Senin, 07 September 2009

Ramadhan; Pendidikan Spritual Melawan Korupsi

Sadar atau tidak, banyak diantara kaum muslimin yang terjebak untuk berjuang sekuat tenaga agar dapat tidak korupsi, dan sejenisnya hanya ketika bulan Ramdahan. Padahal sikap tersebut bukan hanya haram di bulan suci ini saja sehingga di sebelas bulan selanjutnya kita bebas berbuat curang. Ini hanya sekedar renungan bersama bila ”Ramadhan” seyogyanya tetap ada sepanjang tahun. Sebuah perjalanan spiritual yang dihubungkan dengan buruknya moralitas bangsa, khususnya Aceh yang tingkat korupsinya masih lumayan tinggi. Ada apa ini, di tengah berjibunnya umat Islam di Aceh? Mengapa ini terus terjadi, padahal setiap saat pelaku pemerintahan, hingga kita sebagai rakyat biasa terus berpuasa Ramadhan, setiap waktu bersujud di rumah Allah SWT? Akan tetapi, praktik kecurangan terus bertebaran di mana-mana! Di kantor pemerintah, di pasar, di sawah, di warung kopi hingga ke tempat-tempat berdimensi agama sekalipun.

Gugat Jiwa Kita
Di luar agenda penegakan hukum yang dilakukan pemerintah, korupsi harus dipandang sebagai salah satu agenda moral masyarakat. Artinya, pemberantasan korupsi tidak saja dengan cara memberikan hukuman kepada koruptor namun lebih penting dari itu adalah bagaimana membangun kultural yang mampu menghilangkan jalur merebaknya nilai-nilai korupsi. Usaha untuk membangun kesadaran sosial agar menolak segala praktik curang di segala tingkatan sosial dalam masyarakat, cukup penting dilakukan.

Masih tingginya korupsidi Aceh, menunjukan betapa selama ini kita selaku muslim tidak terlalu ambil pusing terhadap kejahatan korupsi. Ternyata, saya melihat tidak ada hubungan keselehan dalam keberagaman dengan pengurangan kejahatan korupsi ketika semuanya masih sebatas ”ritual” saja! Sholat rajin, korupsi juga jalan terus. Puasa oke, rampok uang negara tak juga berhenti. Artinya, tidak ada kelemahan dalam Islam-nya, tapi yang jadi permasalahan adalah kualitas ”iman” seorang muslim yang terjangkit banyak virus jahat dalam jiwanya.

Islam memiliki ragam mekanisme yang cukup komprehensif untuk membangun kesadaran moral agar benar-benar menolak setiap praktik korupsi, sekecil apa pun. Salah satunya adalah Ramadhan. Bulan ini datang untuk mensucikan manusia, mulai dari fisik hingga prilaku, karakter atau watak ummatnya. Ramadhan adalah ”kampus rehabilitasi spritual”. Akan tetapi, pesan ajaran Islam pun masih dipahami secara normatif bahwa Islam melarang korupsi saja. Dan pada saat yang sama, posisi ulama, pesantren, kampus-kampus ”spritulal” buatan manusia, dan segala perangkat sejenisnya masih belum maksimal dalam mengaktualisasikan pesan moral agama, khususnya dalam hal penangan penyakit korupsi tersebut.

Khusus untuk Aceh, menurut saya kita nampaknya lebih ”enjoy” dengan penegakan syariat Islam yang berkutat pada bungkusan khalwat, judi, minuman keras. Kita memberikan ”cambukan” bagi pelakunya. Sekali lagi, saya tidak anti syariat, karena itu juga sebagai bagian dari komitmen kita sebagai seorang muslim! Namun alangkah arifnya apabila kita juga serius untuk merealisasikan syariat yang bukan hanya untuk wong cilik saja! Rakyat kecil bertanya : bukankah wong licik (semisal para koruptor) sebagai penjarah uang rakyat harus diberikan pelajaran setimpal dalam dimensi syariat?

