Kamis, 27 November 2008

Aktivis Anti Korupsi Bukan Politisi Toge...!

Untuk apa gerakan anti korupsi itu? Popularitas atau hanya kesenangan semu yang tak bedanya dengan para politisi? Politik yang telah dijadikan hobi oleh para politisi di republik ini. Akibatnya, kebijakan dan prilaku mereka bagaikan mainan yang tak punya tanggung jawab moral dan rasa malu lagi.

Ahmad Yulden Erwin (Koordinator KoAK Lampung) menegakan bahwa:

Kita hanya sebagai korban, untuk itu kita harus sadar akan hak-hak. Jangan hanya menjadi orang baik yang hanya bisa bungkam tak bersuara. Tujuan dari gerakan anti korupsi itu bukan untuk menghapuskan, mempenjarakan dan mengurangkan. Tapi tujuannya cuma satu yaitu menciptakan kader yang anti korupsi dengan perlawanan suara.

Buat kita ini adalah jalan hidup, bukan pekerjaan apalagi proyek. Kesadaran adalah matahari, kesabaran adalah bumi dan perjuangan itu adalah perwujudan kata-kata. Keadilan tak pernah ada kecuali diperjuangkan untuk menjadi ada.

(Terima kasih Bang Erwin. Kata-katamu itu adalah bagian dari semangat baru untuk diriku. Terus berjuang membangun gerakan anti korupsi di Lampung..!)

Na Tinta, dini hari menjemput Jum'at pagi.


Selasa, 25 November 2008

Dua Sore : Diskusi Anti Korupsi dan Anggaran

Dua hari lau, yaitu Sabtu dan Minggu (22 dan 23 November 2004) tetap tak menjadi hari-hari membuat pikiran ini berhenti berfikir. Dua hari, menjelang sore, aku mengisi dua materi di tempat yang berbeda dengan isu yang sama : anti korupsi dan anggaran. Tetapi, dua-duanya harus ”kudatangi” dalam hujan, membuat aku sedikit kebasahan.

Hari Sabtu itu, pukul 16.10 WIB, setelah aku sholat Ashar, aku menuju PEMA Unsyiah. Di sana aku diminta untuk berbicara tentang Memberattas Korupsi Birokrasi di Aceh. Pada saat itu, pihak Kejaksaan Tinggi Provinsi NAD yang ternyata juga diundang, membatalkan kehadirannya. Entah kenapa, aku tak mengeti. Mungkin ketika dikonfirmasi oleh panitia sambil menyebutkan juga perwakilan GeRAK Aceh juga ikut, sehingga kemudian pihak Kejaksaan Tinggi Provinsi NAD menyatakan ketidakhadirannya. Semoga ini bukan karena aku hadir dalam forum itu.

Diskusi di Aula PEMA Unsyiah tersebut berlangsung seru. Dimulai dai pukul 16.30 dan berakhir sekitar pukul 18.10 WIB. Peserta juga cukup banyak, mencapai 60 orang. Menurutku ini luar biasa, karena rata-rata adalah ”anak baru” yang berasal dari kelembagaan di Unsyiah dan IAIN Ar-Raniry berjalan ”seru”. Berbagai pertanyaan bertubi-tubi muncul sekitar pemberantaan korupsi di Aceh dan eksistensi GeRAK Aceh selama ini. Bahkan juga terhadap gerakan advokasi yang telah dimainkan selama ini.

Jujur, hampir setahun aku tak bertemu dengan ”mahasiswa”. Mahasiswa yang layak disebut mahasiswa! Selama ini aku hanya banyak bertemu dengan para pemegang Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) belaka, yang ternyata mereka kebanyakan bukan mahasiswa. Tetapi lebih patut disebut sebagai borjuis-borjuis baru yang mengatasnamakan mahasiswa.

Akhirnya, diskusi yang sebagian juga dihadiri oleh mahasis itu berkahir. Aku pamit dan pulang dengan motor milik kantor dalam gerimis. Hanya lima menit saja, aku telah tiba di rumah kembali.

Dan esok sorenya, minggu. Hujan deran mengguyur basah. Aku berpikir bahwa saat itu sulit bagiku untuk berangkat ke Permata Hati, dekat markas Serambi Indonesia. Di sana aku diminta oleh IMPACT untuk menjadi narasumber tentang Konsep Dasar Anggaran yang dikaitkan dengan Buruh. Jam sudah menunjukkan pukul 15.45 WIB. Tapi hujan tak kunjung berhenti. Akhirnya aku tetap berangkat dengan menggunakan sandal jepit, bukan sepatu. Sepatu yang biasa kupakai kumasukkan dalam bagasi motor. Nanti aja kupakai di sana, pikirku saat itu.

Aku terus memacu motorku, mampir dulu ke SPBU Lamnyoung. ”Bang, lima belas ribu aja ya?”, kataku pada seorang petugas di sana. Yup, selesai. Tancap gas aku segera menuju ke Permata Hati.

Ternyata, hujan kali ini benar-benar ”lokal”! Uch..aku berhenti dan melepaskan mantel yang kugunakan dari rumah setiba pas di depan Hotel Hermes Palace. Tak lama kemudian, aku tiba di tempat kegiatan dengan selamat. Alhamdulillah. Seketika aku ketemu panitia penyelenggara yaitu TUCC. Lembaga ini memang fokus pada isu advokasi buruh, yang kali ini mengundang para serikat buruh.

Sebelum acara dimulai, aku sholat Ashar secara berjamaah di sana. Kebetulan di TUCC ini ada salah seorang adik lettingku di kampus dulu, yang juga pernah menjadi stafku di BEM FE ketika aku berkiprah di sana tahun 2003 lalu. Satri namanya. Aku dipersilahkan menjadi iman olehnya dan beberapa anggota TUCC dan peserta training itu. Sholat usai. Alhamdulillah.

