Kamis, 25 Februari 2010

"...Menjadi Pribadi yang Baik Saja Tidak Cukup, Sobat..."

Ada sebuah cerita lama yang beberapa hari ini kembali memaksaku berpikir. Kisah yang pernah kualami dalam sebuah perjalanan dari Jakarta menuju Bandung, Juli tahun 2006 silam. Sebuah travel, yang melaju kencang dengan penumpang diriku dan seseorang yang bagiku cukup spesial itu, sepertinya bukan kisah biasa. Seorang lelaki separuh baya, yang cukup mirip dengan seorang presiden yang paling dikahwatirkan oleh dunia barat itu, menjabat tanganku erat. Ia baru pulang dari Singapura. Dirinya lebih dari sepuluh tahun sudah berdomisili di sana dan kebetulan pulang kampung : Bandung.
Aku lupa namanya, tetapi aku belum bisa melupakan kata-kata yang tegas sarat makna. Suaranya yang rada serak, bercerita panjang tentang kehidupan demokrasi lintas-dunia, pergerakan mahasiswa hingga isu anti korupsi. Aku tahu, dia bukan sembarangan orang. Kaya dengan referensi, rasional dan membumi. Konon lagi ketika dia akhirnya tahu, setelah aku bercerita bila aku akan menghadiri pertemuan nasional sebuah kementerian yang terkait isu ini di Bandung. Ia diam dan memandangku begitu dalam.
Hujan turun berlahan, membasahi kaca mobil yang sebelumnya kepanasan. Aku tak banyak bicara, hanya mencoba menjadi pendengar yang baik baginya. Bahkan sampai aku sempat tertidur, dan anehnya dia membangunkanku dengan senyum. Dirimu kelelahan, Abdul? Sapanya lembut sambil menawarkan air mineral dalam botol sedang itu. Aku menjawab tidak sambil membalas senyumnya itu.
Kota Bandung tinggal beberapa kilometer lagi. Entah apa maksudnya, ia kembali menjadi sosok yang misterius bagiku, sampai saat ini. Apalagi kata-kata itu kini kembali menyeretku pada fakta hidupku sendiri. Atau mungkin, Anda salah satunya.
Sambil memegang bahuku, pria yang aslinya dari Solo itu berujar pelan. Suasana semakin hening, suara azan Magrib sayup-sayup terdengar pelan.
”Abdul, terserah kamu mau percaya atau tidak. Suatu saat nanti, kau harus siap menjadi diri yang menyingkir, atau disingkirkan. Saat-saat demikian, yang terjadi adalah surplus keegoan yang begitu melebar. Saat demikian, jangan pernah kau harap akan ada ketulusan, kesetiaan, apalagi pengorbanan yang ingin kau dapati dari orang-orang sekelilingmu. Karena menjadi ”pribadi yang baik saja” tidak cukup, Abdul.
Aku terdiam, tiada suara. Dan aku tak tahu pasti atas maksud apa seseorang yang kukenal dalam travel itu mengajakku diskusi soal kehidupan. Soal ketulusan, pengorbanan, kesetian dan demokrasi, dan kata-kata lain yang mirip dengan itu semua. Aku kembali tersenyum, dan menyalaminya kembali. Pamit, aku lebih dulu tiba di sebuah penginapan. Beberapa saat kemudian, travel itu pun menghilang dalam sibuknya jalan raya kota Bandung.
***
Setelah lebih dari tiga tahun lamanya, cerita antara Jakarta – Bandung itu kembali ”mengusik” perjalanan hidupku sebulan terakhir. Konon lagi ketika kudengarkan kisah-kisah insan sekitarku. Aku sadar bila itulah hidup. Betapa pun bersarnya surplus keegoan, bukan halangan bagi diriku, Anda dan kita semua untuk tetap berbuat yang terbaik. Ikhlas menebarkan kebaikan untuk orang-orang terdekat, insan-insan terbaik yang telah mengisi diary-diary kehidupan kita.
Bila boleh saya mengajak kita semua untuk kembali merenung sejenak. Kita mesti sadar, bila
”Baik Saja, Tidak Cukup”. Karena memang faktanya, tidak sedikit orang-orang yang dikenal baik, yang kita temui dalam kehidupan ini, ternyata mereka tersisih, memungut sendiri kelukaaan. Tapi apakah tujuan hidup untuk ditempatkan dalam dongeng-dongeng penuh sanjungan? Saya yakin, bukan. Perjalanan hidup bukan untuk menjadi kisah dongeng, tetapi fakta yang dibentuk dan dipengaruhi oleh apa yang kita pikirkan sendiri.
Jika kita sadar, bila ”Baik Saja, Tidak Cukup” maka janganlah bersedih ketika jam dinding berhenti berputar karena ada asa yang kandas. Ada harapan yang belum tercapai. Ada kerinduan yang tiba-tiba basah dan terseret air bah secara tiba-tiba. Tiada jawaban yang diharap. Sirnanya janji-janji yang di lain hari berubah dusta, meski tiada diakui sebagai kebohongan menyakitkan. Ada puluhan alasan dengan dalih begitu rasional, padahal wajah dari keegoan.
”Baik Saja, Tidak Cukup”. Setiap pribadi yang matang dengan kedewaasan diri tentu selalu siap untuk tersingkir, atau malah disingkirkan. Di saat itu telah menyatu dengan diri, sebenarnya kita adalah pribadi yang sedang menuju surplus kesabaran. Tetaplah tersenyum, dan teruslah menjadi ”Pribadi yang Baik”. Biar pun semua itu tak mengubah keputusan atas harapan. Tak mungkin mengoreksi lagi persepsi-persepsi semu yang dibangun dengan logika belaka.
Teruslah menjadi pribadi yang baik. Mengumpulkan pundi surplus jiwa besar dalam hidup. Lalu biarkanlah kerinduan yang telah mengepung jiwa, luruh dan basah kuyup dalam hujan malam ini.
Tanjung Slamat,
5 Januari 201019.54 WIB