Puasa dan Pendidikan Anti Korupsi
Puasa Ramadhan adalah puasa yang dilakoni muslim dengan panggilan Allah SWT melalui Surah Al-Baqarah ayat 183 : ”Hai orang-orang beriman, diwajibakan atas kamu berpuasa sebagaimana yang telah diwajibkan kepada umat-umat sebelum kamu, semoga kamu bertaqwa”. Ayat Allah SWT ini pun berkaitan erat dengan sabda Rasullulah bila ”begitu banyak orang yang berpuasa namun ia tidak mendapatkan pahala apa-apa, melainkan lapar dan dahaga saja”.

Nah, apabila setiap pribadi muslim, terpanggil untuk menunaikan ibadah puasa kerena cahaya iman , niscaya ia tidak akan sekedar mendapatkan haus dan lapar dari puasanya itu, melainkan juga akan mendapatkan sebuah benteng kejujuran batin yang tidak ada bandingannya. Benteng kejujuran yang mampu mendidik dia untuk menjadi pribadi yang takut kepada Allah SWT di mana pun ia berada. Andai ia menjadi pejabat negara, maka ia akan dan tetap menjadi pejabat negara yang bersih. Bila ia menjadi wakil rakyat, maka ia pun adalah sosok yang jujur dan bebas dari korupsi. Bila jadi petani, akan menjadi petani yang jujur. Menjadi pedagang, maka akan menjadi seorang pedagang yang jujur. Intinya, kita semua menjadi pribadi yang jujur!

Orang berpuasa, tantangan terbesar adalah ketika kejujurannya dipaksa bertarung dengan segala bentuk keinginan yang kebanyakan pada bulan lainnya adalah halal. Bayangkanlah ketika sepiring nasi yang halal, miliknya sendiri, tidak akan dimakannya ketika puasa karena ia harus jujur kepada Allah SWT, Malaikat dan Rasul-Nya. Ia tetap sabar hingga waktu imsa’ tiba. Sepasang suami isteri (maaf,) juga harus menahan nafsu birahinya ketika siang hari karena itu adalah haram. Mereka berjuang dengan kejujuran kepada Illahi, meskipun mereka telah akad nikah. Mereka berdua tetap tabah menunggu hingga waktu malam menjelma.

Banyak petani yang tidak ”mencuri” air dari sawah petani yang lain. Para pedagang yang menjual barang-barang di pasar terlihat jujur dan lebih sopan dalam melayani pembeli. Timbangan barang diperhatikan seakurat mungkin. Pegawai pemerintah terlihat memberikan pelayanan lebih maksimal kepada masyarakat di bulan Ramadhan. Kata orang, tidak ada ”kutipan”, ”uang kopi”, atau ”pelicin” untuk proses administrasi. Semuanya berjalan dengan baik. Pertanyaan, apakah ini hanya berlaku di bulan Ramadhan?

Penutup
Allah SWT menguji sekaligus memberi pelajaran kejujuran yang luar biasa dalam Ramadhan. Tidak ada kurikulum pendidikan di dunia yang mampu menandingi proses pembentukan kejujuran seperti ini. Kita bisa menahan diri dari sesuatu yang halal, namun mengapa ketika puasa usai kita tidak dapat melawan sesuatu yang sudah jelas-jelas haram hukumnya? Apakah nilai-nilai kejujuran ini akan bertahan ketika Ramadhan telah pergi? Apakah pula, puasa tahun ini juga akan memperbaiki jati diri kita untuk lebih jujur, menolak setiap praktik kecurangan?

Saya berlindung kepada Allah SWT, semoga saya tidak hanya mengajak muslim yang lain agar konsisten dengan nilai-nilai kejujuran yang Insya Allah SWT akan kita raih di ujung Ramadhan nanti. Akan tetapi, dengan izin-Nya, semoga saya tetap konsisten di jalan ini. Karena, Allah SWT dengan tegas menyebutkan dalam Al -Qur’an: ”Janganlah kamu mengatakan apa yang tidak kamu sendiri tidak perbuat. Sesungguhnya sangat besar azhab Allah SWT kepada mereka yang berprilaku demikian”. ***

Note: Tulisan ini disadur kembali dari tulisan penulis yang sudah pernah dimuat di Kolom Opini Harian Serambi Indonesia, edisi 16 Oktober 2006 dengan judul “No Corruption in Ramdhan”. Hasil saduran ini sudha dimuat dalam Bulletin "PEUTRANG" yang diterbitkan oleh Perkumpulan Meumada, September 2009