Aku mengisi training mulai pukul 16.30 sampai 18.00 WIB. Aku dihadapkan pada suasana yang tidak biasa. Ini bicara bagaimana menghubungkan antara anggaran dan hak-hak buruh (serikat pekerja)! Alhamduilllah, akhirnya aku dapat menyuguhkan informasi dan diskusi yang menurutku tidak begitu buruk. Tatapan bola mata mereka yang rata-rata memang jauh di atas usiaku, fokus pada ku yang memang masih cukup ”belia” untuk tampil di depan mereka semua. Aku berharap mereka dapat menjadikan materi yang kusampaikan menjadi bahan baru bagi lanjutan advoaksi serikat buruh se Aceh di masa yang akan datang.

Tak terasa, pas azan Magrib, alhamdulillah aku sudah tiba di rumah. Ya..Rabb, jadikanlah dua diskusi di ujung sore ini sebagai wujud tanggung jawabku dan menjadi amal sholeh bagi ku. Ampuni aku bila ada keegoan. Karena aku ingin jadi bak kupu-kupu!

Na Tinta, 23 November 2008

Kamarku Nan Sepi : 21.35 WIB

Sabtu, 15 November 2008

206 : Grand Nanggroe Hotel

Jangan bunuh aku dengan kata-kata, janji tanpa makna kejujuran di hati. Aku ingin hidup dengan jiwa nan tulus. Apa adanya.

Malam ini, aku sendiri di kamar 206. Besok pagi hingga tanggal 19 November 2008 mendatang, GeRAK Aceh menyelenggarakan training Advokasi Kasus Korupsi dan Refleksi Gerakan Anti Korupsi di Aceh. Sebagian teman-teman dari daerah sudah tiba, sebagiannya lagi masih dalam perjalanan menuju Banda Aceh.

Sambilan kuperiksa kembali persiapan untuk training besok, beberapa sms darinya kuterima. Dan tiba-tiba handphone kehabisan baterai. Entah mengapa, tiba-tiba sukma ini membisikkan sesuatu, gelisah dan tanda tanya menyeruak dalam dinding naluri ini. Semoga aku yang salah dengan perasaan ku ini. Beberapa lama kemudian, aku kembali membalas smsnya...dan "tolong bangunkan aku bila dirimu terjaga jam 03.00 atau 04.00 dinihari nanti. Aku ingin berjumpa dengan Nya, melalui sujud-sujud panjang".

Senin hingga Jumat mendatang, aku memang mesti bergabung lagi dengan Pusat Studi Gender (PSG) Unsyiah untuk melakukan training di Dinas Kehutanan dan Perkebunan Provinsi NAD. Sebelumnya, dari Senin hingga Jumat kemarin, hal yang sama juga telah kami lakukan di Dinas Kesehatan Hewan dan Peternakan Provinsi NAD. Training ini dalam rangka Studi Pengarusutamaan Gender di Sektor Pertanian di Aceh. Aku diminta untuk terlibat dalam tim PSG Unsyiah, khusus bidang gender budgeting. Setelah dinas tersebut, masih ada dua dinas lagi yang harus kami lalui bersama. Tentu, aku harus berbagi waktu : antara tanggung jawab di lembaga dengan kerja-kerja pribadiku di PSG Unsyiah.

Karena itu pula, beban kerjaku membengkak. Antara kewajiban di kantor dengan kewajiban kerja-kerjaku di luar ”sana”.

Lelah, malam ini hatiku menangis, Abby!

Grand Nanggroe Hotel : 15 Nov 2008, 23:28 WIB

Jumat, 07 November 2008

Tantangan Semakin Bertubi-Tubi, Aku Mampu?

Terasa hari tiada tepi. Tugas terus menumpuk dalam agenda. Semuanya adalah kewajiban yang harus dituntaskan dengan baik. Selain tugas kantor, juga tugas lain, yang posisinya adalah kepercayaan ekternal, pihak luar, untuk aku dapat terlibat didalamnya. Dalam waktu dekat, semua itu semakin membuatku lelah. Aku jenuh, tetapi semua ini harus membuatku mampu. Meski kadang, aku hanya tidur 3 sampai empat jam dalam kurun 24 jam.

Tubuh terasa begitu lemah. Pikiran juga juga habis, keluh dan mengeluh. Lagi-lagi, aku mesti rebahkan diri untuk menerima semua ini dengan hati yang gembira. Karena inilah duniaku!

Aku berharap dirimu dapat memahami semua ini. Aku akui, bila seringkali aku disibukkan dengan semua tanggungjawab dan dunia kerja ku. Semoga, dalam ruang waktu yang tersisa, aku masih bisa berbuat, membantumu dengan baik. Aku berusaha begitu, meski..yach..dengan hasil yang tidak maksimal. Maafkan aku...!

Tadi malam, aku kehilangan harapan. Tiada mimpi dalam tidur 3,5 jam saja.

Na Tinta, 19.32 WIB

Minggu, 02 November 2008

Ke Mana?

Ke mana sesungguhnya aku berdiri, tegak dan tak tergoyahkan lagi?
Ke mana aku mesti rebahkan hati dalam luka?

Ke mana lilin-lilin kecil itu, aku tak mau tahu...!
Karena, saat ini, aku tak ingin hidup tanpa..."Tanpa Lilin"...!
Aku ingin restu-Mu ya Rabb...

Lorong Durian, 7
02 Nov. 2008 : 14. 36 WIB

Na Tinta