yang berlangsung di sekitar Matangkuli. Cerita tragis yang berlangsung puluhan tahun. Dan baru kali ini aku menyaksikan tempat-tempat pengolahan gas secara lebih dekat. Gas yang dikeruk dari bumi Aceh ternyata tidak memberikan kesejahteraan untuk Aceh, dan tragisnya lagi untuk masyarakat sekitar. Aku terdiam. Aku tak bicara. Boleh jadi, dan mungkin saja ini tak terbantahkan, dan juga sudah menjadi rahasia umum di warung-warung kopi di seantero Aceh bahwa konflik dan perang bersenjata yang berlangsung puluhan tahun pun juga di mulai dari suasana yang kulihat ini. Tragis.
Lupakan soal pengerukaan gas itu, karena aku kini telah tiba di Kantor MaTA Aceh lagi. Dan sekitar jam 13.15 WIB aku berangkat pulang ke Banda Aceh. Namun demikian, sesampai di Kota Bireun kami singgah dulu di DPRD Bireun. Ada keperluan Pak Eddy untuk bertemu dengan para pihak di sana. Aku di sana hinga menjelang pukul 18.30 WIB. Acara selesai, kemudian kami pulang ke Banda Aceh. Bang Haikal tetap tinggal di Kota Bireun. Dan aku, bersama Hasmuni, Pak Eddy dan Bang Rida segera berangkat. Banda Aceh, aku hendak menuju ke sana.
Kami tiba di Banda Aceh sekitar jam 23.40 WIB. Segera ke sebuah kawasan di Banda Aceh. Ternyata lokasi yang kutuju tak jauh dari rumahnya. Aku hanya sebentar di sana. Segera aku dengan team yang ada, segera menyusuri jalan-jalan tanpa pengguna lagi. Toh sudah mau tenggelam dengan gelap malam. Alhamdullilah, aku tiba di rumah pukul 00.15 WIB. Hari telah berganti. Tanggal 8 Juni 2008 pun menjadi 9 Juni 2008. Aku sampaikan ke dia bahwa aku telah tiba di rumah. Aku ingat Engkau ya Rabb. Sholat Isya, aku harus segera berwudhu. Puji syukur kepada-Mu yang Rabbi. Selamat malam, cinta.
Pilihan-pilihan itu, dalam waktu dekat akan kusampaikan, dengan hatiku kepadamu.
Banda Aceh, 10 Juni 2008 : 16.01 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar