Ada sebuah cerita lama yang beberapa hari ini kembali memaksaku berpikir. Kisah yang pernah kualami dalam sebuah perjalanan dari Jakarta menuju Bandung, Juli tahun 2006 silam. Sebuah travel, yang melaju kencang dengan penumpang diriku dan seseorang yang bagiku cukup spesial itu, sepertinya bukan kisah biasa. Seorang lelaki separuh baya, yang cukup mirip dengan seorang presiden yang paling dikahwatirkan oleh dunia barat itu, menjabat tanganku erat. Ia baru pulang dari Singapura. Dirinya lebih dari sepuluh tahun sudah berdomisili di sana dan kebetulan pulang kampung : Bandung.
Aku lupa namanya, tetapi aku belum bisa melupakan kata-kata yang tegas sarat makna. Suaranya yang rada serak, bercerita panjang tentang kehidupan demokrasi lintas-dunia, pergerakan mahasiswa hingga isu anti korupsi. Aku tahu, dia bukan sembarangan orang. Kaya dengan referensi, rasional dan membumi. Konon lagi ketika dia akhirnya tahu, setelah aku bercerita bila aku akan menghadiri pertemuan nasional sebuah kementerian yang terkait isu ini di Bandung. Ia diam dan memandangku begitu dalam.
Hujan turun berlahan, membasahi kaca mobil yang sebelumnya kepanasan. Aku tak banyak bicara, hanya mencoba menjadi pendengar yang baik baginya. Bahkan sampai aku sempat tertidur, dan anehnya dia membangunkanku dengan senyum. Dirimu kelelahan, Abdul? Sapanya lembut sambil menawarkan air mineral dalam botol sedang itu. Aku menjawab tidak sambil membalas senyumnya itu.
Kota Bandung tinggal beberapa kilometer lagi. Entah apa maksudnya, ia kembali menjadi sosok yang misterius bagiku, sampai saat ini. Apalagi kata-kata itu kini kembali menyeretku pada fakta hidupku sendiri. Atau mungkin, Anda salah satunya.
Sambil memegang bahuku, pria yang aslinya dari Solo itu berujar pelan. Suasana semakin hening, suara azan Magrib sayup-sayup terdengar pelan.
”Abdul, terserah kamu mau percaya atau tidak. Suatu saat nanti, kau harus siap menjadi diri yang menyingkir, atau disingkirkan. Saat-saat demikian, yang terjadi adalah surplus keegoan yang begitu melebar. Saat demikian, jangan pernah kau harap akan ada ketulusan, kesetiaan, apalagi pengorbanan yang ingin kau dapati dari orang-orang sekelilingmu. Karena menjadi ”pribadi yang baik saja” tidak cukup, Abdul.
Aku terdiam, tiada suara. Dan aku tak tahu pasti atas maksud apa seseorang yang kukenal dalam travel itu mengajakku diskusi soal kehidupan. Soal ketulusan, pengorbanan, kesetian dan demokrasi, dan kata-kata lain yang mirip dengan itu semua. Aku kembali tersenyum, dan menyalaminya kembali. Pamit, aku lebih dulu tiba di sebuah penginapan. Beberapa saat kemudian, travel itu pun menghilang dalam sibuknya jalan raya kota Bandung.
***
Setelah lebih dari tiga tahun lamanya, cerita antara Jakarta – Bandung itu kembali ”mengusik” perjalanan hidupku sebulan terakhir. Konon lagi ketika kudengarkan kisah-kisah insan sekitarku. Aku sadar bila itulah hidup. Betapa pun bersarnya surplus keegoan, bukan halangan bagi diriku, Anda dan kita semua untuk tetap berbuat yang terbaik. Ikhlas menebarkan kebaikan untuk orang-orang terdekat, insan-insan terbaik yang telah mengisi diary-diary kehidupan kita.
Bila boleh saya mengajak kita semua untuk kembali merenung sejenak. Kita mesti sadar, bila
”Baik Saja, Tidak Cukup”. Karena memang faktanya, tidak sedikit orang-orang yang dikenal baik, yang kita temui dalam kehidupan ini, ternyata mereka tersisih, memungut sendiri kelukaaan. Tapi apakah tujuan hidup untuk ditempatkan dalam dongeng-dongeng penuh sanjungan? Saya yakin, bukan. Perjalanan hidup bukan untuk menjadi kisah dongeng, tetapi fakta yang dibentuk dan dipengaruhi oleh apa yang kita pikirkan sendiri.
Jika kita sadar, bila ”Baik Saja, Tidak Cukup” maka janganlah bersedih ketika jam dinding berhenti berputar karena ada asa yang kandas. Ada harapan yang belum tercapai. Ada kerinduan yang tiba-tiba basah dan terseret air bah secara tiba-tiba. Tiada jawaban yang diharap. Sirnanya janji-janji yang di lain hari berubah dusta, meski tiada diakui sebagai kebohongan menyakitkan. Ada puluhan alasan dengan dalih begitu rasional, padahal wajah dari keegoan.
”Baik Saja, Tidak Cukup”. Setiap pribadi yang matang dengan kedewaasan diri tentu selalu siap untuk tersingkir, atau malah disingkirkan. Di saat itu telah menyatu dengan diri, sebenarnya kita adalah pribadi yang sedang menuju surplus kesabaran. Tetaplah tersenyum, dan teruslah menjadi ”Pribadi yang Baik”. Biar pun semua itu tak mengubah keputusan atas harapan. Tak mungkin mengoreksi lagi persepsi-persepsi semu yang dibangun dengan logika belaka.
Teruslah menjadi pribadi yang baik. Mengumpulkan pundi surplus jiwa besar dalam hidup. Lalu biarkanlah kerinduan yang telah mengepung jiwa, luruh dan basah kuyup dalam hujan malam ini.
Tanjung Slamat,
5 Januari 201019.54 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar