Dalam kurun waktu sebulan terakhir, begitu sulit nafasku bernafas. Aku lelah. Bergerak dari satu bumi menuju tanah yang lain. Antar pulau, antar daratan. Banyak hal yang kusaksikan. Dari Puncak Bogor, Danau Toba hingga Sibolga. Esok malam, aku ke Calang lagi. Kota yang hancur luluh lantak karena bencana. Semua aktivitas ini adalah untuk menunaikan tugas-tugasku. Tanggung jawab moral untuk menjalankan sebuah amanah. Nafasku seperti berkata. Istirahat sejenak, bung! Tapi sabarlah dirimu, kata ku malam itu. Perjalanan ini hanya sebentar saja. Akhir bulan ini, aku akan bisa tidur malam lebih lelap. Kita bisa sms-san lagi. Sabar..sabarlah, temanku!
Aku tahu, dirimu mungkin sedikit lelah memahami aku, temanku. Tapi sadarilah bila aku telah hidup dalam dunia seperti ini. Aku tak bisa diam dan meninggalkan semua ini dengan tiba-tiba! Seringkali aku mencoba diam! Toh, semua itu butuh waktu. Karena itu pula, sabarlah ketika selularku tak tersambung oleh dirimu, temanku.
Aku percaya, semua ini menuju kedewasaan dan kematangan kita dalam mengarungi hidup ini. Hidup kita. Hidup keluarga kita. Karena itu pula, diri ini mengabdi dan mengambil peran dalam hidup ini. Untuk seorang ibu, yang kini terus menungguku. Aku pulang tanpa muka yang sedih lagi. Di Dayah Teungoh, desa kecil yang telah menempaku dari bocah hingga mampu berkata-kata. Hingga kini aku mampu "bicara" dan berteriak lantang. Mengenal dirimu dari waktu ke waktu. Namun aku percaya, dirimu sebagai sosok temanku mampu pahami seluruh gerakan hidupku.
Dalam raga hingga jiwaku! Aku percaya dirimu mampu, sobat! Sahabatku, mengertilah aku!
Banda Aceh, 3 Juni 2008 : 16.35
Aku tahu, dirimu mungkin sedikit lelah memahami aku, temanku. Tapi sadarilah bila aku telah hidup dalam dunia seperti ini. Aku tak bisa diam dan meninggalkan semua ini dengan tiba-tiba! Seringkali aku mencoba diam! Toh, semua itu butuh waktu. Karena itu pula, sabarlah ketika selularku tak tersambung oleh dirimu, temanku.
Aku percaya, semua ini menuju kedewasaan dan kematangan kita dalam mengarungi hidup ini. Hidup kita. Hidup keluarga kita. Karena itu pula, diri ini mengabdi dan mengambil peran dalam hidup ini. Untuk seorang ibu, yang kini terus menungguku. Aku pulang tanpa muka yang sedih lagi. Di Dayah Teungoh, desa kecil yang telah menempaku dari bocah hingga mampu berkata-kata. Hingga kini aku mampu "bicara" dan berteriak lantang. Mengenal dirimu dari waktu ke waktu. Namun aku percaya, dirimu sebagai sosok temanku mampu pahami seluruh gerakan hidupku.
Dalam raga hingga jiwaku! Aku percaya dirimu mampu, sobat! Sahabatku, mengertilah aku!
Banda Aceh, 3 Juni 2008 : 16.35
Tidak ada komentar:
Posting Komentar