Sabtu, 29 Agustus 2009

“Bersyukurlah"


Andaikan suatu ketika kamu memancing ikan di sebuah kolam, setelah ikan itu terlekat di mata kail, hendaklah kamu mengambil ikan itu. Janganlah sesekali kamu lepaskan ia kembali ke dalam air begitu saja karena ia akan sakit akibat ketajaman mata kailmu. Dan mungkin ia akan menderita selagi ia masih hidup. Begitulah juga setelah kamu memberi banyak pengharapan kepada seseorang. Setelah ia mulai mencurahkan pengorbanan untukmu, hendaklah kamu menjaga kepercayaannya. Suatu ketika dia akan terluka oleh kenangan bersamamu. anganlah sesekali kamu meninggalkannya begitu saja tanpa ada alasan yang kuat dari rasional. Ingat: dengan alasan yang kuat dan rasional..!!

Bila dirimu menadah air biarlah berpada, jangan terlalu mengharap pada takungannya dan janganlah menganggap ia begitu teguh. Cukuplah sekadar keperluanmu. Apabila sekali ia retak, tentu sukar untuk kamu menampalnya semula. Akhirnya ia dibuang. Sedangkan jika kamu coba memperbaikinya mungkin ia masih dapat dipergunakan lagi.

Begitu juga jika kamu memiliki seseorang, terimalah seadanya. Janganlah kamu terlalu mengaguminya. Dan janganlah kamu menganggapnya begitu istimewa. Anggaplah dia manusia biasa. Apa adanya. Apabila sekali dia melakukan kesilapan bukan mudah bagi kamu untuk menerimanya. Akhirnya kamu kecewa dan meninggalkannya. Sedangkan jika kamu memaafkannya boleh jadi hubungan kamu akan terus berjalan hingga ke akhirnya. Ingatlah, tiada manusia yang sempurna di dunia fana ini.

Semua ini juga harus dirimu terapkan dalam pergaulanmu sehari-hari, dengan siapa pun itu. Ingat, dengan siapa pun, jangan membanding-bandingkan seorang sahabat dari pangkatnya, jabatannya, status sosialnya, atau wajahnya. Semua orang punya kebaikan dalam jiwannya, tinggal bagimu saya bagaimana melihat sisi kebaikan itu.
Jika kamu telah memiliki sepinggan nasi yang kamu pasti baik untuk dirimu. Mengapa kamu berlengah, coba mencari makanan yang lain. Terlalu ingin mengejar kelezatan. Kelak, nasi itu akan basi dan kamu tidak boleh memakannya. Kamu akan menyesal. Mengapa kamu tidak bersikap qana’ah? Merasa cukup dengan pemberian Allah? Dalam segala hal, hendaknya kamu bersikat begitu! Bila tidak, sungguh sepanjang umurmu, batin akan terus mengejar nafsu tak terkira. Dan sana tiada bahagian yang dirimu raih. Semua akan menjadi semu.

Sering kita sedih karena tidak bisa membeli baju baru dalam kurun waktu tiga bulan, atau enam bulan sekali. Tidak jarang kita putus asa karena tidak mendapatkan makanan lezat di akhir pekan. Dan berkeluh kesah karena belum mendapatkan prestasi dan pekerjaan yang mapan. Kita lupa, atau sengaja tak mengingat tentang nasib orang-orang lain di sekitar kita. Banyak saudara kita yang sepanjang tahun tak mampu membeli baju baru (sedangkan kita terus menumpuk baju baru, sehingga lemari pun tak sanggup lagi menampungnya). Makanan mereka jauh dari standar gizi yang baik. Nasib mereka jauh dari prestasi dan pekerjaan yang layak. Tapi mengapa dirimu masih berkeluh kesah dalam hidup? Dimana rasa syukurmu kepada Rabbi?

Begitu juga jika kamu telah bertemu dengan seorang insan yang pasti membawa kebaikan kepada dirimu. Mengapa kamu berlengah, coba membandingkannya dengan yang lain. Terlalu mengejar kesempurnaan. Kelak, kamu akan kehilangannya, kamu juga yang akan menyesal. Tiada yang sempuna di dunia ini. Dalam segala hal. Terimalah hidup ini dengan senyum bahagia. Bekerja, berdoa dan bertakwaqal kepada Allah, sungguh sebuah pembuktian seorang hamba-Nya yang pandai bersyukur. Niscaya hidupmu akan penuh dengan kebaikan.

