Jumat, 31 Oktober 2008

Pasrah

Sendiri. Hidup memang sepi, tetapi aku menikmati semua itu dengan cinta yang kupunya. Jiwa yang kupunya tentu mengeluh. Saban malam, hitungan menit bahkan jam sekalipun kian bergerak lamban. Aku terbangun..! Hampa tiada sesuatu yang dapat sejukkan hati, kecuali bersujud untuk-Mu ya Rabb!

Malam dan hari, Oktober segera berakhir. Aku kandas dalam banyak hal. Namun aku yakin aku masih punya harapan. Sekian harapan itu juga telah membuatkan tersenyum lega. Secuil prestasi kecil kuraih jua. Seperti embun pagi yang ingin saban hari menanti mentari, meski kemudian hilang karenanya. Suatu saat aku akan "hilang", setelah semuanya usai kuberikan, untuk..mu! Takdir-Mu ya Rabb akan menjawab semua misteri ini.

Aku yakin, mungkin itulah yang terbaik untuk seorang Abdullah Abdul Muthaleb.

Lorong Durian 7, 31 Oktober: 17.42 WIB


Na Tinta

Kamis, 30 Oktober 2008

TERUS “BERPUASA”TANPA RAMADHAN


Tanpa terasa, bulan suci Ramdhan telah pergi. Meninggalkan ummat Islam dengan kualitas rapor ketaqwaan yang berbeda. Sebab, tidak secara otomatis ketaqwaan telah teraih oleh setiap muslim yang berpuasa. Allah SWT berfirman, ”Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana yang telah diwajibkan kepada umat-umat sebelum kamu, semoga kamu bertaqwa” (Al -Baqarah : 183). Di ujung ayat ini Allah SWT menekankan bahwa tidak semua alumni Ramadhan akan menyandang gelar ketaqwaan itu. Namun, serendah apa pun rapor ketaqwaan yang kita peroleh, tantangan terbesar justeru pasca Ramadhan. Masihkah kita akan terus “berpuasa” tanpa Ramadhan? Melaksanakan seluruh nilai-nilai puasa biar pun tak lagi bersama Ramadhan?

Dua Keshalehan
Ramadhan adalah bulan latihan untuk membentuk kembali sosok muslim yang memiliki dua poros keshalehan. Dua keshalehan ini kemudian akan menentukan rapor ketaqwaan itu. Pertama, keshalehan secara vertikal kepada Allah SWT yang cenderung membangun keshalehan pribadi (individual). Implementasi wujud keshalehan ini melalui optimalisasi berbagai ibadah yang langsung dengan Rabbi, seperti sholat wajib dan terawih plus witir, zikir, membaca Al-Qur’an, tahajjud di tengah malam, hingga iktikaf di mesjid pada 10 Ramadhan terakhir.

Kedua, keshalehan secara horizontal yang membangun keshalehan sosial yang kita wujudkan dengan kepekaan, solidaritas dengan sesama manusia yang lain. Ibadah sosial ini juga melambung tinggi. Sedakah, meyantuni anak yatim, membantu kaum duafa hingga rentetan ibadah-ibadan sosial lainnya, menjadi trend yang marak kita temui di bulan suc. Berbagai lembaga (dari pemerintah hingga non pemerintah) pun berlomba-lomba berbuka puasa dengan anak yatim dan orang-orang miskin. Bahkan, momentum Ramadhan tidak terlepas dari lirikan para pemain politik untuk mengumpulan poin menjelang 2009. Ramadhan sebagai wahana keshalehan sosial ini menunjukkan betapa eratnya persaudaraan dalam kehidupan.

Dengan demikian, seorang muslim yang taat dalam Ramdhan akan mengakui dengan jujur bahwa bulan ini telah membentuk jiwa dan raganya yang baru. Dirinya berjuang menghindari seluruh hal yang dapat menyebabkan batal puasa sekaligus batalnya pahala dari puasa yang ia lakukan. Orang berpuasa ditantang kejujurannya dan mempunyai komitmen keimanan yang tinggi serta mematuhi rambu-rambu yang telah digariskan. Tiada pembangkangan atas aturan karena ia tidak rela cacatnya nilai puasa dalam pandangan Allah SWT. Ia ingin kembali fitrah pada 1 Syawal 1428 H.

“Puasa” Tanpa Ramadhan
Alkisah, Nasruddin Khoja sebagaimana dituliskan oleh Raja Juli Antoni (Kompas, 19 Oktober 2007) berlebaran ke rumah seorang tokoh sufi yang terkenal pada zamanya. Nasruddin bertanya, “Ramadhan telah usai dengan baik. Apa sebenarnya yang harus kulakukan sekarang?”. Sang sufi pun menjawab, “Ramadhan memang terlah berlalu, tetapi tetaplah berpuasa sampai Ramadhan berikutnya!”. Nasruddin pun bingung dengan perkataan sang sufi itu. Dengan seketika, sang sufi memberikan penjelasan bahwa “meskipun Ramadhan berakhir, ummat Islam tetap harus berpuasa tidak marah, mencuri, berbohong, bergungjing dan sifat tercela lainnya”.

