Mengapa? Karena kehidupan itu dimulai dari proses berpikir! Dengan berfikir, kita akan terus membaca. Ingatlah firman Allah SWT : Bacalah dengan menyembut nama Tuhan-mu! Bukankah itu sebuah perintah yang menunjukkan betapapentingnya berfikir yang dilandasi dengan membaca. Tak sekedar buku-buku uraikan kata-kata, melainkan bacalah segala fenomena alam sekitarnya. Boleh jadi itubernama bencana alam, dunia politik, kehidupan sosial atau apa pun namanya! Bacalah ayat-ayat Tuhan-mu meski hanya beberapa ayat menjelang tidurmu. Karena itulah pembersih hati yang saban hari tergores dengan prasangka dandosa-dosa.Ibarat cermin yang terkena debu, begitu pula hati kita dan prilaku yang selalu melewati hari demi hari. Tanpa berusaha berdoa mengharapampunan setiap waktu, maka "debu-debu" itu akan sulit terhapuskan lagi. Bukankah nyawa kita tak berada di tangan kita? Melainkan dalam genggaman Allah SWT?
Kamis, 11 September 2008
Berfikirlah, Temanku..
Mengapa? Karena kehidupan itu dimulai dari proses berpikir! Dengan berfikir, kita akan terus membaca. Ingatlah firman Allah SWT : Bacalah dengan menyembut nama Tuhan-mu! Bukankah itu sebuah perintah yang menunjukkan betapapentingnya berfikir yang dilandasi dengan membaca. Tak sekedar buku-buku uraikan kata-kata, melainkan bacalah segala fenomena alam sekitarnya. Boleh jadi itubernama bencana alam, dunia politik, kehidupan sosial atau apa pun namanya! Bacalah ayat-ayat Tuhan-mu meski hanya beberapa ayat menjelang tidurmu. Karena itulah pembersih hati yang saban hari tergores dengan prasangka dandosa-dosa.Ibarat cermin yang terkena debu, begitu pula hati kita dan prilaku yang selalu melewati hari demi hari. Tanpa berusaha berdoa mengharapampunan setiap waktu, maka "debu-debu" itu akan sulit terhapuskan lagi. Bukankah nyawa kita tak berada di tangan kita? Melainkan dalam genggaman Allah SWT?
Minggu, 07 September 2008
Keumala....!
Siapakah kiranya dirimu?
Yang sanggup menentukan rasa hati
Tidakkah engkau mengerti?
Memang cintalah yang telah melanda diri
Jangan kausangsikan itu
Dengan bersembunyi di balik kelambu
Cinta akan terus menembus
Walau seakan kau mampu bertumpu
(Dikutip dari Novel PEREMPUAN KEUMALA, Sebuah Epos Untuk Nanggroe, hal 52-53 karya Endang Moerdopo)
Banda Aceh, 8 Agustus 2008 : 11.14 WIB
Rabu, 03 September 2008
Kemunafikan Dalam Tubuhku
Bulan suci ini tiba. Mengetuk kebekuan jiwaku yang selama ini sulit berlari dari berbagai warna kehidupan. Aku sadari, bila aku masih "munafik". Aku belum mampu, benar-benar berkuasa, untuk membebaskan diri ini dari segala prilaku kemunafikan itu. Aku tak dapat bersembunyi dari itu semua. Kadang aku menangis meminta ampunan dosa pada-Mu, tapi di lain waktu aku kembali bersetubuh dengan dosa dan dosa! Aku malu pada Engkau.
Karena itu pula, aku ingin dengan Ramadhan tahun ini, aku kembali berjuang untuk mengikis kemunafikan yang ada. Meskipun karatan yang mampu kusingkirkan masih jauh dari harapanku. Aku hanya mampu berusaha, berdoa dan bertaqwakal atas jalan-jalan yang telah kulalui. Saban waktu menghantam naluri kemunafikan itu. Kepada-Mu yang Rabb..diri ini berserah diri!
Biarlah aku sendiri yang "mendeklarasikan diri ini bila aku belum bisa disebut sebagai pribadi yang bebas dari kemunafikan. Ya Allah, bantu aku untuk sembuhkan penyakit jiwa ini. Karena aku sadar, kemunafikan adalah teroris hati yang menjadi topeng, membuat kebohongan, kepalsuan, dusta-dusta, yang pada akhirnya mengumpulkan dosa-dosa, sebagai beban yang memeberatkanku di akhirat kelak. Aku mohon bimbingan-Mu ya Rabb. Bersama Ramadhan aku mencoba merintis diri, mengobati hati, jiwa dan raga dari kemelut kemunafikan ini.
Banda Aceh, 3 September 2008 : 15.58 WIB