Kamis, 25 Februari 2010

Kehilangan (yang Tak) Kuharapkan

Ada deretan kata yang sulit kuungkapkan
dalam pelataran hati yang terbingkai janji
waktu semakin jauh meninggalkan diriku
sendiri, tiada jawaban lagi
saat tanya demi tanya terlempar jauh dari dinding malam.

Jujur, tak kuharapkan (bakal) kehilangan ini
percikan asa yang terendam dalam keegoan
semoga bukan (sebab) itu
aku tak hendaki, tak pernah ingin kudengar lagi
biarlah semua jadi kisah terakhir.

Bila seekor kupu-kupu kecil diterima di tengah sabana
hanya karena iba yang tak sanggup lagi terbang
menari-nari di bumi
lepaskan ia segera dari kepungan angin kencang
biar dirinya terbang, meskipun akan jatuh
tak bangkit lagi.

Karena aku kupu-kupu yang akan terus terbang,
menembus waktu
menghilang dari pandangan.

Teramat sulit berjalan dalam sunyi
meski ribuan pesan telah terorehkan dan bicara hati
semua itu bakal menepi,
karena diterima belum tentu diharapkan, bukan?

Setiap kehilangan, apa pun itu
harus kusambut dengan ikhlas,
sikap kesatria cinta dan jiwa
yang pernah diajarkan ayah dan ibu
ketika menemukanku suatu hari
menangis tersedu-sedu, karena kaki berdarah
tersandung batu, 23 tahun yang lalu.

Dan tiada terasa, kini Oktober ini pun segera berakhir,
bulan bahagia yang tak kutemui untaian kata
aku terlupakan dalam jejak waktu.

Waktunya telah tiba,
aku harus bersiap-siap berangkat,
menepi di sebuah persimpangan
pelabuhan kehidupan,
menjemput bakal kehilangan (yang tak) kuharapkan.

Aku akan memilih untuk segera menepi
memberikan ketetapan, agar aku tak jadi penghalang
meraih semua impian,
yang dengan sang kupu-kupu patah sayap
semua itu tak akan mampu diraih.

Dunia ini kembali menuliskan kisahnya
Kisah tragis untuk seorang pemuda:
”Jangan pernah berharap,
untuk menanti mimpi berubah wajah menjadi cita-cita,
ketika rel kereta kehidupan tak di pahami dalam satu kata”

Hening, di malam yang jauh sepi.

Tanjung Slamat, 24 Oktober 2009
Dini Hari, 02.25 WIB

Tidak ada komentar: