Andaikan suatu ketika kamu memancing ikan di sebuah kolam, setelah ikan itu terlekat di mata kail, hendaklah kamu mengambil ikan itu. Janganlah sesekali kamu lepaskan ia kembali ke dalam air begitu saja karena ia akan sakit akibat ketajaman mata kailmu. Dan mungkin ia akan menderita selagi ia masih hidup. Begitulah juga setelah kamu memberi banyak pengharapan kepada seseorang. Setelah ia mulai mencurahkan pengorbanan untukmu, hendaklah kamu menjaga kepercayaannya. Suatu ketika dia akan terluka oleh kenangan bersamamu. anganlah sesekali kamu meninggalkannya begitu saja tanpa ada alasan yang kuat dari rasional. Ingat: dengan alasan yang kuat dan rasional..!!
Bila dirimu menadah air biarlah berpada, jangan terlalu mengharap pada takungannya dan janganlah menganggap ia begitu teguh. Cukuplah sekadar keperluanmu. Apabila sekali ia retak, tentu sukar untuk kamu menampalnya semula. Akhirnya ia dibuang. Sedangkan jika kamu coba memperbaikinya mungkin ia masih dapat dipergunakan lagi.
Begitu juga jika kamu memiliki seseorang, terimalah seadanya. Janganlah kamu terlalu mengaguminya. Dan janganlah kamu menganggapnya begitu istimewa. Anggaplah dia manusia biasa. Apa adanya. Apabila sekali dia melakukan kesilapan bukan mudah bagi kamu untuk menerimanya. Akhirnya kamu kecewa dan meninggalkannya. Sedangkan jika kamu memaafkannya boleh jadi hubungan kamu akan terus berjalan hingga ke akhirnya. Ingatlah, tiada manusia yang sempurna di dunia fana ini.
Semua ini juga harus dirimu terapkan dalam pergaulanmu sehari-hari, dengan siapa pun itu. Ingat, dengan siapa pun, jangan membanding-bandingkan seorang sahabat dari pangkatnya, jabatannya, status sosialnya, atau wajahnya. Semua orang punya kebaikan dalam jiwannya, tinggal bagimu saya bagaimana melihat sisi kebaikan itu.
Jika kamu telah memiliki sepinggan nasi yang kamu pasti baik untuk dirimu. Mengapa kamu berlengah, coba mencari makanan yang lain. Terlalu ingin mengejar kelezatan. Kelak, nasi itu akan basi dan kamu tidak boleh memakannya. Kamu akan menyesal. Mengapa kamu tidak bersikap qana’ah? Merasa cukup dengan pemberian Allah? Dalam segala hal, hendaknya kamu bersikat begitu! Bila tidak, sungguh sepanjang umurmu, batin akan terus mengejar nafsu tak terkira. Dan sana tiada bahagian yang dirimu raih. Semua akan menjadi semu.
Sering kita sedih karena tidak bisa membeli baju baru dalam kurun waktu tiga bulan, atau enam bulan sekali. Tidak jarang kita putus asa karena tidak mendapatkan makanan lezat di akhir pekan. Dan berkeluh kesah karena belum mendapatkan prestasi dan pekerjaan yang mapan. Kita lupa, atau sengaja tak mengingat tentang nasib orang-orang lain di sekitar kita. Banyak saudara kita yang sepanjang tahun tak mampu membeli baju baru (sedangkan kita terus menumpuk baju baru, sehingga lemari pun tak sanggup lagi menampungnya). Makanan mereka jauh dari standar gizi yang baik. Nasib mereka jauh dari prestasi dan pekerjaan yang layak. Tapi mengapa dirimu masih berkeluh kesah dalam hidup? Dimana rasa syukurmu kepada Rabbi?
Begitu juga jika kamu telah bertemu dengan seorang insan yang pasti membawa kebaikan kepada dirimu. Mengapa kamu berlengah, coba membandingkannya dengan yang lain. Terlalu mengejar kesempurnaan. Kelak, kamu akan kehilangannya, kamu juga yang akan menyesal. Tiada yang sempuna di dunia ini. Dalam segala hal. Terimalah hidup ini dengan senyum bahagia. Bekerja, berdoa dan bertakwaqal kepada Allah, sungguh sebuah pembuktian seorang hamba-Nya yang pandai bersyukur. Niscaya hidupmu akan penuh dengan kebaikan.
“Goresan kata di atas pada prinspinya dikirimkan oleh seorang sahabatku, sekitar tiga tahun yang lalu. Terima kasih atas seluruh nasehatnya. Dirimu harus yakin bila tiada maksud untuk “mengguruiku”, di sini. Malah aku yang mesti bersyukur kepada Allah karena masih ada sahabat (seorang junior) yang dengan cukup santun telah menegurku”. (Cukup lama sudah tidak bertemu, kapan bisa ngopi bareng lagi d Ulee Kareng?)
Beberapa bagian dalam tulisan ini telah aku revisi, semoga dapat menjadi ibrah juga bagi teman-teman yang membaca tulisan ini. Dan aku telah mencobanya, meski aku akui semua ini sulit kulakukan. Tak seindah goresan kata-katamu itu, sobat...!! Doakan aku untuk terus mampu.