CINTA DALAM PERSAHABATAN : DERETAN KATA YANG MEMBUATKU MASIH TERSENYUM (Catatan di Sebuah Warung Kopi, Sudut Kota Tua)

Siapa yang bisa torehkan dugaan dalam asa,
di saat kesunyian yang bergerak, merangkak pelan
dari satu atma ke atma yang lain,
akhirnya terhenti:
nafas tertahan lama dalam rongga
ada beberapa jiwa yang ingin merengkuh satu asa yang sama.

Kisah yang kusaksikan malam ini,
begitu sering kudengar,
bahkan ketika diriku di bangku sekolah
para pujangga yang ingin merebahkan diri
dalam satu hati

Nafas itu, karena dalam lilitan persahabatan
ada yang terkulai
meski puluhan, atau mungkin ribuan pesan
telah berubahnwujud menjadi bahasa kalbu
tapi keduanya tak saling bicara dari dulu.

Adakah yang salah?
ketika mereka yang selama ini
tersenyum, bercerita dan saling bergandengan tangan
suatu waktu
melewati aliran sungai nan deras, dengan air menguning
dengan perahu yang merayap sunyi di tengah malam
akhirnya bertemu di ujung muara
dengan tujuan pijakan tepian di batu yang sama?

Akh, aku merasa berduka dengan cerita ini
di ujung meja, dengan secangkir kopi yang semakin dingin
dan asap rokok yang kian liar menutup wajahku
sembari aku berpura-pura,
seperti harus buru-buru membaca sebuah pesan
dari handpoheku.

Kulihat wajah mereka yang saling utarakan isi hati
memerah, atau (mungkin) akan ada butiran air mata
yang sengaja ditahan, agar terjatuh
aku merasakan itu begitu dalam, sambil mencicipi pisang goreng
di warung kopi, sudut kota tua.

Selama akan tetap ada perahu jiwa yang ingin ikhlas
siapa pun yang pertama, membuktikan keseriusannya
atau malah yang punya kepercayaan
untuk bersama di tepi sungai itu
tetaplah jadi sahabat sejati
karena semuanya hanya karena waktu saja!

Hampir empat jam aku di sini
malam pun telah merambat,
dalam deruan kendaraan yang penuh sesak.

Aku lagi-lagi berharap
agar kata yang masih membuatku masih tersenyum
kata cinta dalam persahabatan,
masih kutemui dalam aliran sungai ini
dengan puluhan perahu yang lain,
yang mungkin tak kutemua malam ini.


25 Desember 2009, 21.10 WIB

GORESAN DIAKHIR TAHUN (Catatan Na Tina : Untuk Seseorang yang Sedang Tersenyum)

Hari-hari dalam rumah 2009, pelan-pelan menutupkan pintunya,
teramat singkat yang terasa, tapi tak perlu kutertawakan diri,
atau membiarkan buliran air mata melukiskan cerita luka
memahatkan kisah di atas wajah ini.

Januari baru akan memperlihat rupanya,
dan aku masih di sini, menorehkan impian yang berantakan
setelah ratusan hari berharap
semua kandas, lesukan darah dalam nadi.

Hari-hari baru pun akan merekah
menjadi semangat biru
mengukuhkan rasa ini setelah seseorang yang hadir tiba-tiba,
bak mengetuk pintu kamarku dalam keheningan
aku membalasnya tanpa kata-kata.

Akhir tahun akan merekamkan jejak
dalam ribuah pesan yang terhapuskan
aku seperti layu penuh, air tumpah dalam gelas keraguan.

Pagi dan malam panjang, dalam warna baru bakal menjelang
ingin kutancapkan diri, berdiri kokoh seperti gunung yang menghujam
ke perut bumi paling dalam
menanti senyum (lagi), mengubahnya menjadi nyata
dalam rumah kerinduan sepanjang waktu.

Tahun baru, tahun pertaruhan dan pergumulan waktu
dari seseorang, untuk seseorang
yang datang dari ujung pulau, kini hadir menepi

Catatan ini, catatan hati seorang na tinta
untuk kehidupan dan keabadian senyuman.

31 Desember 2000
Lamgugob 7 : 14.53 WIB

Kehilangan (yang Tak) Kuharapkan

Ada deretan kata yang sulit kuungkapkan
dalam pelataran hati yang terbingkai janji
waktu semakin jauh meninggalkan diriku
sendiri, tiada jawaban lagi
saat tanya demi tanya terlempar jauh dari dinding malam.

Jujur, tak kuharapkan (bakal) kehilangan ini
percikan asa yang terendam dalam keegoan
semoga bukan (sebab) itu
aku tak hendaki, tak pernah ingin kudengar lagi
biarlah semua jadi kisah terakhir.

Bila seekor kupu-kupu kecil diterima di tengah sabana
hanya karena iba yang tak sanggup lagi terbang
menari-nari di bumi
lepaskan ia segera dari kepungan angin kencang
biar dirinya terbang, meskipun akan jatuh
tak bangkit lagi.

Karena aku kupu-kupu yang akan terus terbang,
menembus waktu
menghilang dari pandangan.

Teramat sulit berjalan dalam sunyi
meski ribuan pesan telah terorehkan dan bicara hati
semua itu bakal menepi,
karena diterima belum tentu diharapkan, bukan?

Setiap kehilangan, apa pun itu
harus kusambut dengan ikhlas,
sikap kesatria cinta dan jiwa
yang pernah diajarkan ayah dan ibu
ketika menemukanku suatu hari
menangis tersedu-sedu, karena kaki berdarah
tersandung batu, 23 tahun yang lalu.

Dan tiada terasa, kini Oktober ini pun segera berakhir,
bulan bahagia yang tak kutemui untaian kata
aku terlupakan dalam jejak waktu.

Waktunya telah tiba,
aku harus bersiap-siap berangkat,
menepi di sebuah persimpangan
pelabuhan kehidupan,
menjemput bakal kehilangan (yang tak) kuharapkan.

Aku akan memilih untuk segera menepi
memberikan ketetapan, agar aku tak jadi penghalang
meraih semua impian,
yang dengan sang kupu-kupu patah sayap
semua itu tak akan mampu diraih.

Dunia ini kembali menuliskan kisahnya
Kisah tragis untuk seorang pemuda:
”Jangan pernah berharap,
untuk menanti mimpi berubah wajah menjadi cita-cita,
ketika rel kereta kehidupan tak di pahami dalam satu kata”

Hening, di malam yang jauh sepi.

Tanjung Slamat, 24 Oktober 2009
Dini Hari, 02.25 WIB