Dua hari lau, yaitu Sabtu dan Minggu (22 dan 23 November 2004) tetap tak menjadi hari-hari membuat pikiran ini berhenti berfikir. Dua hari, menjelang sore, aku mengisi dua materi di tempat yang berbeda dengan isu yang sama : anti korupsi dan anggaran. Tetapi, dua-duanya harus ”kudatangi” dalam hujan, membuat aku sedikit kebasahan.
Hari Sabtu itu, pukul 16.10 WIB, setelah aku sholat Ashar, aku menuju PEMA Unsyiah. Di sana aku diminta untuk berbicara tentang Memberattas Korupsi Birokrasi di Aceh. Pada saat itu, pihak Kejaksaan Tinggi Provinsi NAD yang ternyata juga diundang, membatalkan kehadirannya. Entah kenapa, aku tak mengeti. Mungkin ketika dikonfirmasi oleh panitia sambil menyebutkan juga perwakilan GeRAK Aceh juga ikut, sehingga kemudian pihak Kejaksaan Tinggi Provinsi NAD menyatakan ketidakhadirannya. Semoga ini bukan karena aku hadir dalam forum itu.
Diskusi di Aula PEMA Unsyiah tersebut berlangsung seru. Dimulai dai pukul 16.30 dan berakhir sekitar pukul 18.10 WIB. Peserta juga cukup banyak, mencapai 60 orang. Menurutku ini luar biasa, karena rata-rata adalah ”anak baru” yang berasal dari kelembagaan di Unsyiah dan IAIN Ar-Raniry berjalan ”seru”. Berbagai pertanyaan bertubi-tubi muncul sekitar pemberantaan korupsi di Aceh dan eksistensi GeRAK Aceh selama ini. Bahkan juga terhadap gerakan advokasi yang telah dimainkan selama ini.
Jujur, hampir setahun aku tak bertemu dengan ”mahasiswa”. Mahasiswa yang layak disebut mahasiswa! Selama ini aku hanya banyak bertemu dengan para pemegang Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) belaka, yang ternyata mereka kebanyakan bukan mahasiswa. Tetapi lebih patut disebut sebagai borjuis-borjuis baru yang mengatasnamakan mahasiswa.
Akhirnya, diskusi yang sebagian juga dihadiri oleh mahasis itu berkahir. Aku pamit dan pulang dengan motor milik kantor dalam gerimis. Hanya lima menit saja, aku telah tiba di rumah kembali.
Dan esok sorenya, minggu. Hujan deran mengguyur basah. Aku berpikir bahwa saat itu sulit bagiku untuk berangkat ke Permata Hati, dekat markas Serambi Indonesia. Di sana aku diminta oleh IMPACT untuk menjadi narasumber tentang Konsep Dasar Anggaran yang dikaitkan dengan Buruh. Jam sudah menunjukkan pukul 15.45 WIB. Tapi hujan tak kunjung berhenti. Akhirnya aku tetap berangkat dengan menggunakan sandal jepit, bukan sepatu. Sepatu yang biasa kupakai kumasukkan dalam bagasi motor. Nanti aja kupakai di sana, pikirku saat itu.
Aku terus memacu motorku, mampir dulu ke SPBU Lamnyoung. ”Bang, lima belas ribu aja ya?”, kataku pada seorang petugas di sana. Yup, selesai. Tancap gas aku segera menuju ke Permata Hati.
Ternyata, hujan kali ini benar-benar ”lokal”! Uch..aku berhenti dan melepaskan mantel yang kugunakan dari rumah setiba pas di depan Hotel Hermes Palace. Tak lama kemudian, aku tiba di tempat kegiatan dengan selamat. Alhamdulillah. Seketika aku ketemu panitia penyelenggara yaitu TUCC. Lembaga ini memang fokus pada isu advokasi buruh, yang kali ini mengundang para serikat buruh.
Sebelum acara dimulai, aku sholat Ashar secara berjamaah di sana. Kebetulan di TUCC ini ada salah seorang adik lettingku di kampus dulu, yang juga pernah menjadi stafku di BEM FE ketika aku berkiprah di sana tahun 2003 lalu. Satri namanya. Aku dipersilahkan menjadi iman olehnya dan beberapa anggota TUCC dan peserta training itu. Sholat usai. Alhamdulillah.
Aku mengisi training mulai pukul 16.30 sampai 18.00 WIB. Aku dihadapkan pada suasana yang tidak biasa. Ini bicara bagaimana menghubungkan antara anggaran dan hak-hak buruh (serikat pekerja)! Alhamduilllah, akhirnya aku dapat menyuguhkan informasi dan diskusi yang menurutku tidak begitu buruk. Tatapan bola mata mereka yang rata-rata memang jauh di atas usiaku, fokus pada ku yang memang masih cukup ”belia” untuk tampil di depan mereka semua. Aku berharap mereka dapat menjadikan materi yang kusampaikan menjadi bahan baru bagi lanjutan advoaksi serikat buruh se Aceh di masa yang akan datang.
Tak terasa, pas azan Magrib, alhamdulillah aku sudah tiba di rumah. Ya..Rabb, jadikanlah dua diskusi di ujung sore ini sebagai wujud tanggung jawabku dan menjadi amal sholeh bagi ku. Ampuni aku bila ada keegoan. Karena aku ingin jadi bak kupu-kupu!
Na Tinta, 23 November 2008
Kamarku Nan Sepi : 21.35 WIB