Cerita singkat di atas sebenarnya sang sufi ingin mengajak ummat Islam agar terus “berpuasa” meskipun tanpa lagi Ramadhan. Ibarat anak sekolah, Ramadhan adalah bulan “training” sedangkan pelaksanaan dari apa yang dipelajari dalam masa training (latihan) akan diterapkan dalam 11 bulan selanjutnya. Apabila di bulan penerapan (implementasi) kita tidak serius atau gagal sama sekali maka sebenarnya puasa kita adalah puasa sekedar rutinitas belaka.

Bukankah Rasulullah mensinyalir ”begitu banyak orang yang berpuasa namun ia tidak mendapatkan pahala apa-apa, melainkan lapar dan dahaga saja?” Boleh jadi, bila kita berada dalam kategori Rasulullah tersebut, besar kemungkinan kita tidak mampu “berpuasa” lagi ketika Ramdahan telah usai.

Urgensi “Puasa” Untuk Aceh
Prestasi tertinggi dari puasa adalah ketaqwaan. Tinggi atau rendahya nilai ketaqwaan itu dapat dilihat apakah orang yang berpuasa akan terus “berpuasa” meskipun tanpa Ramadhan? Tanpa Ramadhan tetap menginternalisasikan atau mempertahankan nilai-nilai yang telah diajarkan? Apakah kejujuran dan kepedulian sesama manusia akan kita pertahankan? Apakah kerja keras dan solidaritas sosial akan tetap membumi? Sifat amanah, hidup dengan sederhana dan anti korupsi akan kita praktikkan meski tak lagi di bulan suci? Singkat kata, sanggupkan kita berjuang melanjutkan estafet keshalehan vertikal (habblumminallah) dan keshalehan sosial (habblumminannas) ketika hiruk-pikuk Ramadhan tak lagi menggema?

Alumni Ramadhan yang menjadi mayoritas penduduk Aceh memegang peranan penting dalam mengatasi problematikan Aceh hari ini. Bayangkan, begitu pentingnya semua pihak untuk menahan diri sehingga perdamaian dapat terus abadi. Perdamaian yang baru seumur jagung akan semakin kokoh apabila para alumni Ramadhan terus “berpuasa” menetralisir nafsu serakah dan mematikan niat merekayasa segala bentuk aktivitas yang dapat menggangu benih kedamaian ini. Apabila pelajaran dalam bulan suci mampu dilaksankana dengan baik maka akan membantu meredam segala niat untuk tidak sepakat Aceh terus damai. Akan mempercepat tercapainya proses reintegrasi yang sesungguhnya.

Ramadhan pula menjadi pelajaran berharga guna memperbaiki citra Aceh yang berjibun “umat Islam” tapi korup. Harapan kita semua, nilai kejujuran dan pelayanan yang santun di bulan Ramadhan tetap mampu dipertahankan oleh birokrasi di Aceh. Visi besar Irwandi-Nazar “terwujudnya perubahan yang fundamental di Aceh dalam segala sektor kehidupan masyarakat Aceh dan pemerintahan, yang menjunjung tinggi azas transparansi dan akuntabilitas bagi terbentuknya suatu pemerintahan Aceh yang bebas dari praktik korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan sehingga pada tahun 2015 Aceh akan tumbuh menjadi negeri yang makmur yang berkeadilan dan adil dalam kemakmuran” akan semakin mudah digapai apabila birokrasi pemerintahan tidak meninggalkan pelajaran Ramadhan dan terus “berpuasa”. Komitmen ini akan membangun perubahan fundamental, lahirnya transparansi dan akuntabillitas pemerintahan sebagai fondasi pengelolaan nanggroe yang anti korupsi.

Dalam upaya menanggulangi persoalan korupsi, dibutuhkan para alumni Ramadhan yang terus “berpuasa”. Maraknya kecurangan dalam pemerintahan dan lingkungan masyarakat menandakan prilaku yang tidak sehat, tidak jujur dan tidak amanah. Akankah dengan bekal satu bulan Ramadhan, kondisi ini akan dapat diperbaiki secara berlahan? Sebagai seorang muslim kita harus banyak instrospeksi diri. Terpaan tingginya korupsi dengan komposisi penganut agama Islam yang mayoritas, diperkuat lagi dengan pemberlakuan syariat Islam, semestinya menjadi modal religus-sosial dalam melawan kejahatan korupsi itu.