“Goresan kata di atas pada prinspinya dikirimkan oleh seorang sahabatku, sekitar tiga tahun yang lalu. Terima kasih atas seluruh nasehatnya. Dirimu harus yakin bila tiada maksud untuk “mengguruiku”, di sini. Malah aku yang mesti bersyukur kepada Allah karena masih ada sahabat (seorang junior) yang dengan cukup santun telah menegurku”. (Cukup lama sudah tidak bertemu, kapan bisa ngopi bareng lagi d Ulee Kareng?)

Beberapa bagian dalam tulisan ini telah aku revisi, semoga dapat menjadi ibrah juga bagi teman-teman yang membaca tulisan ini. Dan aku telah mencobanya, meski aku akui semua ini sulit kulakukan. Tak seindah goresan kata-katamu itu, sobat...!! Doakan aku untuk terus mampu.


Selasa, 16 Juni 2009

Bila Aku Gelisah Ini Tak Terbaca


Bila aku diterpa gelisah yang tak menentu,
di sana ada tebaran pasir kerinduan beradu dengan ombak ketidakpastian
apakah aku terserat mimpi-mimpi lalu?
atau semua ini hanya permainan angin kebekuan
ketika suara-suara sendu membalut kesunyian jiwa?

Aku hanya berharap gelisah ini tak melingkariku
dari ujung pantai ini hingga seluruh samudera
dari bibir pantai yang ada
dari semua mimpi-mimpi yang pernah terajut
sebelum bersatu dalam kepingan asaku.

Bila gelisah ini tak terbaca,
biarlah aku berlari
dan terus berlari sendiri.

Na Tinta,

16 Juni 2009 : 21.12 WIB

Senin, 04 Mei 2009

Bersama SUKIMAH di Lampuuk


Minggu, 3 Mei 2009. Aku bersama beberapa teman ku di BEM FE dulu berbagi cerita di Pantai Lampuuk. Lama sudah tak bertemu. Meski hanya dihadiri oleh beberapa personil SUKIMAH, reuni kali ini memang luar biasa.


Biar pun hujan. Biar pun berangkat dari rumah Anggun hampir jam 11. 00 siang. Biar pun pulangnya buru-buru..! Tapi aku menikmati acara yang kita gagas bersama. Terima kasih ya..sahabatku.


Na Tinta, 4 Mei 2009 : 20.40 WIB



Senin, 06 April 2009

Salahkah Aku...

Salahkah aku ketika aku mengkhawatirkanmu...
kadang aku sering bertanya,
meski sering juga tak segera, bahkan ada kala tak kudapati jawaban darimu..!

Aku sadari bila itu tak mudah bagimu,
tapi itulah aku, sahabatku..!
semoga dirimu memahami semua ini

Keluh kesahku, kekhawatiranku..
adalah butiran asa yang ingin semuanya
kucurahkan untukmu..

Na Tinta, 7 April 2009

Minggu, 15 Februari 2009

KABAR DARI GeRAK Aceh

Guna mendorong perbaikan pelayanan publik bidang PENDIDIKAN dan KESEHATAN di Aceh, termasuk di Kota Banda Aceh, kami dari Gerakan Anti Korupsi (GeRAK) Aceh mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk peduli dan ikut bertanggungjawab didalamnya. Inilah bentuk peran serta masyarakat guna memperbaiki PELAYANAN PUBLIK yang selama ini MASIH BERMASALAH.

Bila Anda Memiliki Keluhan atau Saran Untuk Memperbaiki
Pelayanan Publik di Bidang PENDIDIKAN dan KESEHATAN,
Segera Hubungi ke Hotline Kami melalui SMS dan Telepon

0651-7465777 (Pendidikan) dan 0651-7465666 (Kesehatan)

Email :
antikorupsiaceh@yahoo.com
Situs : www.gerakaceh.org

Suara Anda Menjadi INFORMASI Bagi Kami
untuk Menggagas Reformasi Pelayanan Publik di Aceh

Pesan ini disampaikan oleh:
Gerakan Anti Korupsi (GeRAK) Aceh
Dengan Dukungan ICCO