Lebih jauh dari itu, saya mengajak pembaca untuk melihat Aceh lebih dalam lagi. Bukankan konflik berkepanjangan telah menimbulkan gejolak ekonomi dan kesejahteraan bagi masyarakat sehingga angka kemiskinan melambung tinggi di Aceh? Kemiskinan juga sebagai akibat dari manajemen pengelolaan anggaran yang sarat penyimpangan dan korupsi. Jumlah penduduk Aceh sebanyak 4.031.589 jiwa sedangkan persentase penduduk miskin mencapai 1.927.099 jiwa (49,85%) dari total penduduk Aceh tersebut. (Lihat: RPJM Aceh 2007-20012, hal. 24) Jumlah desa tertinggal di Aceh mencapai 3.155 desa dari total desa 6.219 di Aceh. Artinya, sebesar 50,73% desa adalah tertinggal. (Serambi Indonesia, 24/4/2007). Mereka menjadi kantong-kantong kemiskinan di tengah negeri endatu yang kebanjiran uang.

Orang-orang yang terus ”berpuasa”, pasti akan menerapkan keshalehan sosial, empati yang tinggi dengan segenap sumber daya yang ia miliki dalam melihat problematika kemiskinan dan keterbelakangan yang menyelimuti Aceh. Bila ini mampu kita lakukan, membaca realitas sosial dengan keshalehan sosial, maka kita telah berada dalam koridor yang tepat sebagai alumni yang sukses di bulan Ramdahan kemarin. Alumi yang terus ”berpuasa” akan mampu mentranformasikan pelajaran ibadah puasa untuk menjawab problematika kehidupan di Aceh.

Inilah tanggung jawab seorang muslim untuk membuktikan bila Islam bukan agama yang hanya mementingkan keshalehan vertikal saja, melainkan pula menekankan pentingnya keshalehan sosial. Keshalehan ini untuk memperbaiki kondisi ummat dan bangsa, khususnya Aceh yang berkutat dengan persoalan-persoalan besar yang tak kunjung usai. Oleh sebab itu, mari kita tetap ”berpuasa” sehingga kita mampu membuktikan bahwa Islam, agama yang haq ini, tidak hanya diposisikan sebagai yang bergerak di ruang privat (pribadi) saja tetapi dapat memainkan peran yang lebih besar dalam ruang publik.

Agar ketaqwaan yang kita raih membekas dalam kehidupan, sekecil apa pun ketaqwan itu, mari kita terus ”berpuasa”. Tetap ”berpuasa” menjaga kejujuran, menjaga amanah, tidak khianat, mempertahankan kesederhaaan, dan meneguhkan sikap anti korupsi dalam kehidupan 11 bulan mendatang. Alumni Ramadhan ditantang membuktikan bila agama ini juga mampu mengobati luka-luka kehidupan yang belum terpecahkan dengan baik.

Terus ”berpuasa” tanpa Ramadhan adalah modal yang tak terkira untuk menyelamatkan Aceh. Membangun kembali Serambi Mekkah dalam bingkai Islam yang tak sekadar formalitas. Jangan sampai, fitrah itu (kembali bersih lahir dan batin) hanya kita nikmati di hari-hari lebaran Idul Fitri saja. Semoga Allah SWT memberikan kekuatan agar kita terus dan tetap ”berpuasa” sekaligus dipertemukan kembali dengan Ramadhan tahun mendatang. Amin.


Abdullah Abdul Muthaleb
Alumni Fakultas Ekonomi Unsyiah,
Kini Sebagai Manager Program Monitoring Parlemen Gerakan Anti Korupsi (GeRAK) Aceh

Jumat, 24 Oktober 2008

Hari-Hari Melelahkan...

Aku tak merasa ada duka di sini. Aku tak melihat ada gelisah dalam jiwaku. Semuanya berjalan seperti air mengalir di ujung sungai. Deras, tapi kadang kala juga tersendat, tertahan karena tersandung batu-batu gunung yan gelisah. Boleh jadoi, ia juga merasakan apa yang kini menghantam sukma ini.

Hari-hari ini memang melelahkan.Tetapi..aku masih di sini! Di bumi untuk selalu menatap mentari pagi bersama lirikan angin, dan dirimu.

Kamis, 09 Oktober 2008

Dari "Ungkapan" Itu, Menunggu Keseriusan

Lama rasanya aku tak menulis lagi di sini. Karena memang aku begitu lelah sekali. Lebaran kemarin hanya sebentar di kampung halaman. Lalu, tak sampai 4 hari, aku kembali larut dalam aktivitasku. Dalam waktu yang terus berlalu, aku telah ungkapkan segalanya. Inilah maksud semua ini. Beranikan diri sebutkan kata : "tanggung jawab". Dan deretan kata demi kata lain yang semua itu sebagia bukti aku serius. Aku tak bisa sebutkan deretan itu. Aku hanya menunggu keseriusan itu dalam kata pasti. Yach, aku benar-benar menunggu!


Darussalam, 9 Oktober 2008 : 16.58 wib

Na Tinta